. TKA TPA AL BANNA [ انسان مسلم ]: 03/15/12
Have an account?

Kamis, 15 Maret 2012

Di Balik yang Dekat



Oleh Bahtiar HS

Saya mendekati taksi biru itu. Sebenarnya saya ragu, karena Kramat Raya bukan jarak yang jauh dari Cempaka Emas, tempat saya berdiri sekarang ini. Paling 10-15 menit sudah sampai. Jarak sedekat itu tentu tidak sebanding dengan lamanya sopir taksi tersebut mangkal di tempat ini. Oleh karenanya, saya sudah bersiap untuk tidak kecewa.

Saya buka pintu belakang taksi itu.

"Kramat Raya, Pak?" tanya saya setengah ragu. "Mari, Pak!" kata sopir taksi itu mengiyakan, tanpa berpikir sejenakpun.

Tentu saja saya gembira, karena tidak menyangka lelaki itu bakal mau mengantar.

Saya segera naik ke jok belakang, menutup pintu. Taksi pun melaju. Sebentar kemudian berputar 180 derajat di perempatan Cempaka Putih. Sekarang melaju ke arah Senen.

"Kok Bapak mau ke Kramat? Kan jaraknya dekat aja, Pak?" tanya saya memancing.

"Kita kan tidak pernah tahu ada apa di balik yang dekat itu, Pak," katanya sejenak kemudian. Senyumnya saya lihat di spion atas kepalanya. "Jika penumpang yang jarak dekat tidak diambil, rasanya seperti tidak menghargai Tuhan yang membagi rezeki buat kita."

Berkata bijak ternyata bukan hanya monopoli kaum filosof. Tetapi juga bisa keluar dari mulut Firmansyah, begitu nama yang terpampang di dashboard, seorang sopir taksi bersahaja yang saya temui pagi ini.

Maka meluncurlah cerita "filosof" yang sopir taksi itu.

"Saya banyak mengalami, kadang memang rasanya gimana gitu ketika sudah lama ngantri, ternyata dapat penumpang yang dekat," katanya sembari menarik napas perlahan. "Dapat lagi, dekat lagi. Dapat lagi, dekat lagi."

Saya cuma tersenyum. Tentu saja saya bisa merasakan "duka" itu. Seperti kita mengharapkan durian runtuh, tetapi apa daya jika kenari yang ternyata melayang jatuh.

"Tetapi, tak jarang," imbuh lelaki itu, "saya dapat yang dekat-dekat, tetapi berkali-kali. Juga pernah sekalinya dapat yang jauh, tetapi setelah itu baliknya tidak membawa penumpang sama sekali."

Ia tersenyum di tengah klakson jembatan layang menuju Kemayoran.

Saya mengangguk-angguk.

"Yah, artinya lebih baik terima saja yang masuk ke taksi, entah jurusan dekat ataupun jauh," kata saya. "Karena kita tidak pernah tahu, setelah itu dapat rezeki dalam bentuk apa lagi."

***

Beberapa hari berikutnya, saya menumpang taksi dari tempat dan dengan tujuan yang sama. Kali ini Bluebird, langganan saya.

"Kok Bapak mau mengantar penumpang dengan tujuan yang dekat seperti saya?" tanya saya memancing. Taksi sedang melaju ke arah Senen. Saya mencomot roti sarapan pagi dengan sekotak minuman dingin.

Ia tertawa.

"Jangankan Kramat Raya, Pak," katanya bersemangat, "bahkan saya pernah mengantar orang dari Cempaka Emas ke Ruko Cempaka Emas!"

"O, ya?" sergah saya heran. Jarak itu tak lebih dari selemparan lembing atau sebidikan panah. "Argo Bapak bahkan mungkin tidak sempat bergerak dari angka awal lima ribu perak, dong?"

"Yah, waktu itu sedang macet sih. Sempat nyampai enam ribu rupiah."

Saya mengangguk-angguk. Saya berandai-andai. Lima belas persen dari enam ribu tak lebih dari seribu rupiah. Itu yang dia dapat untuk mengantar penumpang sedekat itu, buah dari mengantri di pool mungkin setengah hari.

"Belum lagi ketika kembali ke pool, ternyata sudah penuh," katanya menerawang. "Harus berputar dulu tiga-empat kali untuk dapat antrian lagi."

"Wah, susah juga, ya Pak?" timpal saya. Sudah dapat yang sangat dekat, kembali ke pool antri di paling belakang lagi. Itu pun setelah muter lebih dulu.

"Ya. Bahkan saya pernah, sudah mengantri di belakang, diserobot teman lagi," katanya enteng, bahkan cenderung riang. "Saya sih pasrah saja. Tidak lama, teman saya mendapat penumpang dengan tujuan Patra Jasa. Sebentar kemudian, seorang penumpang mengetok pintu mobil saya. Cikarang, Pak? Tentu saja saya ambil karena jaraknya jauh, berlipat-lipat dibandingkan Patra Jasa."

Saya ikut tersenyum mendengar ceritanya. "Itu semua buah dari keikhlasan, Pak."

"Alhamdulillah, saya nggak pernah menolak penumpang sedekat apapun tujuan mereka. Saya yakin, Allah memberikan rezeki saya dengan cara yang demikian. Kadang sedikit, kadang banyak. Saya tidak pilih-pilih."

Demikianlah Pak Endang, begitu namanya terpampang di dashboard, menyimpulkan. Sebuah kesimpulan sederhana yang tidak sesederhana maknanya.

***

Saya banyak belajar dari kedua orang itu, Pak Firmansyah dan Pak Endang; sopir-sopir taksi yang sederhana. Mereka masih "menghargai Tuhan", begitu bahasa mereka. Caranya sungguh sangat sederhana: mengantarkan penumpang yang naik taksi mereka, meski dekat sekalipun jaraknya. Menolak penumpang, sama saja dengan menolak rezeki yang sudah Allah hidangkan di hadapan. Menolak penumpang, sama halnya tidak menghargai Sang Pembagi Rezeki. Karenanya, tidak ada yang sepatutnya harus dilakukan, bagi mereka, kecuali ikhlas mengantar.

Terbukti dalam berbagai kesempatan mengantar penumpang yang dekat itu, ternyata sambung-menyambung dengan penumpang yang turun naik; begitu satu penumpang turun, ada yang langsung naik. Bahkan tak jarang, banyak penumpang jarak dekat yang memberikan "uang lebih" berkat kesediaan mereka mengantar tanpa mengeluh. Jumlahnya sering lebih banyak ketimbang persentase yang mereka terima dari mengantar penumpang jarak jauh. Jarak dekat, karenanya tidak lantas identik dengan rezeki cekak.

Sungguh sebuah sikap hidup yang, kata orang Jawa, sumarah. Pasrah, tetapi bukan layaknya wayang. Dalam bahasa agama, barangkali inilah pengejawantahan sikap tawakal setelah berazam. Bukan sikap pasrah yang salah-kaprah; yang sering salah dipahami sebagai "pulung sugih pulung mlarat". Kalau Tuhan menakdirkan kita kaya, tanpa berusaha pun, kita akan kaya. Kalau ditakdir miskin, bekerja keras peras-keringat-banting-tulang sekalipun ibaratnya, tetap akan miskin.

Saya lantas teringat dengan sebuah hadits, bahwa Allah itu tergantung pada persangkaaan (dzon) hamba pada-Nya. Kedua lelaki di atas, dalam pandangan saya, telah memberikan persangkaan yang baik pada rencana Tuhan di balik penumpang yang dekat itu. Ketika sopir yang lain menyangka "rugi" ketika harus mengantar penumpang yang dekat, keduanya tidak pernah berprasangka demikian.

Boleh jadi keduanya tidak hapal dengan ayat Al-Qur'an tentang rezeki yang min haitsu laa yahtasib. Tetapi saya yakin, keduanya, juga kita, paham bahwa rezeki itu datangnya bisa tidak disangka-sangka. Tetapi sementara kedua sopir di atas sudah mempraktekkan pemahaman itu di kehidupan keseharian, kita sendiri barangkali masih berkutat pada tataran teori.

Jika Nabi Musa pernah belajar kepada Khidir, kita yang bukan siapa-siapa ini tak ada salahnya belajar pada orang-orang sederhana seperti kedua sopir taksi di atas. Benar juga sebuah tulisan yang say a baca terpampang di sebuah Sekolah Merdeka di tepi Ranu Klakah Lumajang, dan selalu terpatri dalam ingatan saya hingga kini: jika semua tempat adalah sekolah, maka setiap orang adalah guru. Dan Pak Firmansyah serta Pak Endang, adalah guru saya hari ini.

Wa Allahu a'lamu bi ash-shawab.

Bahtiar HS, Ketua FLP Jatim 2004-2006bahtiarhs.multiply.com
readmore »»  

Ayahku, Idolaku



Oleh Bayu Gawtama

Saya akan senantiasa mengecup kening, pipi dan ubun-ubun kepalanya di pagi, siang, dan malam hari. Sejak ia baru membuka matanya di waktu fajar hingga menjelang menutup mata. Bahkan saya bangunkan ia dengan beberapa kecupan hangat, agar senyum manisnya lah yang membuka paginya. Andai ia tahu, di setiap pertengahan malam saat ia terlelap dibuai mimpi pun akan selalu ada kecupan lembut menghangatinya. Saya lakukan itu agar sampai kapanpun ia takkan pernah lupa, ada sosok penuh cinta yang setiap tuturnya bermakna sayang, dan setiap dengusan nafasnya berarti kasih.

Saya akan menjadi apapun untuknya. Kadang menjadi harimau yang menerjang-nerjang dengan auman keras yang membuatnya berteriak, sesekali menjadi kodok yang melompat-lompat lucu, atau menjadi burung yang hinggap dari satu ranting ke ranting lainnya. Pagi hari menjadi ayam ber-kukuruyuk membelah fajar dan malamnya menjadi bintang-bintang yang menemani tidurnya hingga malam berlalu. Saya tak akan bosan mendongeng untuknya kapan pun, dimana pun, kalau perlu sampai ia bosan. Walau pun saya tahu, sebanyak apapun cerita yang saya dongengkan, ia takkan pernah bosan. Baginya, sayalah pendongeng terhebat di dunia. Yang mampu membuatnya tertawa tergelak dan terkekeh, kadang membuatnya menjerit ketakutan, atau memaksanya mengeluarkan air mata.

