. TKA TPA AL BANNA [ انسان مسلم ]: 03/25/12
Have an account?

Minggu, 25 Maret 2012

Pemuda Dan Mahasiswa

readmore »»  

Suara Pembaca

Suara Pembaca

readmore »»  

Metro TV Memfitnah Ulama Besar Yaman dan Univ. Al-Iman Yaman



Berita-berita dusta kembali dipentaskan dipanggung sandiwara MetroTV, yang kali ini Universitas Al-Iman jadi kambing Hitamnya, tidak hanya itu ulama besar Yaman Syaikh Abdul Majid Az-zindany pun difitnah habis-habisan. Terlebih dahulu Silahkan lihat Video ke Dua dari Journalist On Duty- Surga Senjata Mujahiddin-Metro TV di tautan ini:

http://www.metrotvnews.com/read/newsprograms/2012/03/12/11849/535/Surga-Senjata-Mujahiddin

Dari Video ini, ada beberapa Spekulasi Jurnalis yang boleh dikatakan `Ngawur` dan sangat tidak Aktual. Berikut penulis akan mengklasifikasikan beberapa hal yang penting untuk diketahui:

Syekh Abdul Majeed Azzendany dan Al-Iman University

Disamping berkecimpung di Dunia kedokteran, beliau sangat tertarik mengkaji, meneliti, serta mengkaitkan Ilmu kedokteran, teknologi, sains dengan Al-Quran dan AsSunnah, atau lebih akrabnya dengan sebutan `Ijazul Ilmi (Scientific Singns of Qur`an & Sunnah) hingga dari penelitian tersebut membuahkan Penemuan-penemuan, Karya-karyayang spektakuler yang dapat mengislamkan beberapaIlmuan besar. Dan tidak hanya itu, Beliau adalah manusia pertaman yang dapat menyembuhkan Total Pengidap Penyakit Aids. Sebuah penemuan Fenomenal di abad ini yang sudah lebih 15 pasien yang disembuhkan oleh Beliau lewat pertolongan Allah Swt di 2008 kemarin. (Untuk lebih akuratnya silahkan baca Disini atau Kaskus dan Youtube) ditengah kegemilangannya, beliau juga adalah Penggagas Commission on Scientific Sings of Quran & Sunnah lembaga yang mengkajian aspek Sains & teknologi dalam Al-Quran dan As-sunnah yang didirikan pada tahun 1987 di bawah surverisi Rabithah Alam Islami di Makkah Al-Mukarromah, karena ingin menyambung stafet Dakwa di Negeri kelahirannya, posisi itu di pindah amanahkan ke Syekh Dr. Abdullah Al-Mushlih seorang ulama Saudi Arabia hingga setelah itu Beliau masih diberi umur panjang untuk menjabat sebagai ketua badan persatuan ulama Yaman, serta termasuk anggota Majlis Syoro di partai Islam terbesar (partai Islah-Red) di bumi Kaum Saba itu.

Selain bergelut di dunia politik beliau berinisiatif bembuka lembaga islam yang dengan izin Allah Swt Diresmikan dengan peletakan batu pertama pada tahun 1993 bersama mantan president Ali Abdullah Sholeh berupa Insitusi Perguruan tinggi yang diberi nama Universitas Al-Imanterletak di jantung Ibu Kota Yaman (Sana`a-Red).

Perguruan tinggi ini juga tergabung dalam persatuaan Universitas Liga arab dan terakreditasi dikementrian pendidikan tinggi Yaman dengan Akreditasi No 28 tahun 1993, tertanggal 14 Syakban 1414 H yang bertepatan dengan tanggal 17 Desember 1993 M.

Isu Terorisme dan saepudin Zuhri (SZ)

Paska tragedi Konspirasi 11 September, marak Isu terorisme berserekan di berbagai media Masa, para jurnalis dari berbagai Siaran TV berbondong-bondong meliput berita terkait dengan isu tersebut yang terus dipopulerkan hingga sekarang. Propaganda ini kerap dimanfaatkan oleh Oknom-oknum yang tidak senang dengan Islam sebagai sarana Memfitnah termasuk salah satunya tuduhan Syekh Abdul Majid Az-Zindany yang telibat jaringan Al-Qoidah serta Universitas Al-Iman yang memiliki bayak cabang di seantro Yaman dengan ribuan mahasiswannya. Karena difitnah sebagai rektor Universitas beliau segera menuntut atas pencemaran nama baiknya hingga mantan president Yaman Ali abdulllah Sholeh turun membantu dalam permasalahan ini. Silahkan lihat Videonya.

Tidak berhenti sampai disini, sebab adanya Intrik dibalik layar yang lewat kasus saepudin Zuhari (SZ) beliau beserta Insitusinya difitnah sekali lagi, dan sangat disayangkan media yang kali ini mencemarkan nama baik beliau adalah Metro TV lewat jurnalisnya yang heroik menghidangkan Berita Basi kepada Khalayak Indonesia.

Perlu diketahui bahwa SZ adalah mahasiswa yang hanya sempat belajar beberapa bulan alias tidak lulus tahun pertama di Univ. Al-Iman, kemudian pindah dan menyelesaikan program S1nya di Universitas Yemenia. Sangat aneh Jika hanya berdalihkan demikian menuduh Univ. Al-Iman sebagai markas Al-Qoidah, apakah Cuma SZ saja yang pernah belajar disana? Bagaiman dengan mahasiswa dan alumni lainnya? kenapa tidak mengamati lebih lanjut apa-apa yang terdapat dan diajarkan dalam Universitas tersebut?, seakan ada yang membisik dan membodohinya hingga seorang jurnalis tidak tahu siapa pelaku penyerangan Univ. Al-Iman kemarin. Jika memang Metro TV salah satu saluran berita yang aktual, setidaknya Metro TV perlu sedikit belajar tentang bahaya menfitnah seseorang, apalagi yang difitnahnya itu adalah tokoh besar Islam, Ulama, politikus sekaligus Ilmuan.