Berangkat bersama fafar yang beranjak pergi, pulang dari kantor ditemani lampu jalan dan dinginnya malam. Pekerjaan apa pun rela saya tempuhi untuk sebuah keyakinan ia mendapatkan makanan yang baik, cukup dan halal, setidaknya untuk hari ini. Untuk sebuah harapan agar ia mendapatkan pendidikan yang layak untuk masa depannya. Inilah bentuk pengorbanan yang tak pernah saya meminta balasan apa pun darinya kelak. Bagi seorang Ayah, mendapati senyum si buah hati tetap menghiasi hari-harinya, itu sudah cukup.

Sahabat. Inilah kata yang selalu saya sebutkan kepadanya tentang siapa saya. Saya bukan sekadar Ayah baginya, melainkan sahabat. Saya akan menjadi sahabat terbaiknya, yang menyediakan hati sehamparan bumi dan telinga seluas lautan. Yang akan mendengarkan semua kesahnya dan menampung sebanyak apapun airmatanya. Yang akan bersedia menangis bersamanya saat ia sedih, dan tertawa bersamanya di hari-hari bahagianya. Yang akan senantiasa hadir untuknya kapan pun, dimanapun ia membutuhkan. Dada ini setegar karang di laut yang siap menjadi tambatan kepalanya, dengan segunung persoalan yang dihadapinya.

Dalam setiap sujud dan tengadah jemari, namanya tak pernah alpa terucap. Sepanjang doa yang terlantun, tak pernah sekalipun namanya terlupa. Kepada Allah senantiasa terpinta agar seribu malaikat membimbing setiap jengkal langkahnya, agar sejuta cahaya tak pernah padam menerangi jalannya, dan tak terbilang tangan menjaganya dari jalan yang menyimpang. Tak jarang, airmata ini menetes tak tertahan memandang wajah polosnya, berharap tak banyak dosa yang mengotori perjalanan hidupnya, meminta tak banyak aral melintangi langkah kecilnya, dan tak tersebar onak yang akan menghambat jalannya. Kebahagiaannya, adalah kata kunci dalam setiap pinta saya kepada Allah.

Saya sadar betul, tak patut berharap ia akan membalas cinta seperti yang saya curahkan kepadanya. Apalah lagi menakar-nakar agar ia tahu betapa tak terhitung kasih yang saya berikan kepadanya. Pun tak mungkin saya menuntutnya untuk mengganti semua peluh yang bercucuran untuknya. Tak sedikit pun saya meminta bayaran untuk setiap airmata yang luruh sepanjang hidupnya semenjak kecil. Bukan karena saya tahu ia takkan pernah sanggup membayarnya, tapi sekadar ia tahu bahwa cinta ini begitu tulus, jujur, bersih namun sederhana. Tak ada yang sanggup menggantinya, berapapun yang ditawarkannya.

Sungguh, saya melakukan ini semua demi satu harapan. Kelak sampai kapan pun ia tak perlu mencari figur lain yang ia banggakan, tak sulit untuk menyebut sosok yang ia dambakan kehadirannya, yang ia tangisi kepergiannya. Karena, sampai kapan pun ia akan berkata kepada dunia, “Ayahku, Idolaku”.

Coretan kecil untuk anak-anak Abi

gawtama.blogspot.com
readmore »»  

Bila Waktunya Telah Tiba



Oleh Muhammad Hisyam

Masih terngiang di telinga saya teriakan-teriakannya yang berusaha mencuri perhatian, gaya-gayanya yang mengundang gelak tawa, atau pertanyaan-pertanyaanya yang sangat berbeda dengan anak-anak usia sebayanya, aktifitasnya yang lincah, bahkan tidak sedetik pun diam kecuali di situ dia mengerjakan satu permainan. Terkadang saya dibuatnya terheran-heran atas kecerdasannya melihat sebuah persoalan. Sampai suatu saat ketika ayahnya ’tidak pulang’ selama 2 hari, dia berkata-kata dengan tembok, ”Kok ayah ndak pulang ya, apa ayah marah sama saya, Ma”. Sangat lucu.

Ya, dia adalah putra dan putri sahabat saya. Keluarga muda yang hidup penuh kesederhanaan, kearifan dan kesabaran mengahadapi setiap masalah. Sebuah keluarga yang selalu menjadikan keimanan dan ketakwaan dalam melandasi setiap pemecahan problem tak terkecuali terhadap anak-anak mereka.

Sabtu yang lalu, saya berkunjung ke rumahnya. Di kawasan sekitar perumahan Tidar. Waktu itu tujuan saya berkunjung yang pertama adalah silaturahmi, kedua saya memang ingin berkenalan dengan putra putrinya yang setiap hari saya lihat di layar chating-nya, ketiga saya ingin belajar kepadanya karena dalam waktu dekat ini saya akan melangsungkan pernikahan, jadi sebagai studi banding untuk kehidupan keluarga yang akan saya bina kelak.

Saya tiba di rumahnya sekitar jam 14.15 WIB. Biasanya jam ’segitu’ saya masih asyik dengan tut-tut di papan keyboard saya. Tapi karena hari itu Sabtu, saya kerja setengah hari saja, sehingga waktu yang tersisa saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di rumahnya, saya disambut oleh ’ocehan’ anak pertamanya yang sangat luar biasa. Saya katakan luar biasa karena umumnya anak seusianya cenderung menutup diri dengan kehadiran orang-orang asing di sekitarnya. Tapi tidak dengan anak ini, ia begitu berani menunjukkan eksistensi dirinya di hadapan saya, dengan gayanya khas anak-anak, ia berbicara ’melebihi ambang batas’ karena memang demikianlah anak-anak, suka mencuri perhatian orang asing dan saya hanya tersenyum senang melihatnya. Muhammad Husein Haekal namanya, sungguh indah. Saya sempat teringat dengan nama seorang pengarang buku Sirah Nabi dan buku-buku ke-Islaman lainnya ”Muhammad Khair Haekal”. Semoga kelak engkau seperti beliau atau bahkan melebihinya.

Tanpa terasa, waktu menunjukkan pukul 15.00, saatnya Haekal harus mengaji Al-Quraan di sebuah TPQ yang tidak jauh dari rumahnya. Tanpa ba bi bu dan beralasan, ketika mamanya mengajaknya mandi, subhanallah, ia langsung mengerjakannya dan begitu penurut. Sampai akhirnya ia berangkat. Selang beberapa waktu, bidadari kecil sahabat saya terbangun dari mimpinya yang indah, Hafshah dia punya nama. Namun ia masih malu-malu menyambut kehadiran saya, maklum, biasanya bangun tidur memang demikian adanya, tak terkecuali orang dewasa. Tapi saya tetap berusaha agar dia menerima kehadiran saya dan lambat laun kontak kami mulai ada meskipun sang putri malu masih menghinggapi dirinya.

Kebetulan hari itu hujan rintik-rintik, saat yang tepat untuk makan yang hangat-hangat. Alhamdulillah, penjual tahu campur lewat. Sahabat saya pesan dua mangkok besar, satu untuk saya dan satunya untuk dirinya sendiri. Tapi bukan tahu campur dan mangkok besarnya yang menjadi perhatian saya, tapi saat kami makan yang bikin saya cemburu dan iri bahkan ingin segera meraihnya. Ya..., dia begitu kasih, begitu sayang menyuapi sang bidadari kecilnya. Ya Allah, berikanlah saya keluarga yang di dalamnya ada cinta, kasih dan kemesraan yang bersemi indah. Berikan saya buah hati yang dengannya hati kami semakin dekat dengan_Mu, memuji akan Kebesaran_Mu dan syukur atas Karunia_Mu.

Akhirnya waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB, saatnya Haekal pulang dari mengaji. Ia pulang membawa oleh-oleh untuk dirinya dan adiknya. Saya lihat mereka begitu rukun, saling berbagi dengan makanan yang sama, kuning telur puyuh dengan sedikit saus dan kecap dalam sebuah plastik kecil, 500 rupiah harganya.

Saat itu mulailah saya melihat sepasang ’atlet’ mulai beraksi. Locat sana sini, naik sana sini, terkadang tiduran di lantai, naik sepeda pancal, mobil-mobilan dengan mouse, naik motor untuk ojek-ojekan, main plorotan di busa kasur dan banyak lagi yang lainnya. Capekkah mereka, tentu jawabannya tidak. Karena memang sesusia mereka adalah masa-masa aktifnya, masa-masa emas untuk menanamkan pelajaran dan pengetahuan karena kebersihan hati dan otaknya. Saya pun sampaikan ke sahabat saya ”Mas, anak kecil itu kebalikan dari orang tua. Kalo anak kecil lincah dan gesit berarti dia sehat, kalo diam saja berarti dia lagi sakit. Beda dengan orang tua, kalo ada orang tua lincah dan gesit berati dia lagi sakit, tapi kalo diam dan tidak banyak ’tingkah’ berarti dia sehat.”

Waktu pulang pun tiba karena memang tidak ada rencana untuk menginap. Saya berpamitan kepada semua anggota keluarga sahabat saya. Dalam perjalanan pulang, suatu keanehan menghinggapi diri saya, rindu dalam dada saya seolah-olah memuncak, perasaan saya seolah tak ingin jauh dari mereka berdua, Haekal & Hafshah. Bahkan sebelum sampai di rumah, saya mampir ke sebuah wartel untuk menelpon ke rumah sang sahabat. Saya ingin mendengar suara-suara lucu mereka, jawaban-jawaban polos yang mereka berikan seakan menambah besar kerinduan ini.

Ya Allah, sudah waktunya kah saya? Sudahkah saya harus bersiap diri untuk menerima amanah darimu? Sudah waktunya kah saya membangun dan membina sebuah keluarga yang di dalamnya ada sakinah, mawaddah dan rahmah? Keluarga yang menjadikan setiap orang bahagia ketika melihatnya. Keluarga yang akan menguatkan dan memperteguh perjuangan ini. Keluarga yang akan menjadi tameng bagi kami untuk terhindar dari kemaksiatan kepada-Mu?

Ya Allah, jika benar dugaan kami sebagai seorang hamba, maka berikanlah Ya Allah bagi kami kemudahan untuk meraihnya, tunjukkan kami jalan yang lurus untuk menggapainya, bimbinglah hati kami senantiasa agar keluarga yang kami miliki menjadi keluarga teladan sebagaimana keluarga yang dimiliki oleh junjungan kami, Rasulullah Muhammad SAW. Jadikanlah keluarga kami menjadi penerang hati kami dikala kami tersesat dari jalan-Mu. Jadikanlah keluarga kami menjadi jalan untuk meraih surga-Mu, bukan menjadi jalan bagi kami untuk terjerumus ke dalam neraka-Mu.