Lucunya Metro TV, bagaimana bisa Univ. Al Iman di tuduh sebagai markas Al-Qaida?
Padahal kampus Univ. Ali Iman adalah salah satu kampus swasta yang terakreditasi di Kementerian Pendidikan Tinggi Yaman dengan Akreditasi No 28 tahun 1993, tertanggal 14 Syakban 1414 H yang bertepatan dengan tanggal 17 Desember 1993 M. berlokasi di jantung ibu kota Sana’a yang bersebelahan dengan markas militer Yaman. Selain itu memiliki lebih dari enam ribu mahasiswa dan memilki kampus cabang hampir di setiap provinsi di Yaman,

Jika ada tuduhan bahwa Univ. Al Iman adalah sarang Al-Qaidah, seharusnya lebih dari enam ribu mahasiswa Yaman sudah tidak dilegalkan.

Kami khawatir dengan pemberitaan yang seperti ini bisa berdampak negatif kepada hubungan kedua Negara (Indonesia-Yaman).

Entah apa yang di inginkan Metro TV dari pemberitaan yang bias seperti ini?

Mereka melakukan liputan di kampus tersebut tanpa izin dan konfirmasi terlebih dahulu kepada pihak akademinya. Apakah mereka hanya bertujuan menaikkan rating dan mengejarkan keuntungan semata?

Atau mereka mempunyai hiden agenda lain? Atau sengaja ingin membenturkan sesama kelompok Ahli Sunnah seperti dengan menyebutkan bahwa mahasiswa Al Iman tidak disukai oleh kalangan Sunni Sufy? Atau pengalihan isu Syiah yang sedang populer sekarang ini?

Oleh karena itu kami menuntut pihak Metro TV agar meminta maaf dan memulihkan nama baik universitas.

Sana’a 18 Maret 2012
Dewan Pengurus Wilayah Sana’a Persatuan Pelajar Indonesia di Yaman (DPW PPI San’a)
readmore »»  

Pernyataan Dukungan Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Terhadap Fatwa MUI JATIM Tentang Ajaran Syiah



Siaran Pers MAJELIS INTELEKTUAL DAN ULAMA MUDA INDONESIA (MIUMI)

Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji hanya bagi Allah ‘Azza wa Jalla, dan Shalawat Salam senantiasa tercurah kepada Baginda Kita Nabi Muhammad SAW beserta para keluarganya yang mulia dan para sahabatnya yang memperjuangkan tegaknya Al-Islam sepenuh jiwa, raga dan harta, sepanjang zaman hinggayawmil akhir.

Dengan memperhatikan perkembangan kehidupan beragama di Indonesia, dan dakwah Islam khususnya, Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) terus memantau secara ilmiah dan syar’iyah penanganan Kasus Syiah di Sampang-Madura yang meresahkan warga masyarakat dan mengancam persatuan dan keutuhan bangsa.

MIUMI memandang bahwa selama ini Pemerintah Republik Indonesia dan elit politik di negeri ini sering memanfaatkan dukungan suara umat Islam yang mayoritas dalam setiap kebijakan pembangunan Indonesia, namun Pemerintah RI dan elit politik lalai dan tak peduli untuk melindungi akidahAhlus Sunnah wal Jama’ah yang dianut oleh mayoritas umat Islam. Akidah bagi umat adalah persoalan hak asasi yang paling fundamental.

Bahkan akidah Aswaja itu telah menyatu tertanam kuat menjadi bagian terpenting kultur Islam di Indonesia. Umat yang terusik akidahnya bisa melakukan apa pun untuk membela dan mempertahankan akidah yang dianutnya.

Pasca peristiwa pembakaran rumah pendakwah Syiah Tajul Muluk dan beberapa fasilitas lainnya yang terjadi pada 29 Desember 2011, pada tanggal 1 Januari 2012 Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kab. Sampang telah mengeluarkan Fatwa No. 035/MUI/Spg/I/2012 tentang Ajaran yang Disebarluaskan Sdr. Tajul Muluk di Kec. Omben Kab. Sampang, kemudian tanggal 21 Januari 2012 MUI Propinsi Jawa Timur menindaklanjuti dan memperkuatnya dengan Keputusan Fatwa MUI Jawa Timur No. Kep-01/SKF-MUI/JTM/I/2012 tentang Kesesatan Ajaran Syi’ah.

Alhamdulillah, Fatwa dari kedua institusi ulama yang dihormati oleh masyarakat Madura dan Jawa Timur itu mampu meredam aksi massa paska Kasus Syi’ah di Sampang yang sempat menjadi isu nasional menjelang pergantian tahun lalu. Oleh karena itu, MIUMI mengungkapkan terimakasih kepada para Ulama Madura dan Jawa Timur yang cepat tanggap menyikapi Ajaran Syi’ah di Sampang sebagai bentuk tanggung jawab keulamaan dalam membimbing umat.

Perlu diketahui, bahwa dari kasus Syi’ah Sampang ini, kita dapat memetik pelajaran penting bahwa masyarakat warga Sunni Nahdlatul Ulama (NU) yang dikenal sangat toleran pun merasa sangat terusik dengan ajaran-ajaran Syi’ah yang dikembangkan Tajul Muluk yang bersumber dari doktrin-doktrin utama Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah.