Wahai sahabat, marilah bersama-sama kita membangun keluarga kita dengan landasan agama. Kita jadikan keluarga kita sebagai wasilah untuk saling menasehati dikala diri terjerembab dalam lubang kelalaian. Karena istri & anak-anak kita merupakan amanah dari Allah yang harus senantiasa kita jaga. Sekali lagi, mari kita jadikan keluarga kita sebagai keluarga Sakinah, Mawaddah Wa Rahmah. Amin

sazad_5 at yahoo dot com
readmore »»  

Cinta Putih



Oleh Bayu Gawtama

“Ini siapa yang makan kue tidak dihabiskan?” tanya saya kepada isteri malam itu. Di meja makan, terdapat sepotong kue yang tak habis termakan. "Itu potongan untuk Abang. Anak-anak dapat kue dari tetangga siang tadi, tapi mereka ingin membaginya untuk, Abi," jelas isteri saya. "Ini Hufha, ini buat dede Iqna, ini Ummi, dan ini buat Abi," begitu katanya setelah memotong empat bagian kue itu. Anak-anak sudah tidur, semoga dalam mimpinya mereka melihat saya menikmati kue yang sengaja disisakannya. Saya selalu ingat setiap kali anak-anak mendapatkan kue atau makanan enak lainnya, mereka tak lupa menelepon saya di kantor untuk sekadar memberitahu kalau saya tak perlu khawatir, karena mereka akan menyisihkannya untuk saya.

Pagi hari, pertanyaan pertama anak-anak adalah, "Kuenya dimakan nggak, bi?"

***

Saya pernah diprotes isteri karena pulang terlambat. Padahal sebelumnya saya sudah berjanji untuk mengajak mereka jalan-jalan ke mall. Setiap akhir bulan, anak-anak sudah hafal betul jadwal belanja bulanan kami. Meski masih terlalu kecil, mudah bagi mereka menandakan waktunya belanja bulanan. Jika persediaan susu mereka sudah menipis, itulah waktunya belanja. Saya menjanjikan akhir pekan ini akan mengajak mereka berbelanja, itu yang membuat mereka rela menahan kantuk tidak tidur siang karena takut ditinggal. Walaupun waktu belanja kami biasanya sesudah maghrib, sejak jam 16.00 anak-anak itu sudah cantik dengan baju pilihan mereka sendiri. Tapi, hari itu saya membuatnya kecewa. Pukul 21.15 malam saya baru tiba di rumah dan mendapati kedua anak saya terlelap di sofa masih lengkap dengan baju bagus, sepatu dan jilbab yang tak lepas.

Pagi hari, mereka tak marah. "Hari ini kerja nggak? Pulangnya jangan malam-malam ya, kan sudah janji mau ke Mall," Saya tak berani berjanji, tapi saya akan menepatinya. Sungguh.

***

"Mi, nanti kalau abi pulang bangunin ya," pesan anak pertama saya yang ingin membanggakan lima bintang yang diterimanya hari ini untuk pelajaran melukis di sekolah. Cerita isteri saya, sejak pulang sekolah kertas hasil lukisannya itu selalu dibawa-bawa dan tak boleh disentuh siapapun. Tak satu pun yang boleh melihatnya sebelum saya melihatnya dan mengatakan, "Duuh pinternya cantik abi." Setelah mandi sore, tercatat sebelas kali ia bertanya jam berapa saya pulang. Selepas Maghrib, entah untuk keberapa kali ia bertanya, "Abi kok belum pulang sih?" tentu saja dengan kertas lukisan masih di tangannya. Ia pun berjaga-jaga di sofa menunggu kepulangan saya, agar apa yang saya dapatkan begitu membuka pintu adalah wajah cerianya sambil menunjukkan lima bintang di kertas lukisannya.

Yang dinanti tak kunjung tiba. Kantuk pun tak kuasa ditahannya, lima bintang pun ikut terlelap dalam dekapannya. Hari masih terlalu dini, ia sudah bangun membawa kertas lukisannya ke kamar saya. Matanya masih terlihat mengantuk ketika ia menggugah saya, "Bi, sudah lihat gambar Hufha? Dapat bintang lima nih."

***

Pekerjaan saya saat ini banyak menyita waktu yang semestinya merupakan waktu untuk keluarga. Tak jarang mereka protes dengan kalimat, "Kerja melulu, kapan liburnya?" Ya, saya sering merasa bersalah setiap harus pergi untuk urusan pekerjaan di hari libur. Terlebih ketika harus membatalkan acara yang sudah direncanakan jauh hari. Cara mereka mengingatkan saya akan teramat banyak hutang kehadiran saya untuk mereka cukup unik, yakni dengan menyebut jumlah dongeng yang belum saya lakukan. Kalau saya pergi tiga hari, maka di malam saya menemani tidurnya, mereka akan minta saya merapel cerita jadi empat. Satu jatah malam ini, tiga cerita adalah untuk hari yang terlewati tanpa dongeng.

Kalau pun saya terlalu lelah untuk empat dongeng malam itu, mereka pun tak marah. Hanya saja, "Tapi besok jadi lima, ya."

***

Hari Minggu kemarin, saya baru pulang ke rumah pukul 20.30 malam. Siang harinya saya berjanji untuk pulang sore dan mengajak mereka beRp-putar dengan motor. Senja hampir tiba, mereka masih yakin saya akan segera pulang. Karenanya mereka menunggu saya sambil bersembunyi. Rupanya, mereka berniat mengejutkan saya dari balik pintu. Malam sudah tiba, anak-anak masih di balik pintu, kali ini mereka tak berdiri, tapi sudah duduk. Mungkin lelah menunggu. Waktu terus berjalan, sampai mereka pun terlelap di balik pintu, tak peduli kata-kata umminya bahwa saya akan terlambat pulang. "Nggak, Abi bilang sebentarkok perginya," ujar si kecil.

***

Terlalu sering saya membuat anak-anak kecewa. Namun tak pernah saya mendapatkan wajah cemberut mereka meski saya tak tahu lagi dengan cara apa mengucap maaf. Tanpa meminta maaf pun, ternyata mereka sudah lebih dulu memaafkan. Mestinya saya belajar mencinta seperti mereka, dan cinta punya mereka adalah cinta yang putih. Seputih hatinya.


gawtama.blogspot.com
readmore »»  

Hikmah di Balik Sebuah Catatan



Oleh Sus Woyo

Buku lusuh berwarna hitam. Terselip di antara tumpukan-tumpukan baju dalam rak lemari. Buku yang pada halaman pertamanya bertuliskan tinta biru agak besar dan berbunyi: Catatan Harian.

Saya tergerak untuk mengambilnya kembali. Membuka lembaran demi lembaran catatan lama. Walaupun kata Dr. Aidh Al-Qarni, penulis buku La Tahzan, buat apa membuka lembaran lama, jika hanya kesedihan yang didapat.

"Saya tiba di Brunei, pertengahan Januari 2004. Sebuah negeri kecil yang dipimpin Sultan Hasanal Bolkiah, yang bergelar Mu'izzadin Waddaulah. Begitu tiba di bandar udara, sampai ke rumah majikan, saya disodori simbol-simbol ke-Islam-an yang begitu kental. Dari tulisan Arab di jalan-jalan, bertaburannya kata assalamu'laikum dari mulut-mulut orang yang saya temui, sampai jenis pakaian Islami yang mereka kenakan."

"20 Januari, bekerja di sebuah perusahaan keluarga milik seorang haji, tapi tidak menampakkan sifat ke-haji-annya. Sebab banyak kata yang keluar dari mulutnya, sering menyakiti kami para pekerjanya. Kaligrafi ayat-yat al-Qur'an yang terpampang di dinding rumahnya, belum mampu menjadi cermin baik sang pemilik rumah tersebut."

"24 Januari, menjalani sistim kerja yang tidak memakai aturan buruh pemerintah setempat. Kami bekerja lebih dari empat belas jam sehari, tapi kelebihan waktu tak pernah dihitung overtime."

"6 Pebruari, bertemu dengan salah satu orang dari agen tenaga kerja yang memberangkatkan saya. Saya ingat betul kata-katanya yang begitu manis. Tetapi kesemuanya tidak pernah saya temukan kebenarannya."

"13 Pebruari, menerima kabar dari salah seorang keluarga di tanah air. Yang memberi tahu bahwa, kalau saya sudah menerima gaji, cepat-cepat dikirimkan ke Indonesia. Sebab orang yang memberi piutang pada saya sudah berkali-kali menagih."

"27 Pebruari, kerinduan kepada kampung halaman, adalah sesuatu yang selalu meliputi hari-hari saya. Apalagi situasi pekerjaan kami yang belum juga cocok dengan yang saya idam-idamkan."

"3 Maret, sempat berkumpul dengan kawan-kawan dari Indonesia yang lain di beranda masjid. Kami bercerita tentang banyak hal. Dan saya menemukan sebuah keanehan bahwa ternyata, doa seorang TKI dengan saudara-saudara kami di tanah air, berlawanan. Seorang TKI berdo'a: Semoga kurs dollar terhadap rupiah makin tinggi. Sehingga bisa cepat-cepat mengirim banyak uang kepada keluarganya. Sebaliknya para pekerja di tanah air berdoa: Mudah-mudahan kurs dollar terhadap rupiah makin rendah, sehingga harga-harga tidak melambung terus."

"12 Maret, berjumpa dengan sahabat perempuan dari Jawa Timur yang bekerja di sebuah restoran. Saya sempat berbicang dengan dia. Dan menanyakan mengapa pakaiannya setiap dua hari sekali selalu berganti mode. Dua hari pertama memakai jilbab dan pakaian Islami, layaknya muslimah taat. Dua hari kedua, memakai jilbab juga, tapi dipadu dengan T-shirt ketat dan celana jeans ketat pula. Dua hari ketiganya lain lagi. Masih pakai kerudung tapi pakaian dan celananya mirip laki-laki. Setelah saya tanya, dia menjawab: "Penampilan kami ini punya nilai jual, mas. Yah, sekedar untuk menarik pelanggan."

Saya berhenti membaca sejenak. Mencoba mencari-cari catatan-catatan saya yang agak bisa memberikan saya tersenyum. Namun nyaris tidak saya ketemukan. Adanya kepahitan-kepahitan yang saya jalani. Tiba-tiba saya terlintas suasana saat Idul Fitri yang penuh berkah itu.

"16 November, saya mendapat kesempatan untuk bersilturrahmi dengan Sultan Hassanal Bolkiah di Istana Nurul Iman. Suatu kesempatan yang luar biasa. Baru pertama kali saya bisa berjabat tangan dengan pemimpin sebuah negara seumur hidup saya. Anehnya bukan presiden negara saya, tapi justru pemimpin negara lain. Saya dan kawan-kawan dari Indonesia lainnya dijamu dengan luar biasa. Kami dipersilkan untuk makan dan minum sesuka hati. Dan tinggal memilih mana makanan dan minuman serta buah-buahan yang paling kami sukai. Sebab banyak macamnya. Hari itu saya merasa ada di pinggir sorga."

Setelah membaca itu saya menutup kembali buku harian saya. Saya kembalikan ke tempat semula. Saya tidak bergairah lagi untuk membacanya apalagi meneruskan kembali tulisan-tulisan saya. Saya merasa kehilangan semangat. Karena terlalu banyak catatan yang membuat saya getir dan pahit.

Namun, suatu saat saya teringat kata-kata orang alim, bahwa setiap jejak langkah kita, setiap peristiwa yang menimpa kita, baik yang mengandung tawa maupun tangis, baik yang manis ataupun yang getir, bukanlah semata-mata keinginan kita. Akan tetapi di balik itu semua Sang Sutradara Dunia, Allah SWT, ikut berperanan di dalamnya.

Akhirnya saya mencoba untuk menuliskan kembali, tentu untuk saya baca sendiri. Dengan keyakinan ada pelajaran atau hikmah yang terselip di balik coretan-coretan itu. Dan saya makin mempercayainya. Bukankah jika Allah yang menentukan, berarti itu jalan terbaik bagi kita? Wallohua'lam.

<woyo72 at yahoo dot com>
readmore »»  

Mengendalikan Cinta dengan Jihad



Oleh Vita Sarasi

Pernahkah Anda merasa bahwa apa yang sedang Anda lakukan itu salah tapi masih juga dilakukan? Pendeknya, sudah tahu keliru tapi terus saja maju.

Itulah yang dialami seorang teman saya. Orangnya cerdas dan kini dia mendapat beasiswa untuk belajar di sebuah perguruan tinggi pendidikan agama terkenal di luar negeri. Kepiawaiannya sangat diakui rekan dan para dosennya. Bahkan karya tulisnya mengenai agama menghiasi majalah dan surat kabar. Namun dia mengeluh kepada saya, bahwa saat ini dia tak bisa konsentrasi belajar karena memikirkan hubungan cinta jarak jauhnya. Ya, dia tengah menjalin cinta dengan seseorang yang sedang studi juga di negara lain sejak beberapa bulan ini. Benang-benang asmara terajut lewat email, chatting, dan SMS, nyaris setiap hari. Ada saja hal-hal yang saling dicurhatkan dan dilaporkan. Masya Allah!

Namun, konflik batin terus menggelayuti hati dan pikiran teman saya itu. Betapa tidak, dia tahu bahwa semua itu mengganggu konsentrasi belajarnya, apalagi saat ini dia sedang mempersiapkan ujian akhirnya. Terbayang jika gagal, maka orang tua yang siang malam mendoakannya pasti akan kecewa. Lebih-lebih lagi, dia juga paham bahwa apa yang mereka lakukan selama ini adalah dosa yang bisa dikategorikan sebagai zina hati. Dia juga mengerti bahwa itu semua bisa terjadi karena godaan syaithan la’natullah, yang makin menggila kala imannya sedang lemah. Namun apa daya, dia merasa tidak sanggup melawan arus deras godaan cinta itu. Dia merasa terus terhanyut oleh buaian syaithan yang kali ini seakan berwajah manis. Bayangan sang kekasih sungguh sulit untuk dihapuskan. Pikirannya yang cerdas dan pengetahuan yang luas mengenai syariat Islam seakan berubah menjadi tumpul kala digunakan untuk mengatasi konflik batin ini.

****

Alhamdulillah, suatu saat dia mendatangi majelis taklim dan mendengar lantunan firman Allah SWT: “Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya syaithan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS Fathir: 6). Suara hafidz yang tartil itu sungguh merasuk dalam qalbunya dan menjadi media penghantar Nur Hidayah-Nya.

“Jihad...!!!” teriaknya tanpa sadar.

Benar sekali, jihadun nafs (jihad melawan hawa nafsu diri-sendiri) dan jihadusy syaithan (jihad melawan syaithan). Dua istilah yang intinya satu yakni jihad ini menggetarkan hati dan pikirannya. Teringat tausyiah salah seorang gurunya: “Kata Al-Jihad di-kasrah huruf jim secara bahasa bermakna kesulitan, kesukaran, kepayahan. Sedangkan secara syar’i bermakna mencurahkan segala kemampuan dalam memerangi musuh, khususnya orang-orang kafir.”

Kuncinya adalah “Mengerahkan segala kemampuan, baik materi atau bahkan nyawa kita, untuk membela agama Allah dan melawan musuh Allah dan Rasul-Nya”. Jadi, jika usaha kita biasa-biasa saja atau sambil lalu belumlah dikatakan sebagai jihad.

Menurut Ibnul Qayyim ra., jihadun nafs adalah jihad seorang hamba untuk menundukkan dirinya dalam ketaatan kepada Allah SWT, dengan melakukan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi apa yang dilarang-Nya, serta memerangi diri sendiri di jalan Allah. Sedangkan jihadusy syaithan ada dua tingkatan, pertama berjihad untuk menghalau segala sesuatu yang dilontarkan syaithan pada manusia berupa syubhat dan keraguan yang dapat membahayakan perkara iman. Orang yang mampu mengerjakannya akan membuahkan keyakinan. Kedua, berjihad untuk menghalau segala apa yang dilemparkan syaithan berupa kehendak buruk dan syahwat. Orang yang mampu melakukannya akan membuahkan kesabaran. Sabar akan menolak syahwat dan kehendak buruk, keyakinan akan menolak keraguan dan syubhat.

Dua jenis jihad inilah yang perlu kita lakukan terlebih dahulu sebelum jihadul kuffar (jihad melawan orang kafir yang menyerang aqidah Islam) dan jihadul munafiqin (jihad melawan orang munafiq yang yang menyerang aqidah Islam).

****

“Jadi... tunggu apa lagi”, pikir teman saya itu, “Musuh sudah jelas walaupun tidak tampak, yaitu syaithan. Jalan sudah ada, yaitu jihad. Saya akan mulai dengan berniat lilLaahi Ta’ala, sebab amal perbuatan akan sia-sia di mata Allah jika tidak dilandasi dengan niat yang benar, Innamal a’malu bin niyyaat”. Beberapa program jihadun nafs dan jihadusy syaithan dia canangkan dan dia jalankan dengan penuh kesungguhan dan keyakinan. Genderang perang melawan hawa nafsu dan syaithan ditabuhnya dengan menggelegar. Hatinya ikhlas, jika memang sang kekasihnya itu adalah jodohnya, Insya Allah akan dipertemukan dengannya dalam pernikahan yang syar’i.

Untuk mewujudkannya, tidak perlu komunikasi hotline 24jam sehari dengan sang kekasih seperti yang sudah-sudah. Yang penting, amanah belajar harus dituntaskan dulu. Namun dalam masa belajar ini, adalah rugi di mata Allah jika hanya mempelajari pengetahuan duniawi tanpa mendasarinya dengan pengetahuan ukhrawi. Oleh sebab itu, jika suatu saat dia akan mengajak kekasihnya untuk menikah maka diniatkan sebagai ajakan untuk beribadah.

Jika godaan nafsu datang, dia hadapi dengan memperbanyak puasa, istighfar, dan zikir. Untuk meneguhkan hati dan fisiknya, dia perbanyak tilawatil Qur’andan Qiyamul Lail. Jika ada perkara meragukan, apakah tergolong kebaikan atau justru keburukan, dia ingat sabda Rasulullah SAW: “Kebaikan itu adalah akhlaq yang baik. Dan dosa adalah apa-apa yang meragukan jiwamu dan engkau tidak suka dilihat orang lain dalam melakukan hal itu.” (HR Muslim).

Teman saya itu senyum-senyum kecut jika ingat apa saja yang pernah dia lakukan selama ini. Kebodohan atau kekurang pengetahuannya memang berbuah kejahilan; menjahili apa-apa yang menjadi ketentuan Allah SWT, yaitu: apa yang disuruh-Nya dilalaikan, apa yang dilarang-Nya justru dijalankan sebaik-baiknya. Astaghfirullah...

Kini teman saya sangat bahagia karena merasa tidak dibiarkan oleh Allah SWT bergelimang dalam kesesatan dan maksiat. Ia merasa sangat bersyukur karena telah mendapat taufiq dan hidayah-Nya dalam mengendalikan cintanya dengan jihad.

Frankfurt am Main, 11 Januari 2006 Vita Sarasi
vitasarasi at yahoo.com
readmore »»  

Balasan SMS Itu






Oleh Anisa


Bunyi getar hp di meja membangunkanku dari kantuk yang menggelanyut di mataku. Kuraih hpku dan kulihat sebuah nama tertera dalam sms masuk.



Ass. Anisa yang sholihah, kaifa khaluk? Alhamdulillah suratmu yang panjang banget kae wis tak tampa. Stl baca suratmu aku juga banyak berpikir&merenung tentang hidup yang kujalani. Ternyata qt gak boleh jadi makhluk yang merasa paling menderita di dunia. Hidup ini harus qt jalani dengan penuh rasa syukur&sabar. Itu saja. Sa, aku jadi pengen gawe cerita tentang hidupku tapi bingung juga harus mulai darimana. Tapi tau gak akhir-akhir iki kok jadi smangatku turun ya terutama dalam ibadah pie ki? Rasane wis butuh dicas dengan sesuatu yang menggugah jiwa. Ada resep ga?



Bunyi sms itu begitu meluluhlantakkan perasaanku. Sms itu bukan sekedar sms dari seorang teman, melainkan sms dari sahabat yang sudah seperti saudaraku sendiri. Sudah hampir 13 tahun kami bersahabat, mulai dari waktu masih kuliah sampai sekarang ketika kami sama-sama sudah berkeluarga. Dia, sahabat yang kupercaya. Saking percayanya aku berani mencurahkan segenap duka yang kurasakan. Sebuah duka yang selama ini hanya aku bagi dengan suamiku.