Sejalan dengan fungsi dan tugas MIUMI yang bertujuan membangun dan memperkuat otoritas fatwa ulama dan lembaga keulamaan di tanah air, maka MIUMI menyatakan hal-hal sebagai berikut:
Mendukung dua (2) Fatwa tentang Ajaran Syi’ah, baik yang dikeluarkan oleh MUI Kab. Sampang maupun MUI Propinsi Jawa Timur sebagai pedoman bagi umat Islam Indonesia untuk mengetahui penyimpangan ajaran Syi’ah.
Menghimbau kepada Pemerintah dan masyarakat luas untuk mematuhi fatwa tersebut dalam upaya untuk melindungi dan mempertahankan akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Meminta kepada para penganut ajaran Syi’ah (Imamiyah Itsna ‘Asyariyah/ Ja’fariyah) untuk Ruju’ ila al-Haqq dan meninggalkan ajaran-ajaran Syi’ah yang menyimpang dan menyesatkan.
Meminta kepada ormas-ormas Islam dan para alim ulama seluruh Indonesia untuk meningkatkan persatuan dan persaudaraan dalam upaya melawan politik adu domba dan perpecahan opini terkait ajaran Syi’ah di Indonesia.
Menolak klaim dan tuduhan sesat bahwa umat Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah penyebab disintegrasi bangsa dalam soal Sunni-Syi’ah. Sebaliknya, kaum Syi’ah di Indonesia lah penyebabnya, karena telah menyerang dan menistakan pokok-pokok keyakinan Ahlus Sunnah terkait status Al-Qur’an, kehormatan para Sahabat dan Isteri Rasulullah SAW, kema’shuman imam, dan juga sebagian aspek syari’ah Islam.

Ditetapkan di Jakarta, 19 Maret 2012.

Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi (Ketua)

Bachtiar Nasir, Lc. MM. (Sekretaris Jenderal)

Tembusan kepada Yth:
  1. Menteri Agama RI
  2. MUI Pusat
  3. MUI Propinsi Jawa Timur
  4. PW NU Jawa Timur
  5. PW Muhammadiyah Jawa Timur
readmore »»  

Gerakan Fajar Nusantara Aliran Sesat



Assalamu'alaikum Wr. Wb

Kepada Yth.
Pimpinan Redaksi Eramuslim

Akhir-akhir ini saya memperhatikan ada kegiatan-kegiatan dengan berdalih Melayani Umat maupun aksi sosial khususnya di Jakarta yang dilakukan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar).

Tetapi banyak tidak tahu siapa itu GAFATAR.
Gafatar dulunya namanya Komar (Komunitas Millah Abraham) dan sebelum namanya Komar mereka mempunyai Al-Qiyadah Islamiyah (Ajaran sesat dengan Nabi Palsunya Ahmad Musadek - sekarang ada di LP Cipinang).

Aliran Komar sudah menyebar dari Aceh sampai Ambon, banyak anggota Komar ditangkap polisi karena menyebarkan aliran sesatnya.

Khusus di DKI, Ormas Gafatar selalu mengadakan acara Donor Darah di kantor PMI, dan juga melakukan aksi sosial lainnya, itu merupakan cara mereka untuk menutupi kesesatannya.

Untuk pengurusnya adalah Ketua Umum DPP Gafatar yaitu Mahful Muis dengan nama baiatnya Imam Hawary adalah mantan Ketua AlQiyadah Islamiyah wilayah Sulawesi Selatan (Makasar) yang sempat ditangkap dan dibawa ke sidang pengadilan (coba ketik Mahful Muis di google)
Wakil Ketua Umum yaitu Wahyu Sandjaya dengan nama baiatnya A Ghazali Muhtadi.
Untuk Pengurus Wilayah DKI Jakarta yaitu Lucky Akri Wibowo

Untuk memastikan coba klik di youtube.com dan ketik Al Qiyadah Al Islamiyah atau Ahmad Musadek, disitu akan terlihat Wahyu Sanjaya duduk berdampingan dengan Ahmad Musadek dalam acara Baiat aliran mereka dan juga ada Berny Satria (Sekjen Gafatar) di video lainnya.
Ciri-ciri ajaran mereka : tidak wajib sholat 5 waktu, tidak wajib puasa ramadhan, syahadat mereka berbeda, yang bukan kelompok mereka dianggap kafir.

Saya menilai GAFATAR akan menyesatkan Umat Islam

Ttd Ahmad Saidi
readmore »»  

Menyelamatkan Peradaban



“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata"
(QS. Al Fath : 1)

Kemenangan merupakan cita-cita luhur, mulia dan senantiasa didambakan oleh umat muslim di seluruh dunia. Banyak orang yang bertanya, kapan kemenangan itu akan datang? Jawaban paling tepat adalah ketika umat ini sudah pantas untuk menang.

Pantas, itulah idealitas sekaligus konsekuensi logis dari sebuah cita-cita mulia peradaban. Pilar Peradaban yang terdiri dari khazanah manusia dan sistem tatanan kehidupan haruslah memiliki standar kepantasan yang kokoh untuk menyokong bangunan peradaban tersebut.

Mari kita mencoba refleksi 14 Abad yang lalu di dunia Arab, dimana Rasulullah SAW mampu mengubah peradaban jahiliah menjadi peradaban Islam. Adapaun faktor penentu keberhasilan Rasulullah tersebut bukan semata-mata hanya karena satu orang Rasul saja, akan tetapi berasal dari pesona dan kualitas manusia di zaman rasul tersebut serta sistem tatanan kehidupan yang sudah jelas hakikat kebenarannya. Dua pilar tersebut yang membangun peradaban Islam dan menggantikan peradaban jahiliyah.

Indonesia, Negara yang memiliki kuantitas muslim terbanyak seharusnya memiliki tuntutan untuk mampu menjadi kontributor peradaban dunia. Bahkan boleh jadi, bukan hanya menjadi kontributor semata tetapi juga diharapkan bisa menjadi “centre of civilization“ atau pusat peradaban.

Akan tetapi, menilik kondisi bangsa kita saat ini kita akan kembali mempertanyakan, apakah Indonesia mampu untuk menyumbang peradaban tersebut? Di Indonesia, dua pilar yang diharapkan mampu menyokong bangunan peradaban tersebut sedang sakit bahkan bisa dibilang cacat. Peradaban tidak hanya membutuhkan kuantitas manusia dalam jumlah besar saja akan tetapi kualitas manusia merupakan faktor penting penentu kokohnya pilar tadi.

Penjajah utama yang belum bisa diusir Indonesia dari dulu adalah kebodohan. Kebodohan tersebut terus menerus menyerang manusia Indonesia, akses informasi tak terbatas membuat masyarakat kita kelebihan informasi. Dan ternyata, kelebihan informasi yang diterima masyarakat tersebut bukanlah informasi yang membangkitkan semangat keoptimisan untuk bangkit akan tetapi justru informasi negatif yang membuat masyarakat pesimis bahwasanya masih adakah cahaya untuk negeri ini.

Kelebihan informasi tentang caruk-maruk Indonesia yang disajikan secara kontinyu lama kelamaan menimbulkan sebuah penyakit masyarakat yaitu “Penyakit Imun” atau Kebal Negatif, yaitu penyakit melemahnya sensitivitas masyarakat atas berbagai kejahatan. Masyarakat sudah tidak terlalu peduli lagi jika ada kasus korupsi senilai ratusan juta rupiah karena sudah terlalu biasa melihat kasus dengan level demikian bahkan lebih tinggi.

Mayoritas umat muslim Indonesia pun demikian, karena sudah terlalu banyak pencitraan negatif seputar Islam maka ketika ada isu yang menghina agama mereka sendiri, mereka tidak berpikir bagaimana cara meng-counter dan meluruskan isu tersebut akan tetapi lebih memilih diam dan apatis atau bahkan tidak sedikit juga yang malah pro dengan isu negatif tersebut.

Ya, itu semua berawal dari kebodohan yang terstruktur dan berkelanjutan sehingga menjadi penyakit imun di dalam tubuh masyarakat kita. Penyakit Imun ini jika tidak segera ditangani akan menular kepada generasi-generasi selanjutnya yang pada akhirnya akan timbul juga kebodohan yang tak berkesudahan, begitulah rantai penjajahan mayarakat kita hari ini.

Menjadi hal yang cukup menarik ketika membahas bagaimana cara menyelamatkan peradaban yang sudah diwariskan oleh Rasulullah SAW, dengan permasalahan rantai penjajahan masyarakat diatas. Barangkali solusi praktisnya adalah “putus saja rantainya”, dengan cara obati penyakit imunnya.

Pengobatan terhadap penyakit imun memang bukanlah hal yang instant untuk dilakukan karena penyakit imun menyerang hati dan pikiran manusia. Penyakit imun ini mampu menimbulkan efek distrust kepada para pemimpin negeri ini dan lebih parah lagi akan membuat disorientasi pada masyarakat kita. Dua efek ini jika tidak segera diantisipasi akan menjadi bom waktu yang bisa menghancurkan peradaban bangsa dan umat ini.

Oleh karena itu jika kita ingin menjinakkan bom waktu tersebut, kita harus segera melakukan terapi terhadap penyakit imun ini. Saat ini ada 2 obat yang kita butuhkan untuk mengobati penyakit ini, yakni strong leadership dan penguasaan media. Strong leadership disini memiliki artian Kepemimpinan yang berani dan berintegritas, menegakkan yang haq dan memberantas yang batil.

Tidak mungkin masyarakat menerima informasi negatif tanpa ada sumbernya, yaitu negative’s subject yang dalam konteks ini mereka melihat tokoh dan pemimpin mereka melakukan tindakan amoral. Eksekutif kita yang dihegemoni oleh KKN dengan birokrasi yang tidak efisien, legislatif yang disinyalir sangat korup juga yudikatif yang memperlihatkan bagaimana pengadil-pengadil kita digelandang ke pengadilan karena berbagai kasus.

Semua hal itu harus segera ditangani oleh kepemimpinan yang berani, kuat, adil dan berintegritas. Siapakah pemimpin yang memiliki jiwa seperti itu? Tentunya negeri ini tidak akan menjumpai lagi orang-orang secapable Abu Bakar, Umar, Ali, Utsman ataupun Umar Bin Abdul Aziz. Mereka ialah orang-orang yang memiliki visi dan orientasi akhirat, sehingga mereka menganggap dunia hanyalah tempat bersinggah sementara dan dan tidaklah menarik bagi mereka segala isi dunia beserta perhiasannya.

Tantangan kita untuk mengobati penyakit ini adalah bangsa kita harus segera mencari dan mencetak pemimpin-pemimpin yang memiliki orientasi akhirat tersebut. Umat ini akan melahirkan pemimpin-peminpin berorientasi akhirat apabila sadar dan memahami betul akan ideologi mereka yaitu ideologi yang benar-benar berasal dari Penciptanya yaitu Sang Maha Benar dan Maha Agung, yang bersifat universal dan integral, bukan ideologi yang dibuat menggunakan akal logika manusia yang sifatnya relatif dan tentatif.

Pemimpin yang memiliki ideologi tersebut nantinya dituntut untuk menularkan nilai-nilai positif sehingga mampu memberikan keteladanan di masyarakat. Melalui keteladanan itulah, semangat keoptimisan masyarakat bisa kembali dibentuk sehingga semua orang akan bahu-membahu bekerja untuk memperbaiki dan menyolusikan jutaan permasalahan di negeri ini.

Pengobatan kedua adalah penguasaan sosial media, seperti kita ketahui bersama bahwa saat ini masyarakat hidup dalam era dimana kondisi arus informasi yang berlebih. Setiap orang bisa mengonsumsi segala bentuk informasi dari segala bentuk media kapan saja dan dimana saja.

Fakta sosiologis inilah yang membuat Yahudi mati-matian berjuang untuk menguasai media, karena mereka percaya bahwa “orang yang menguasai dunia adalah orang yang menguasai media”. Karena media adalah stimulus bagi opini publik, pembangkit simpati di satu sisi dan amarah di sisi lain.

Media juga merupakan sarana terbaik untuk menyukseskan program “Mind Control” yang mereka yakini sebagai strategi paling ampuh mengendalikan manusia untuk kepentingan mereka menguasai dunia. Saat ini kita bisa melihat fakta bagaimana Yahudi bisa mengendalikan segala informasi yang ada di dunia.

Begitu juga di negeri kita, masyarakat bisa sangat mudah terpengaruh akan segala bentuk opini di media yang belum tentu kebenarannya. Yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar, itulah kondisi riil media kita saat ini dimana terdapat banyak sekali kepentingan didalamnya.