Memang aku tidak mengharapkan sebuah jawaban dari kisah hidup yang kukirimkan. Aku hanya butuh penyaluran. Aku butuh didengarkan. Kalau gak salah dalam bahasa psikologi namanya katarsis.



Bukannya tak ingin aku bertemu dengannya, berkunjung ke kota di mana dia tinggal, akan tetapi kesempatan itu belum ada. Jadilah kemarin itu surat yang menggantikan kehadiranku di sana. Dan ketika akan kubalas smsnya, aku speechless. Lidahku kelu, serasa ada kawat-kawat lembut yang membelenggunya. Aku bingung harus mulai membalas dari mana.



Apakah ada sebagian duka yang terangkat ketika aku menceritakannya? Jawabnya, iya. Ini terbukti dari binar yang perlahan datang kembali menggantikan redup mataku. Binar ceria yang ditangkap tidak hanya oleh suamiku tetapi juga oleh orang-orang disekelilingku.



Mungkin memang benar adanya apa yang dikatakan oleh teori psikologi, bahwa seringkali kita membutuhkan sebuah penyaluran untuk beban yang kita pendam.Dan kurasa tak salah jika aku memilih bercerita pada suamiku dan pada sahabatku tentang apa yang kurasakan. Dengan mengakui perasaan ini, perlahan beban pun akan terangkat.



Dan ternyata benar, sahabatku bisa menangkap apa yang kuceritakan dalam surat. Dia bisa menangkap bagaimana dukaku, termasuk perasaanku di saat itu. Bagaimana aku tidak merasa menderita, jika dalam waktu 10 bulan pernikahan kami aku mengalami 2 kali keguguran. Bahkan keguguran yang pertama terjadi saat kandunganku berumur 16 minggu. Yah, itulah perasaanku setidaknya sampai Desember 2007 kemarin.



Aku tahu ada yang salah dengan diriku. Aku tak kunjung bisa pasrah. Aku tak kunjung bisa bangkit kembali. Padahal suamiku sudah sedemikian mendukungku. Aku pun mencari dan terus mencari jalan supaya aku bisa bangkit. Kubaca buku, kuperbanyak silaturahmi, kembali mendengarkan taushiyah, dll.



Sebenarnya, suamiku juga banyak mendukung. Dia banyak mengajakku silaturahmi ke orang-orang yang jauh lebih tidak beruntung dari aku. Katanya, biar aku merasa bersyukur dan biar aku nggak merasa sedih lagi.



Aku memang merasa keimananku naik turun nggak karuan. Aku juga sempat merasakan semangatku beribadah menurun. Bahkan sempat beberapa hari nggak tilawah. Hanya sholat wajib yang kujalankan. Tapi alhamdulillah ada suami yang bisa sedikit banyak mengontrolku. Mengajakku tetap berdoa bersama mohon kesembuhan dari sakit dan duka ini. Dia terus mengajakku agar tetap bersyukur dan tidak pernah putus asa.



Dan ketika aku hendak membalas sms dari sahabatku di atas, aku berpikir. Apa yang sekarang kurasakan? Adakah aku masih merasa menjadi orang yang paling menderita sedunia? Hahaha. Harus kuakui, kadang aku masih merasa menderita, terutama ketika teman-teman dekatku hamil. Tapi itupun tidak lama, buru-buru aku ajak suamiku sholat dan berdoa sama Allah, supaya mengizinkanku hamil lagi. Biasanya, sesudah berdoa bersama dan suamiku memelukku erat, aku bisa kembali ceria. Yah setidaknya sudah ada kemajuan pada perbaikan ‘mental’ku.



Memang benar adanya bahwa hidup ini harus di jalani dengan penuh rasa syukur&sabar. Itulah ajaibnya seorang mukmin. Ya kan? Hanya saja memang aku masih tertatih dan terseok untuk bisa menuju ke arah sana. Kalau suamiku berkomentar, “yah lebih baik tertatih dan terseok tapi terus maju pantang mundur!”



Lalu, gimana kalau sahabatku nun jauh di sana ingin membuat cerita tentang hidupnya?


Kalau masalah mulai darimana? Yah mulai saja menulis. Apa saja, nggak usah terlalu dipikir tekniknya. Kalau kita-kita yang baru pemula, yang penting adalah menulis dan menulis. Latihan terus menuangkan ide dan perasaan. Tuangkan semuanya seperti kata orang bijak, show it, don’t tell it (bener gak yaaaa…J)



Sebenarnya banyak banget manfaat dari menulis. Kalau boleh dibilang, menulis itu mencerdaskan kita. Menulis akan membuka wawasan kita dan menyehatkan batin kita. Apalagi kalau tulisan itu penuh hikmah dan bisa dimanfaatkan tidak hanya buat kita sendiri melainkan buat orang lain juga.



Jadi saranku, menulislah. Aku juga berusaha keras untuk menulis walau masih belum bisa konsisten. Aku masih adaptasi waktu dengan suami. Hehehe. Itu istilah yang diucapkan salah satu teman pengajianku, waktu dia melihat aku benar-benar mengurangi aktivitas sesudah menikah.



Trus yang terakhir, tentang semangat ibadah yang turun. Kayaknya memang kita harus punya lingkungan yang kondusif untuk keimanan kita. Sahabatku masih punya teman liqo, tapi aku? Aku memang belum ikut liqo lagi, tapi aku masih keep in contact dengan mereka semua. Bertemu dengan mereka? Duh, aku keluar rumah saja agak susah kalo nggak ke tempat kerja. Jadinya aku yang berusaha rutin menghubungi mereka, atau ngajak ketemuan saat makan siang di dekat tempat kerja. Minimal sms lah berkabar.



Tapi jangan salah, walaupun dalam hal kebaikan, kalau monoton dan nggak ada variasi, kita bisa jenuh juga. Mungkin sahabatku sedang mengalami kejenuhan ini. Kalau ditanya resepnya, apa ya?



Coba aku ingat-ingat dulu. Kalau semangat ibadahku menurun apa yang kulakukan? Pertama, aku akan bercerita ke suami. Lalu kedua, aku akan menuliskan perasaanku di catatan harianku. Kutulis sejelas-jelasnya tentang apa yang kurasakan. Lalu aku berusaha mencari jalan apa yang harus kulakukan. Aku tuliskan dicatatan harian itu apa saja yang terlintas di benakku.



Terkadang, aku butuh waktu untuk berhenti sehari dari rutinitas. Termasuk rutinitas ibadah. Aku bebaskan diriku sebebas-bebasnya. Ibadah mahdhoh tetap jalan. Tapi mungkin aku mengajak suami sholat jamaah diluar rumah. kalau bosan tilawah dirumah, aku akan mencari tempat lain. Seperti duduk diam di masjid yang nyaman dan tilawah sambil menunggu maghrib atau isya. Atau tilawah di taman yang penuh bunga sambil piknik dengan suami. Trus kalau bosan menghafal surat-surat pendek sendiri, aku sering ngajak suamiku menghafal bareng sambil santai.



Lalu, nggak pakai sayang pulsa, aku sering menghubungi teman-teman yang kuanggap selama ini konsisten dalam ibadah. Memang nggak banyak, tapi setidaknya berbicara dengan mereka dan meminta saran itu jauh lebih baik. Kadang kami nostalgia, mengingat dulu aku menghafal juz amma bertahun-tahun nggak kelar juga. Terus belajar bahasa Arab di mana-mana tapi pengetahuannya mentok nggak nambah-nambah.



Trus apa lagi ya?



Pergi pengajian ke masjid juga bisa menjadi salah satu solusi. Atau pengajian akbar sekalian. Bertemu dengan orang orang baru dan suasana baru kurasa juga bisa menggugah semangat lagi.



Kadang aku juga mengundang teman-teman untuk datang ke rumah, atau menyediakan rumah untuk acara ketemuan dan rapat. Walau pada akhirnya badanku terasa capek, tapi suasana yang terbangun akan membangkitkan semangatku lagi. Dan imbasnya juga sampai ke ibadah.



Trus bisa juga jalan-jalan ke toko buku. Kalau ada dana, aku akan membeli buku. Tapi kalau memang saat itu belum ada dananya, dengan melihat-lihat dan membaca buku yang tidak disampul plastik ternyata lumayan juga. Apalagi sekarang banyak toko buku yang menyediakan tempat duduk biar kita bisa membaca sambil duduk santai. Pulang-pulang jadi lega banget. Dan nggak Cuma lega, biasanya aku juga kemudian terinspirasi untuk menulis.



Dan masih banyak lagi deh.



Mungkin memang fitrohnya manusia yang cepat jenuh dengan hal yang bersifat rutin. Tapi bukan berarti kita merasa sah terjebak dalam kejenuhan itu. Kita kan bisa berusaha mencari celah-celah untuk keluar dari jebakan kejenuhan dan kembali semangat melakukan hal-hal yang positif.



Anisakuffa
readmore »»  

Nahkoda Surga






Oleh Meralda Nindyasti


Senja tiba… terpencil di suatu pinggiran kota Jakarta, sang ayah memasuki rumah. Lelah beraktivitas di kantor sedari tadi, membuatnya ingin segera merebahkan diri di sofa empuk kesayangannya. Melepas peluh.


Tak berapa lama, adzan magrib mengudara di kota Jakarta.


“Nak, ayo sholat.. Sudah adzan. “ ajak sang ayah.


“Iya, bentar …nanggung nih, yah.. Kartunnya belum selesai. “ujar sang anak.


“Sudah, ayo.. sholat dulu! Sejak kapan anak ibu males begini ya? “ masih dengan kesabarannya, sang ibu ikut mewarnai percakapan sore itu.


Si kecil itu, 12 tahun usianya. Bungsu dari 2 bersaudara. Melihat tiba-tiba televisi dimatikan begitu saja oleh ibu, membuat si kecil berat untuk melangkahkan kaki menuju tempat wudhu.


”Ayah.. shalat berjama’ah, yuk..! ” ajak sang kakak sudah siap dengan mukena yang menutupi auratnya.


”Udah.. shalat dulu aja! Ayah masih ingin santai. ” jawab sang ayah.


”Ayah kok gitu..Ya sudah, saya shalat ma adik ya...” ujar sang kakak, kecewa.


”Nggak ah.. nggak! Adik nggak mau shalat bareng kakak. Pokoknya adik shalat sendiri aja!”jawab si kecil, mengelak.