Boleh jadi sehebat apapun kapabilitas pemimpin di negeri ini jika tidak mampu mengendalikan media maka akan tetap dicitrakan negatif karena kontra kepentingan. Ironisnya, saat ini umat Islam belum memiliki media yang lebih ampuh untuk menandingi pembentukan opini publik yang dilakukan oleh media yang tidak berpihak pada Islam.

Bagaimanapun, umat Islam saat ini harus mulai berpikir bagaimana media Islam yang dimiliki bisa dioptimalkan sebagai garda terdepan untuk memperbaiki stigma negatif yang dialamatkan kepada Islam, media Islam juga harus mampu menjernihkan stigma negatif tersebut sehingga nilai-nilai keislaman yang agung dapat ditransformasikan secara benar dan reputasi citra Islam dapat diperbaiki. Senjata umat Islam saat ini bukan lagi pedang dan panah, tetapi opini, media dan kecerdasan.

Apabila umat Islam sudah mampu untuk menguasai media, maka opini dan semangat keteladanan yang timbul dari “Strong Leadership” yang dimiliki pemimpin kita akan sangat mudah ditularkan kepada mayarakat sehingga akan timbul perasaan saling percaya antara pemimpin dengan masyarakat. Dengan demikian masyarakat akan lebih mudah untuk diarahakan secara komunal untuk mengerjakan proyek-proyek kebaikan.

Strong Leadership yang berasal dari pemimpin berorientasi akhirat serta penguasaan sosial media, Dua terapi inilah yang saat ini harus segera dilakukan oleh Umat Islam sehingga lama-kelamaan “penyakit imun” yang sudah menjadi penyakit masyarakat dapat terobati, kemudian menjelma menjadi semangat keoptimisan umat untuk kembali menyelamatkan peradaban yang sudah diwariskan oleh Rasulullah SAW.

Apabila peradaban ini sudah berhasil kita selamatkan, maka yakinlah bahwasanya kemenangan nyata yang sudah dijanjikan Allah dalam Surat Al Fath:1 pasti akan segera datang. Allahu Akbar!!!

Ardian Fajar Prastyawan, Mahasiswa Teknik Sipil ITB

readmore »»  

Benarkah Tidak Ada Penunjukan Kepemimpinan Oleh Rasulullah Sebelum Beliau Wafat?



Salah satu pernyataan yang kerap kali dilontarkan oleh para penolak dan penentang ide khilafah sebagai sistem kepemimpinan tunggal di dalam Islam yakni bahwa Rasulullah saw tidak pernah menunjuk secara langsung siapa pengganti beliau ketika beliau wafat, bahkan menjelang akhir hayatnya pun beliau tidak menunjuk siapa yang berhak menggantikan posisi untuk mengurusi umat Islam khususnya, dan seluruh umat manusia pada umumnya.

Pendapat di atas, secara sekilas tampak benar, karena memang tidak ada di dalam catatan sirah nabawiyah yang menyebutkan bahwa Rasulullah pernah menunjuk seseorang sebagai pengganti beliau dalam hal ri’ayah su’unil ummah. Namun juga, pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar, atau lebih tepatnya keliru dan salah, karena tidak menunjukan pemahaman akan nash-nash yang ada baik di dalam al qur’an, al hadist juga tidak malakukan kajian mendalam terhadap ijma’ sahabat yang ada seputar imamah/kekhilafahan. Oleh karenanya, selayaknya kita merujuk kepada sirah nabawiyah akan perjuangan dan aktivitas dakwah Rasulullah saw, khusunya ketika sakit dan menjelang wafatnya beliau.

Masa sakit beliau

Dua bulan setelah menunaikan ibadah Haji Wadak (haji terkahir), Nabi mengalami demam. Badannya mulai lemah. Meskipun demikian ia tetap memimpin salat berjama’ah.
Namun setelah merasa sangat lemah, ia menunjuk Abu Bakar menjadi penggantinya sebagai imam shalat. Dalam sirah nabawiyah kita bisa membaca dan melihat bahwa waktu itu ketika Rasulullah saw sakit, Umar kemudian berinisiatif menjadi Imam sholat bagi kaum muslim.

Suara takbir yang diucapkan oleh Umar ketika sholat terdengar oleh Rasulullah. Kemudian Rasulullah mengatakan bahwa “Allah dan kaum muslim tidak menyukai ini, dimana Abu Bakar? Suruhlah dia untuk memimpin sholat berjama’ah kaum muslim”, perintah Rasulullah. Lalu kemudian Abu Bakar kemudian memimpin kaum muslim untuk sholat secara berjama’ah.

Dari fragment di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa ada qarinah atau indikasi bahwa adanya isyarat kepemimpinan oleh Abu Bakar yang akan menggantikan posisi beliau dalam mengurusi umat Islam. Sebagaimana juga yang kita bisa lihat dalam makna hakiki dari salah satu perjalanan Isra’ mikrajnya Rasulullah saw di bulan rajab ketika menjadi Imam bagi semua nabi. Yakni isyarat kepemimpinan untuk seluruh umat manusia, hal ini bisa dipahami dari peristiwa ketika Rasul berada di Masjidil Aqsha, atas kehendak Allah Swt., seluruh nabi mulai Adam a.s hingga Isa a.s dihidupkan.

Beliau sempat berbicara dengan mereka. Di masjid ini Rasulullah menjadi imam shalat jamaah khusus dengan makmum para nabi (Adz Dzahabi, Sirah Nabawiyah, hlm.154). Rasul menjadi imam shalat para nabi yang memimpin umat manusia dengan zaman yang berbeda-beda, suku yang berbeda-beda dan warna kulit yang berbeda-beda pula. Maka ketika Sahabat Rasulullah Abu Bakar as-Shiddik menjadi Imam sholat bagi seluruh kaum muslimin, dan itu merupakan perintah langsung dari Rasulullah saw maka itu menunjukan adanya isyarat kepemimpinan dari beliau kepada Abu Bakar ra.

Bahkan dalam catatan sirah, Rasulullah pernah berpidato dihadapan kaum Anshar dan Muhajirin, yang di dalam pidato itu menunjukan adanya isyarat bahwa kepemimpinan pasca Rasulullah saw adalah dari kalangan suku Quraysi. Dan Abu Bakar merupakan salah satu tokoh dari suku Quraysi.

Bahwa Nabi telah bersabda: ‘Pemimpin adalah dari orang Quraisy,’ maka janganlah kalian bersaingan dengan saudara-saudara kalian kaum Muhajirin dalam anugerah yang dilimpahkan Allah bagi mereka…”

Kemudian, secara ijma’ tidak ada yang mengingkari penunjukan Abu Bakar sebagai khalifah pengganti Rasulullah baik dari kalangan Anshar maupun Muhajirin. Hal ini bisa terlihat bagaimana proses tepilihnya Abu Bakar menjadi khalifah di Bani Saqifah.

“Konferensi Politik” di Saqifah

Ketika Rasulullah saw wafat, para sahabat dari kalangan Anshar berkumpul di Saqifah, mereka membahas siapa yang kan menggantikan posisi Rasulullah saw sebagai pemimpin umat ini. Mereka malah sibuk dengan urusan tersebut dan mendiamkan jenazah Rasulullah saw. Mendengar aktivitas sahabat dari kalangan Anshar tersebut maka sebagian kaum Muhajirin datang ke tempat itu dan terjadi perdebatan siapa yang layak menjadi pengganti Rasulullah saw, dan sebagian sahabat lain dari kalangan Muhajirin berdiam diri.

Tidak ada satupun dari kalangan sahabat baik dari golongan Muhajirin dan Anshar yang menentang aktivitas para sahabat di bani Saqifah tersebut yang berarti menunjukan adanya kesepakatan para sahabat Rasulullah saw, inilah ijma’ sahabat. Dan ijmak sahabat merupakan bagian dari dalil syari’ah.

Mungkin ada pertanyaan, mengapa para sahabat dari kalangan Anshar melakukan semacam musyawarah hanya diantara mereka tanpa melibatkan saudara-saudara mereka dari kalangan Muhajirin? Hal ini bisa dimaklumi karena beberapa kali kaum Anshar merasa ”ditinggalkan”. Salah satu contoh, ketika Rasulullah SAW memberikan ghanimah (harta rampasan) perang Hunain lebih banyak kepada para ”muallaf” Makkah daripada kaum Anshar. Ini membuat kaum Anshar “marah” karena cemburu.

Untunglah, perasaan cemburu itu hilang setelah Rasulullah SAW memberi nasihat. Kata beliau, sengaja ini dilakukan karena iman kaum Anshar lebih kokoh daripada muallaf Makkah.

”Wahai saudara-saudara Anshar, tidakkah kalian rela jika orang-orang itu pulang membawa kambing dan onta sedangkan kalian pulang membawa Rasulullah ke tempat kalian?” Ucapan Rasulullah SAW itu membuat kaum Anshar merasa terharu.

Namun, setelah Rasul wafat, kaum Anshar tidak ingin perlakuan yang bisa membuat cemburu itu terulang. Mereka pun berkumpul. Begitu pentingnya pertemuan itu hingga Sa’ad bin Ubadah, pemimpin kaum Khazraj yang saat itu sedang sakit, diminta hadir.

Dalam pertemuan itu, Sa’ad berpidato di hadapan kaum Anshar. Dia bilang, merekalah yang lebih mulia dibanding Muhajirin karena merekalah yang melindungi Rasulullah SAW selama sepuluh tahun di saat kaum Muhajirin tidak mampu berbuat apa-apa.

Mereka yang hadir pun sependapat dengan Sa’ad. Mereka mengatakan, ”Kami serahkan persoalan ini ke tanganmu. Demi kepentingan kaum Muslim, engkaulah pemimpin kami.”
Abu Bakar, Umar, serta Abu Ubaidah segera pergi menuju Saqifah setelah mendengar kabar bahwa kaum Anshar telah memperbincangkan masalah kepemimpinan.

Begitu datang, Umar berinisiatif hendak berbicara. Namun, Abu Bakar menahannya. Beliau memahami sifat Umar yang keras.

”Sabarlah! Aku yang akan berbicara. Sesudah itu silakan engkau berbicara sesukamu,” kata Abu Bakar.

Abu Bakar kemudian berpidato. Beliau menjelaskan kelebihan kaum Muhajirin. Merekalah yang lebih dahulu beriman dan berjuang bersama Rasulullah SAW. Mereka pula yang menanggung penderitaan karena membelanya, dan mereka termasuk kerabat dan para sahabatnya, sehingga merekalah yang berhak memegang kepemimpinan.

Tapi, di sisi lain, Abu Bakar juga menyebutkan kelebihan Anshar. Mereka telah membela kaum Muhajirin bersama Rasulullah SAW, hingga jika Muhajirin memimpin maka Anshar pun diikut sertakan. ”Kami amir dan tuan-tuan adalah wazir.”

Perkataan Abu Bakar mampu membuat situasi lebih tenang. Mereka pikir, terpilihnya Muhajirin membuat persaingan antara kaum Aus dan Khazraj melemah.

Akan tetapi, semangat mempertahankan Anshar masih ada. Mereka kukuh berpendapat, kaum Anshar lah yang berhak memimpin.

Abu Bakar mengulangi pernyataan sebelumnya: ”Muhajirin amir dan Anshar wazir”
Keadaan kembali memanas setelah Al Hubaib bin al-Munzir bin al-Jamuh mengajak Anshar untuk mempertahankan posisi. Umar, yang sebelumnya menahan diri untuk tidak berbicara, kini ikut berdiri dan berbicara, ”Orang-orang Arab tidak akan mengangkat kalian, jika nabinya bukan dari kalian!” Tak terelakkan, suasana di Saqifah menjadi tegang.

Al Hubaib kemudian berdebat sengit dengan Umar. Hingga Abu Ubaidah yang semula diam, angkat berbicara, ”Wahai saudara-saudara Anshar, kalian adalah pihak yang pertama memberikan bantuan, janganlah menjadi pihak pertama yang mengadakan perombakan.”