Tak lama kemudian...


”Lho, sholat apa ini? Kok sebentar. Berapa raka’at shalat magribnya?” tiba-tiba sang ibu melontarkan sekian banyak pertanyaan saat si kecil keluar dari kamarnya.


“Sudah sholat kok, bu..” jawab si kecil.


"Shalat apa? Belum semenit kok sudah selesai? Sudah berdo’a, belum??” tanya sang ayah penuh curiga.


” Udah kok yah.. ” ujar si kecil


“Nggak.. nggak.. ayo sholat lagi! Sholat kok gitu..” perintah sang ayah, sedikit keras.


”Kak, coba adiknya diintip, sholatnya bener atau nggak itu? ” perintah ibu.


Tiba-tiba...

”Ayah sama ibu ini gimana? Kalo nggak ingin sholatnya adiknggak bener, ya sholat berjama’ah!” ujar sang kakak sedikit jengkel, sambil berlalu menuju kamarnya.


Sang kakak menangis. Sementara sang ibu dan ayah yang duduk santai di ruang keluarga, terheran-heran dengan apa yang baru saja terjadi. Si kecil baru saja selesai sholat magrib untuk kedua kalinya. Entahlah, apakah durasi sholatnya lebih lama dan lebih khusyuk dari sebelumnya atau tidak.


***


Kakak menangis lantaran kecewa dengan ayah ibunya. Ia gadis berusia19 tahun yang baru siang tadi tiba di Jakarta. Ia mahasiswa kedokteran di Surabaya. Liburan ini ia sengaja pulang ke rumah lantaran rindu dengan keluarganya. Tapi yang ia dapat adalah kekecewaan, persis seperti kekecewaan yang ia rasa saat liburan setahun lalu. Ya, terulang.


Allah membangunkannya tepat pukul 2.30 dini hari. Kekecewaan malam tadi membuat ia ingin segera mengadu pada Allah. Gemericik air wudhu mengalir perlahan di tengah keheningan malam. Hanya ia seorang.


Shalat ditegakkan. Sesekali terdengar sesenggukan, air mata kembali mengalir membasahi pipinya. Kepasrahan begitu mendalam..


“Rabb, aku begitu mensyukuri hidayah yang Kau anugerahkan padaku. Dulu, aku bimbang harus kuliah di mana. Ternyata kehendak-Mu berkata aku harus perantauan ke luar kota. Karena itu, aku meminta agar Kau saja yang menjaga keluargaku dengan sebaik-baik penjagaan. Menjaga keselamatan mereka dan keimanan mereka, sebagimana Kau pun menjagaku dan keimananku selama aku menuntut ilmuMu. Rabb, tapi apa yang terjadi? Semalam tadi ayah enggan diajak shalat berjamaah, hingga akhirnya aku merespon dengan nada ketusku. Aku berlebihan terhadap lisanku, Rabb.. aku menyesal dan mohon ampunan-Mu..” kakak tak tahan meluapkan kesedihannya.


”Rabb, aku rindu shalat berjamaah bersama mereka. Saat ketaatan kami disatukan oleh takbir berjamaah mengagumi kebesaran asma-Mu. Saat penghambaan kami luluh dalam nikmatnya kebersamaan sujud menghadap-Mu. Saat ayat-ayat Qur’an begitu asyik kami lantunkan bersama seusai shalat berjamaah. Kerapkali ayah memberi nasihat pada kami sesuai tafsir ayat-ayat Qur’an yang kami baca saat itu. Keindahan yang agung. Duhai Rabb, kapan kerinduanku ini terobati..?” tanya itu mengakhiri doanya.


Sang kakak hanyalah anak yang rindu akan didikan orang tuanya. Didikan spiritual tentunya. Sekalipun hanya sesederhana shalat berjamaah bersama keluarga. Sang kakak memiliki sisi pandang yang berbeda. Shalat berjamaah itu begitu berharga baginya, terlebih saat ini statusnya adalah mahasiswa yang jauh dari orang tua. Ia rindu akan kehangatan keluarga yang dibalut dengan ketaatan menjalankan perintahNya.


***


”Hai orang-orangyangberiman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...” (At-Tahriim:6)


Adakah keluarga yang setelah dipisahakan oleh maut, tidak berkeinginan disatukan kembali oleh-Nya di surga nanti? Hingga kebersamaan itu kembali ada, bahkan kebersaman yang jauh lebih indah. Karena surga tak mengenal kesengsaraan. Ia hanya mengenal kebahagiaan dan kenikmatan.


Adalah orang tua menjadi kendali ke mana keluarganya akan dibawa. Sang ayah sebagai pemimpin pelayaran. Ia menjadi nahkoda untuk mengantarkan keluarganya utuh menuju surga. Apabila baik akhlaknya maka baik pula cara mengemudikannya. Isteri dan anak adalah manusia-manusia yang dipimpinnya. Karena itu, butuh kepemimpinan dan kreativitas seorang ayah untuk mengkondisikan keimanan keluarganya.


Zaman sekarang, berapa banyak orang tua yang menyepelekan pendidikan spiritual untuk anak-anaknya. Padahal, iman bukanlah permainan dan kesalihan tidak dapat diwariskan. Ia adalah sesuatu yang tumbuh seiring dengan ketaatan. Bukan dalam sekejap, tapi butuh keistiQomahan. Seringnya, ayah ibu lebih bangga akan prestasi akademik yang dicapai anak-anaknya. Namun jarang menaruh bangga akan prestasi ibadah dan amal sholeh yang mereka lakukan. Seakan, prestasi duniawi jauh lebih berharga dibanding prestasi akhirat mereka.


“Tidak seorangpun masuk surga karena amalnya. Ia bertanya, ”Demikian pulakah engkau wahai Rasulullah?” ”Ya, demikian pula denganku, kecuali jika Allah menganugerahiku rahmatNya” (H.R.Muslim)


Bukan meja makan yang mempu menyatukan satu keluarga setelah seharian dipisahkan oleh aktivitas masing-masing. Bukan pula agenda nonton TV bersama yang mengundang canda dan tawa pencair suasana. Tapi adalah shalat berjamaah yang menyatukan kasih sayang mereka untuk sama-sama meraih rahmat-Nya.


Anak adalah masa depan, titipan Allah hingga keturunan akhir zaman. Dan keteladanan adalah bahasa indah pendidikan. Karena itu, agar tidak terasa berat ketika mengkondisikan keimanan dan keistiQomahan keluarga, maka harus ditunjang dengan keimanan dan keistiqomahan sang ayah sendiri. Ajak diri untuk merenung, motivasi apa yang sanggup membuat kita bertahan ada di jalan hidayah ini. Agar tidak lelah berlari dan enggan berhenti. Tidak merasa rugi, karena ada surga Allah yang menanti





moslemalda@yahoo.com
readmore »»  

Istikharah: Mencari Sebuah Makna di Balik Makna

Oleh Miftah Alaflah




Prof. Dr. Thaha -g uru besar Universitas Al Azhar Dimyath - mengatakan sebuah kalimat frontal dalam pembukaan kuliah umum ilmu balaghah pada pertemuan perdana pekan lalu. (ilmu balaghah : sebuah diskursus ilmu keislaman yang mempelajari makna-makna rahasia dalam kosa kata Alquran)


Kata beliau "Bahwa satu kata di dalam Alquran selalu memiliki kecenderungan dua makna bahkan lebih. Pada makna yang pertama dapat dipahami oleh siapa saja, umum. Sedang makna kedua dan seterusnya tidak akan bisa dipahami kecuali mereka yang dibukakan akalnya oleh Allah s.w.t".


(dalam problematika tafsir Alquran, Ulama sepakat balaghah adalah sebuah diskursus ilmu yang harus dilibatkan, ia menjadi unsur utama)


Namun dari situ, kita memahami bahwa doa Nabi untuk Ibnu Abbas "ya Allah berilah ia pemahaman pada makna-makna Alquran" sejatinya adalah pemahaman terhadap makna kedua, ketiga dan seterusnya yang tersembunyi di dalam Alquran. Penalaran yang tentu jauh melampaui pemahaman orang pada umumnya.


Pemahaman terhadap makna kedua ini yang kemudian membedakan antara mufassir -penafsir Alquran- dengan orang umum yang hanya memahami satu makna saja.


Setelah itu dalam sejarah tercatat Ibnu Abbas menjadi rujukan utama dalam tafsir.


Sebenarnya doa Rasulullah untuk Ibnu Abbas menjadi penting kita renungi, bagi pengajaran dalam berkehidupan. Sebab seringkali dalam kehidupan ini kita dihadapkan pada makna-makna tersembunyi yang tidak kita ketahui. Akal dan nalar kita tidak sampai ke sana.


Makna-makna tersembunyi tadi, kita temukan dalam banyak permasalahan yang akhirnya berujung pada dua pilihan atau lebih, dan kita bimbang memilih. Maka kita meminta kepada Allah s.w.t. agar diberikan petunjuk pilihan di antara keduanya.


Permintaan petunjuk ini yang kita sebut "istikharah". Kita biasa mengenalnya sebagai sebuah shalat atau doa agar Allah s.w.t. memilihkan di antara dua.


Maka pada istikharah ini, sebenarnya kita sedang meminta kepada Allah agar diberikan penalaran pemahaman terhadap makna ke dua dan ke tiga yang masih tersembunyi. Karena semakin jauh pemahaman kita dalam menalar makna ke dua, ke tiga atau lebih di balik sebuah permasalahan, semakin baik pilihan-pilihan yang akan kita ambil.


Oleh karena itu istikharah menjadi proses pencarian sebuah makna di balik makna, ia tersembunyi. Sebagai makhluk yang lemah, akal kita tidak mampu menalar sampai ke sana, oleh sebab kita melibatkan kekuatan besar -Allah s.w.t- dalam proses pemilihan ini, meminta agar akal kita dibukakan untuk mengetahui makna kedua, ketiga dan makna-makna lain yang masih tersembunyi itu. Sehingga fikiran kita menjadi terbuka dan hati menjadi mantap untuk memilih.


“dan hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan” Ali Imran : 109


http://miftahalaflah.blogspot.com
readmore »»  

Sepotong Benih Kemandirian

Oleh Muhammad Rizqon



Sore itu, Abdullah membawa selembar kertas berisi sebuah gambar hasil goresan anak tetangga yang pandai dalam menggambar di sekolahnya. Gambar itu masih berupa coretan pencil (sket gambar), namun tampaknya Abdullah sangat menyukai gambar itu. Boleh jadi karena obyek yang digambar adalah tokoh kartun kesukaannya, dan tentu menjadi kesukaan banyak teman-temannya.