Basyir bin Sa’ad, salah satu pemimpin Khazraj, menyambut pernyataan Abu Ubaidah. Dia menyatakan, kaum Anshar tidak memiliki tujuan duniawi, juga tidak berhak untuk menyombongkan diri, sehingga hendaknya mereka jangan bertengkar dengan Muhajirin, karena mereka yang lebih berhak menjadi pemimpin.

Kata-kata Basyir membuat suasana Saqifah tenang kembali. Melihat situasi yang mendukung, Abu Bakar langsung mempersilakan para hadirin untuk memilih Umar bin Al Khattab atau Abu Ubaidah. Majelis kembali gaduh, hingga Umar berinisiatif untuk balik menawarkan bai’at kepada Abu Bakar Ash Siddiq.

Dengan suaranya yang lantang, Umar berkata, ”Abu Bakar! Bentangkan tanganmu! Bukankah Nabi menyuruhmu memimpin kaum Muslimin melaksanakan shalat? Engkaulah penggantinya. Kami akan mengikrarkan orang yang paling disukai Rasulullah SAW di antara kita semua.”

Para sahabat tidak ada satupun yang menolak dipilihnya Abu Bakar ra sebagai khalifah, karena dimata para sahabat beliau memang layak dan pantas untuk menjadi pengganti beliau.

Benarkah Imam Ali Merima Wasiat Kepemimpinan Dari Rasulullah?

Ada juga pihak-pihak yang menolak kepemimpinan Abu Bakar tersebut dengan mengatakan bahwa Rasulullah telah berwasiat kepada Ali tentang kepemimpinan dengan berhujjah kepada hadist yang berbunyi : Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka inilah Ali sebagai pemimpinnya juga (man kuntu maula hu fa hadza Ali maula hu)”

Dengan berhujjah kepada hadist tersebut sebagian kalangan mengatakan bahwa kekhalifahan Abu Bakar, Umar dan Utsman tidak sah, karena Rasulullah saw telah berwasiat kepada Ali Bin Abi Thalib. Peristiwa bersejarah ini dikenal dengan “hadits ghadir khum” yang mencapai derajat mutawatir.

Hadist di atas memang hadist yang mutawatir, bahkan ada 110 perawi yang tercatat. Al-Amini dalam karya monumentalnya al-Ghadir sebanyak 11 jilid dengan panjang lebar menelusuri sumber-sumber rujukan hadits tersebut.

Namun, persoalannya tidaklah sesederhana itu, perlu melakukan kajian mendalam terhadap asbabul wurud hadist tersebut sehingga tepat dalam penggunaannya.
Adapun yang dimaksud dari hadits : “Man Kuntu Maulahu Fa Aliyyun Maulahu”, maka dalam kitab-kitab sejarah yang ditulis oleh ulama-ulama Ahlussunnah diterangkan sebagai berikut :

Pada tahun 10 H, Rasulullah beserta para sahabat berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji dan haji tersebut kemudian dikenal dengan haji Wada’.

Bertepatan dengan itu, rombongan Muslimin yang dikirim oleh Rasulullah ke Yaman sudah meninggalkan Yaman, mereka menuju Mekkah, untuk bergabung dengan Rasulullah. Rombongan tersebut dipimpin oleh Imam Ali bin Abi Thalib.

Begitu rombongan sudah mendekati tempat dimana Rasulullah berada, maka Imam Ali segera meninggalkan rombongannya guna bertemu dan melapor kepada Rasulullah SAW, dan sebagai wakilnya adalah sahabat Buraidah.

Sepeninggal Imam Ali, Buraidah membagi-bagikan pakaian hasil rampasan yang masih tersimpan dalam tempatnya, dengan maksud agar rombongan jika masuk kota (bertemu dengan yang lain) kelihatan rapi dan baik.

Namun begitu Imam Ali kembali menghampiri rombongannya beliau terkejut dan marah, serta memerintahkan agar pakaian-pakaian tersebut dilepaskan dan dikembalikan ke tempatnya. Hal mana karena Imam Ali berpendapat, bahwa yang berhak membagi adalah Rasulullah SAW.

Tindakan Imam Ali tersebut membuat anak buahnya kecewa dan terjadilah perselisihan pendapat. Selanjutnya begitu rombongan sudah sampai ditempat Rasulullah, Buraidah segera menghadap Rasulullah dan menceritakan mengenai kejadian yang dialaminya bersama rombongan dari tindakan Imam Ali. Bahkan dari kesalnya, saat itu Buraidah sampai menjelek-jelekkan Imam Ali di depan Rasulullah SAW.

Mendengar laporan tersebut, Rasulullah agak berubah wajahnya, karena beliau tahu bahwa tindakan Imam Ali tersebut benar.

Kemudian Rasulullah bersabda kepada Buraidah sebagai berikut :

“ Hai Buraidah, apakah saya tidak lebih utama untuk diikuti dan dicintai oleh Mukminin daripada diri mereka sendiri”.

Maka Buraidah menjawab :

“ Benar Yaa Rasulullah”.

Kemudian Rasulullah bersabda :

“ Barangsiapa menganggap aku sebagai pemimpinnya, maka terimalah Ali sebagai pemimpin”.

Yang dimaksud oleh hadits tersebut adalah, apabila Muslimin menganggap Rasulullah sebagai pemimpin mereka, maka Imam Ali harus diterima sebagai pemimpin, sebab yang mengangkat Imam Ali sebagai pemimpin rombongan ke Yaman itu Rasulullah SAW. Karena itu dia harus dicintai dan dibantu serta dipatuhi semua perintahnya.

Demikian maksud dari hadits :“Man Kuntu Maulahu Fa Aliyyun Maulahu”. Sebagaimana yang tertera dalam kitab-kitab yang ditulis oleh ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah (baca kitab Al Bidayatul Hidayah oleh Ibnu Katsir).