Sket gambar itu ia bawa ke rumah. Ia meminta spidol kepada ayahnya. Ia ingin sket gambar berupa goresan pencil itu, diperjelas dengan tinta spidol hitam. Ayahnya mengetahui bahwa kegiatan itu adalah bagian dari kegiatan melatih motorik halus sang anak. Maka ia mencarikan spidol hitam kemudian memberikannya kepada Abdullah. Begitu memegang spidol (permanent marker), Abdullah tampak canggung membubuhkan goresan. Ada rasa khawatir jika goresannya itu melenceng dari tinta pencilnya dan berakibat gambarnya menjadi tidak bagus. Karena ada rasa khawatir itu, ayahnya pun membantunya pelan-pelan sehingga goresan pencil tertutupi semuanya oleh tinta spidol. Hasilnya, tokohnya kini menjadi lebih nyata dan jelas.


Abdullah tampak senang dengan lukisannya itu. Kemudian ia meminta ayahnya untuk memfotokopi malam itu juga, padahal waktu sudah menunjukkan hampir pukul 9 malam. Wajarlah jika ada rasa malas menghinggapi ayahnya untuk memenuhi permintaan anaknya itu. Kepenatan yang mendera dirinya sehabis melaksanakan aktivitas sepanjang pagi hingga menjelang sore, kemudian dilanjut dengan aktivitas kerumahtanggaan hingga menjelang malam, belum hilang dari dirinya. Di samping itu, Sang ayah merasa pesimis. Jam segitu tempat fotokopi di sekitar rumah pastilah sudah pada tutup.


Namun Abdullah tetap merengek agar ayahnya tetap mengantarkannya ke tempat fotokopi malam itu juga karena duplikasi dari gambar itu akan ia bawa ke sekolahan esok harinya. Jika ayahnya memfotokopinya besok hari, berarti gambar itu pasti akan difotokopi saat ia sudah berangkat sekolah sehingga dia tidak bisa membawa gambar itu.


Ayahnya bertanya, “Kenapa sih nak harus fotokopi malam ini?”


Abdullah menjawab, “Abdullah mau membawanya ke sekolah besok.”


Ayahnya menyahut, “Emang tidak bisa hari lain?”


Abdullah tampak diam sejenak, seakan ingin menyembunyikan maksud dia yang sebenarnya. Ia khawatir jika maksudnya itu tidak berkenan di hati ayahnya.


Kemudian tanpa diduga sebelumnya, Abdullah memberikan jawaban yang cukup mengejutkan orang tuanya, mengejutkan dalam arti membahagiakan (surprise).


Ia berkata, “Abdullah mau bawa gambar itu buat dijual di sekolahan.”


Ayahnya tersenyum mendengar jawaban itu. Sekali-kali ia mengiringinya dengan tertawa kecil. Bukan tertawa mengecilkan tetapi tertawa karena ide kreatifnya itu di luar dugaan dia sebelumnya dan ia sangat mengagumi ide kreatif anaknya itu.


Wajah ceria Sang ayah memancar. Sang ayah sungguh bahagia mendengar jawabannya itu, sebab jawaban itu mencerminkan bahwa logika berfikirnya berjalan. Dan yang lebih penting, ia menyimpan potensi kebaikan yang tidak kecil, bahkan sangat menentukan kelangsungan hidupnya kelak saat ia dewasa. Sangat sedikit anak yang memiliki logika berpikir seperti Abdullah yang masih kelas satu SD itu. Logika berfikirnya itu sejatinya menunjukkan bibit kemandirian di dalam dirinya, yang jika diarahkan dengan baik, akan benar-benar membentuk jiwa wirausaha dan kemandirian di dalam dirinya kelak jika ia dewasa.


Menyadari akan pentingnya menumbuhkan sifat kemandirian seorang anak, ditambah kesadaran akan adanya sepotong benih kemandirian di dalam diri anaknya itu, sang ayah segera bangkit dari kemalasannya kemudian segera beranjak pergi mengantarkan anaknya itu mencari tempat fotokopi terdekat. Sang ayah tidak ingin benih kemandirian itu pupus hanya karena tidak ada dukungan dari orang-orang yang bisa memperhatikannya.


Alhamdulillah, Sang ayah (bersama sang anak) masih menemukan warung fotokopi yang buka pada malam itu. Seakan menjadi sebuah isyarat bahwa benih kemandirian itu tidak boleh pupus. Mereka memfotokopi gambar sebanyak 10 lembar kemudian membawanya pulang. Abdullah tampak bahagia dan merasa puas. Ada semangat terpancar dalam dirinya menyambut hari esok. Ia langsung menyimpan lembaran fotokopi gambar itu ke dalam tas sekolahnya. Boleh jadi, pikirannya membayang pada kejadian esok pagi di mana teman-temannya akan menyambut antusias gambar tokohnya itu.


***


Abdullah adalah tipe anak yang memiliki perhatian besar dalam bisnis. Pernah suatu ketika ia berujar bahwa ia ingin mencari uang yang banyak agar ibunya tidak usah repot pergi ke sana ke mari mencari uang tambahan. Ketika ditanya, bagaimana caranya agar ia mendapatkan uang itu, ia menjawab bahwa ia akan membeli seekor kambing laki-laki dan seekor kambing betina. Dari dua pasangan ekor kambing itu akan dihasilkan anak yang banyak, kemudian anak-anaknya itu akan bisa melahirkan anak lagi, demikian seterusnya sehinga jumlah kambingnya jadi berlipat-lipat. Kambing itu akan dijual ke orang sehingga mendapatkan uang. Sungguh cerdas pemikiran anak itu pada usia yang masih dini.


Pernah juga ia membuat minuman pop ice atau sirup atau sekedar teh manis. Kemudian ia tuang minuman itu dalam plastik kecil-kecil dan ditaruh di kulkas. Jadilah ia es mamboo. Ia tawarkan pada teman-teman mainnya dengan harga Rp 500 untuk dua buah. Sesuatu yang pernah membahagiakannya adalah, dari jualan es mamboo itu ia mendapatkan uang sebesar Rp 12.000. Jumlah uang sebesar itu di mata anak kecil masyarakat biasa bukanlah jumlah yang kecil, terlebih di tengah kondisi sulitnya mencari uang seperti sekarang ini. Dan yang patut dicontoh, uang itu adalah murni dari hasil ide kreatifnya. Subhanallah.


Pernah pula ia membeli tepung khusus untuk kue di swalayan terdekat bersama temannya. Di samping itu, ia juga membeli mesis dan blue band. Di rumah, ia bersama temannya membuat kue laba-laba atau donat. Alhamdulillah, semua teman-teman ikut menikmatinya. Orang tua dan orang-orang rumah pun dipersilahkan mencicipi hasilnya. Meski kadang tidak begitu pas rasanya, tetapi penghargaan dari orang tua dan orang-orang sekitar cukup membahagiakan dan menimbulkan rasa percaya dirinya.


Yang lucu, ia bersama teman-temannya sudah berani membuat tulisan berjudul “Café” di atas kertas warna yang ditempel pada kardus, kemudian ditutup dengan lapisan plastik. Kertas bertulis daftar harga makanan itu, ditempel di pagar besi depan rumah.


***


Ada pelajaran berharga dari kisah Abdullah yang bernama lengkap Abdullah Nur Firdaus itu. Selaku orang tua, kita sering kali menjumpai adanya benih kewirausahaan dan kemandirian dalam diri seorang anak. Namun karena kesibukan dan banyaknya masalah yang harus diperhatikan, perhatian kita kepada potensi anak kita itu menjadi terabaikan. Selayaknya, benih kewirausahaan dan kemandirian itu dipupuk dan ditumbuhkan agar kelak ia memiliki mental entepreneurship dan berjiwa mandiri. Dan jika kita memperhatikan dalam hal ini, sebenarnya kita telah menjatuhkan pilihan yang tepat, yaitu menjadikan anak sebagai investasi kebaikan bagi orang tua. Bukankah sangat dimungkinkan dengan benih itu akan diarahkan pada sifat-sifat keterpujian?


Setiap anak memiliki potensi untuk itu. Tinggal bagaimana kita pandai-pandai mengarahkan sehingga darinya tumbuh sifat-sifat kebaikan, seperti keberanian mengambil resiko, kecerdasan dalam membaca lingkungan, jujur, adil, amanah, dan memiliki jiwa pemimpin.


Saya sendiri selaku orang tua, kadang merasa belum mampu memperhatikan anak secara optimal. Dan saya mohon kekuatan kepada Allah, agar bisa memperhatikan anak-anak saya dan mengarahkan mereka menjadi anak yang sholeh dan dan memiliki kekuatan. Amin.


Waallahua’lam bishshawaab (rizqon_ak@eramuslim.com)
readmore »»  

Manakah Aurat Lelaki ..?


Alhamdulillah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Sering kita dengar pembahasan mengenai aurat wanita. Namun mungkin sedikit atau jarang sekali kita mendengar pembahasan aurat para lelaki. Sering kita lihat bagaimana sebagian pria menampakkan paha atau membuka aurat lainnya. Lalu manakah batasan aurat pria yang terlarang dilihat oleh orang lain? Moga Allah memudahkan dalam membahas hal ini.
Aurat Sesama Lelaki
Aurat sesama lelaki –baik dengan kerabat atau orang lain- adalah mulai dari pusar hingga lutut. Demikian menurut ulama Hanafiyah. Dalil dari hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
فَإِنَّ مَا تَحْتَ السُّرَّةِ إِلَى رُكْبَتِهِ مِنَ الْعَوْرَةِ
Karena di antara pusar sampai lutut adalah aurat.[1]
Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa pusar sendiri bukanlah aurat. Mereka berdalil dengan riwayat bahwa Al Hasan bin ‘Ali radhiyallhu ‘anhuma pernah menampakkan auratnya lalu Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menciumnya. Akan tetapi ulama Hanafiyah berpendapat bahwa lutut termasuk aurat. Mereka berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الرُّكْبَةُ مِنَ الْعَوْرَةِ
Lutut termasuk ‘aurat.[2] Namun hadits ini adalah hadits yang dho’if.
Apa saja yang boleh dilihat oleh laki-laki sesama lelaki, maka itu boleh disentuh.
Sedangkan ulama Syafi’iyah dan Hambali berpendapat bahwa lutut dan pusar bukanlahaurat. Yang termasuk aurat hanyalah daerah yang terletak antara pusar dan lutut. Hal ini berdasarkan riwayat dari Abu Ayyub Al Anshori radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ما فوق الرّكبتين من العورة ، وما أسفل السّرّة وفوق الرّكبتين من العورة
Apa saja yang di atas lutut merupakan bagian dari aurat dan apa saja yang di bawah pusar dan di atas lutut adalah aurat.[3] Namun riwayat ini dho’if.
Pendapat terkuat dalam hal ini adalah pendapat yang menyatakan bahwa aurat lelaki sesama lelaki adalah antara pusar hingga lutut. Artinya pusar dan lutut sendiri bukanlah aurat. Demikian pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Wallahu a’lam.
Apakah Benar Paha Termasuk Aurat?
Sebagian ulama memang berpendapat bahwa paha tidak termasuk aurat, artinya boleh ditampakkan. Yang berpendapat seperti ini adalah Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya, pendapat ulama Malikiyah, dan pendapat ulama Zhahiriyah (Ibnu Hazm, cs).[4] Di antara dalil yang menjadi pendukung adalah berikut ini:
Anas bin Malik berkata,
وَإِنَّ رُكْبَتِى لَتَمَسُّ فَخِذَ نَبِىِّ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ، ثُمَّ حَسَرَ الإِزَارَ عَنْ فَخِذِهِ حَتَّى إِنِّى أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِ فَخِذِ نَبِىِّ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم
Dan saat itu (ketika di Khaibar) sungguh lututku menyentuh paha Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu beliau menyingkap sarung dari pahanya hingga aku dapat melihat paha Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang putih.[5]
Syaikh Abu Malik menyanggah alasan dari Ibnu Hazm dengan hadits di atas, beliauhafizhohullah berkata, “Hadits di atas dimaksudkan bahwa sarung Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersingkap dengan sendirinya, bukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamyang menyingkapnya sendiri dan beliau juga tidak menyengajainya. Hal ini didukung dengan riwayat dalam Shahihain yang menyatakan “فانحسر الإزار”, artinya sarung tersebut tersingkap dengan sendirinya.”[6]
Dalil lain yang menjadi pendukung pendapat ini adalah,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مُضْطَجِعًا فِى بَيْتِى كَاشِفًا عَنْ فَخِذَيْهِ أَوْ سَاقَيْهِ فَاسْتَأْذَنَ أَبُو بَكْرٍ فَأَذِنَ لَهُ …
(‘Aisyah berkata), “Pada suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berbaring di rumah saya dengan membiarkan kedua pahanya atau kedua betisnya terbuka. Tak lama kemudian, Abu Bakar minta izin kepada Rasulullah untuk masuk ke dalam rumah beliau ….”
Syaikh Abu Malik menyanggah pendapat yang berdalil bahwa paha bukan termasuk aurat berdalil dengan hadits di atas, di mana beliau berkata,
Tidak bisa kita mempertentangkan hadits yang jelas-jelas mengatakan batasan aurat bagi pria dengan hadits-hadits umum yang telah disebutkan sebelumnya. Bahkan semakin penguat lemahnya pendapat ini, yaitu terdapat dalam riwayat Muslim suatu pertentangan, di mana perowi mengatakan paha dan betisnya. Di riwayat lain dikatakan dengan lafazh “كَاشِفًا عَنْ فَخِذَيْهِ أَوْ سَاقَيْهِ”, beliau menyingkap paha atau betisnya. Dan betis sama sekali bukanlah aurat berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama.[7]
Kesimpulannya, yang lebih tepat dan lebih hati-hati dalam masalah ini, paha adalah aurat. Itulah yang lebih rojih (kuat) berdasarkan alasan yang telah dikemukakan di atas.
Aurat Lelaki dengan Wanita Lainnya
Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa wanita boleh melihat selain pusar hingga lutut dengan syarat selama aman dari fitnah (artinya tidak sampai membuat wanita tersebut tergoda). Ulama Malikiyah berpendapat bahwa dibolehkan bagi wanita melihat pria sebagaimana pria dibolehkan melihat mahromnya, yaitu selama yang dilihat adalah wajah dan athrofnya (badannya), ini juga dengan syarat selama aman dari fitnah (godaan).
Sedangkan ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa wanita tidak boleh melihat aurat lelaki dan juga bagian lainnya tanpa ada sebab. Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah Ta’ala,
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya.” (QS. An Nuur: 31)
Dalil lainnya yang digunakan sebagai hujjah oleh Syafi’iyah adalah hadits dari Ummu Salamah, ia berkata,
كُنْتُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَعِنْدَهُ مَيْمُونَةُ فَأَقْبَلَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ وَذَلِكَ بَعْدَ أَنْ أُمِرْنَا بِالْحِجَابِ فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « احْتَجِبَا مِنْهُ ». فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَيْسَ أَعْمَى لاَ يُبْصِرُنَا وَلاَ يَعْرِفُنَا فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « أَفَعَمْيَاوَانِ أَنْتُمَا أَلَسْتُمَا تُبْصِرَانِهِ ».
Aku berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika Maimunah sedang bersamanya. Lalu masuklah Ibnu Ummi Maktum -yaitu ketika perintah hijab telah turun-. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Berhijablah kalian berdua darinya.” Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah ia buta sehingga tidak bisa melihat dan mengetahui kami?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam balik bertanya: “Apakah kalian berdua buta? Bukankah kalian berdua dapat melihat dia?[8] [Riwayat ini adalah riwayat yang dho’if, lemah]
Abu Daud berkata, “Ini hanya khusus untuk isteri-isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidakkah engkau lihat bagaimana Fatimah binti Qais di sisi Ibnu Ummi Maktum! Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berkata kepada Fatimah binti Qais, ‘Bukalah hijabmu di sisi Ibnu Ummi Maktum, sebab ia adalah seorang laki-laki buta, maka tidak mengapa engkau letakkan pakaianmu di sisinya.”[9]
Adapun pendapat terkuat menurut madzhab Hambali, boleh  bagi wanita melihat pria lain selain auratnya. Hal ini didukung oleh hadits ‘Aisyah dan haditsnya muttafaqun ‘alaih. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata;
رَأَيْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَسْتُرُنِى بِرِدَائِهِ ، وَأَنَا أَنْظُرُ إِلَى الْحَبَشَةِ يَلْعَبُونَ فِى الْمَسْجِدِ ، حَتَّى أَكُونَ أَنَا الَّذِى أَسْأَمُ ، فَاقْدُرُوا قَدْرَ الْجَارِيَةِ الْحَدِيثَةِ السِّنِّ الْحَرِيصَةِ عَلَى اللَّهْوِ
Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menutupiku dengan pakaiannya, sementara aku melihat ke arah orang-orang Habasyah yang sedang bermain di dalam Masjid sampai aku sendirilah yang merasa puas. Karenanya, sebisa mungkin kalian bisa seperti gadis belia yang suka bercanda.”[10]
Yang terkuat adalah pendapat terakhir, yaitu boleh bagi wanita melihat pria lain selain auratnya karena dalil yang mendukung lebih shahih dan lebih kuat. Wallahu a’lam.
Aurat Lelaki di Hadapan Istri
Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan fuqoha bahwa tidak ada batasan aurat antara suami istri. Semua bagian tubuhnya halal untuk dilihat satu dan lainnya, sampai pun pada kemaluan. Karena menyetubuhinya saja suatu hal yang mubah (boleh). Oleh karena itu melihat bagian tubuh satu dan lainnya –terserah dengan syahwat atau tidak-, tentu saja dibolehkan.
Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa dimakruhkan untuk memandang kemaluan satu dan lainnya. Namun hadits yang digunakan adalah hadits yang dho’if. Hadits tersebut adalah,
إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ فَلْيَسْتَتِرْ وَلاَ يَتَجَرَّدْ تَجَرُّدَ الْعَيْرَيْنِ
Jika salah seorang dari kalian mendatangi isterinya hendaklah dengan penutup, dan jangan telanjang bulat.[11]
Akhir Tulisan: Nasehat bagi Penggemar Bola dan Penggemar Renang
Jika kita sudah mengetahui manakah aurat lelaki, ada satu hal yang mesti kami ingatkan tentang tersebarnya kekeliruan di tengah masyarakat mengenai aurat lelaki ini. Yaitu seringkalinya kita melihat para pria buka-bukaan aurat, baik paha yang disingkap –seperti ketika main bola- atau sengaja menyingkap bagian aurat lainnya –mungkin saja ketika renang- dengan hanya memakai –maaf- ‘celana dalam’. Ini sungguh kekeliruan. Dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ
Seorang laki-laki janganlah melihat aurat laki-laki lainnya. Begitu pula seorang wanita janganlah melihat aurat wanita lainnya.” (HR. Muslim no. 338). Artinya, orang yang sengaja buka aurat telah bermaksiat. Aurat sesama pria tentu saja tidak boleh dilihat, lantas bagaimanakah dengan menonton pertandingan bola yang jelas sekarang inisering menampakkan paha karena celana yang digunakan begitu pendek?!
Wabillahit taufiq. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

[1]  HR. Ahmad 2/187, Al Baihaqi 2/229. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan sanad hadits ini hasan
[2] HR. Ad Daruquthni 1/506. Dalam hadits ini terdapat Abul Janub dan dia termasuk perowi yang  dho’if.
[3] HR. Al Baihaqi 2/229 dan Al Jaami’ Ash Shogir 7951. Dalam hadits ini terdapat Sa’id bin Abi Rosyid Al Bashri dan ia termasuk perowi yang dho’if.
[4] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal bin Asy Sayid Salim, Al Maktabah At Taufiqiyah, 3/7.
[5] HR. Bukhari no. 371 dan Muslim no. 1365.
[6] Shahih Fiqh Sunnah, 3/7.
[7] Shahih Fiqh Sunnah, 3/8.
[8] HR. Abu Daud no. 4112, At Tirmidzi no. 2778, dan Ahmad 6/296. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini dho’if.
[9] Lihat Sunan Abi Daud Bab “Firman Allah Ta’ala: وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ “.
[10] HR. Bukhari no. 5236 dan Muslim no. 892.
[11] HR. Ibnu Majah no. 1921. Ibnu Hajar menyatakan bahwa dalam hadits tersebut terdapat Mandal dan ia dho’if (Mukhtashor Al Bazzar, 1/579). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini dho’if. 
readmore »»