Demikianlah, semoga penjelasan sedikit ini mampu menjawab sedikit persoalan seputar penunjukan pengganti Rasulullah saw dalam mengurusi urusan umat, baik kaum muslimim maupun non muslim. Karena khilafah adalah Kebutuhan Dunia, Tuntutan Keimanan dan Janji Agung Allah SWT.

Khilafah : Tuntutan Keimanan

Keimanan kepada Allah mengharuskan keyakinan bahwa tiada yang lebih baik dari pada hukum Allah. Allah berfirman:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS al-Maidah [5]: 50)

Maka keimanan mengharuskan orang beriman untuk hanya menghendaki dan mengambil hukum Allah, dan menjadikannya pemutus semua perkara di dalam kehidupan seperti yang diperintahkan oleh Allah (lihat QS al-Maidah : 48; 49). Kongkretnya adalah dengan menerapkan hukum islam, yaitu syariah islam secara formal untuk mengatur semua aspek kehidupan masyarakat, dalam bingkai sistem sya’i yaitu sistem khilafah yang telah dipelihara dan dijaga oleh generasi islam sejak para sahabat hingga khilafah runtuh pada 28 Rajab 1322 H/4 Maret 1924 M.

Khilafah Janji Agung Allah SWT

Allah SWT berjanji memberikan istikhlaf fi al-ardh kepada umat Islam (QS an-Nur: 55). Istikhlaf fi al-ardh tidak memiliki makna lain selain penganugerahan kekuasaan dan tugas pengaturan urusan manusia di seluruh dunia.

Imam Al-Baidhawi menyatakan: … Layastakhlifannahum artinya: menjadikan mereka para khalifah pengatur bumi yang akan mengatur semua kekuasaan di dalam kekuasaan mereka (Imam al-Baidhawi, Tafsir al-Baydhawi, IV/197).

Imam al-Qurthubi menyatakan: “… Allah akan menjadikan di antara mereka para khalifah (penguasa). Para Sahabat pun bersepakat untuk mengangkat Abu Bakar ra. setelah terjadi diskusi antara kaum Muhajirin dan Anshar di Saqifah Bani Sa’idah…” (Imam al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, I/264).

Ibnu Arabi berkata, “Ayat ini merupakan janji umum dalam masalah nubuwwah, khilafah, tegaknya dakwah dan berlakunya syariah secara umum.” (Imam al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, XII/299-202).

Para mufassir lainnya juga memberikan penjelasan senada. Semua ini menunjukkan bahwa Khilafah Islam merupakan janji Allah yang paling agung bagi kaum Mukmin. Dengan tegaknya Khilafah Islam, agama Allah SWT bisa ditegakkan secara sempurna, dan kerahmatan bagi dunia bisa diwujudkan secara nyata.

Nabi saw juga telah memberikan kabar gembira (bisyarah) bahwa kekuasaan umat Islam yang mencakup seluruh muka bumi. Nabi saw juga memberitakan bahwa era kenabian akan diikuti oleh era Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah lalu disusul era mulkan ‘adhan (para penguasa lalim) dan berikutnya era mulkan jabriyyatan (para penguasa diktator). Kemudian Nabi bersabda:

« … ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ » ثُمَّ سَكَتَ

Selanjutnya datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas manhaj kenabian).” Setelah itu beliau diam (HR Ahmad).

Wallahu A’lam bis showab. []


Adi Victoria, Aktivis Penegak Khilafah, Email : al_ikhwan1924@yahoo.com

Bahan bacaan : 
1. Sirah Nabawiyah oleh Rawwas Qol’ahji sisi politis perjuangan Rasulullah Saw
2. Buletin dakwah al Islam edisi 561 : Khilafah : Kebutuhan Dunia, Tuntutan Keimanan dan Janji Allah Yang Agung.

readmore »»  

Tentang Gerakan #IndonesiaTanpaJIL



“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (Q.S. Ash-Shaff 8).

Gerakan hashtag dibalas dengan gerakan hashtag, nampaknya itulah yang tengah terjadi di jagat dunia maya. Adalah gerakan #IndonesiaTanpaJIL yang dalam dua hari terakhir ini menjadi fenomena di dalam dunia yang tidak sebenarnya itu. Facebook dan Twitter menjadi media masifnya gerakan ini.

Dan apa yang terjadi sungguh mencengangkan, dalam dua hari antusiasme pendukung gerakan ini bertambah secara signifikan. Dalam dua hari ini di Facebook, penyuka fanpage gerakan #IndonesiaTanpaJIL sudah menyentuh angka 7000. Begitu pula di jejaring sosial Twitter, sambut menyambut “kicauan” tentang #IndonesiaTanpaJIL pun terjadi dengan ramainya. Hingga tercipta beberapa akun resmi @TanpaJIL sebagai pengakomodasi gerakan ini.

Jika selanjutnya ditanya tentang siapakah yang menjadi inisiator gerakan ini, maka sesungguhnya tidaklah mudah untuk disimpulkan siapa yang melempar bola panas ini. Spekulasi yang ada, gerakan #IndonesiaTanpaJIL adalah bentuk balasan dari gerakan #IndonesiaTanpaFPI yang sebelumnya dilontarkan ke jagat dunia maya sebagai bentuk ketidak-sukaan akan kekerasan yang acapkali dilakukan oleh ormas yang bernama FPI (Front Pembela Islam).

Saat gencar-gencarnya gerakan #IndonesiaTanpaFPI memang tidak bisa lepas dari tangan-tangan aktivis Islam Liberal yang terlembagakan dalam JIL (Jaringan Islam Liberal). Dari sanalah, kemudian keadaan berbalik dan menjadikan JIL sebagai sasaran.

Penunjukkan JIL sebagai sasaran counter attack sekiranya tidak dapat dipungkiri, mengingat berbagai tanggapan dan pendapat kontroversial seperti dukungan terhadap pornografi dan pornoaksi atas argumentasi kebebasan berekspresi, dukungan terhadap pernikahan beda agama, meragukan kandungan kitab suci al-Qur’an, dan meragukan kerasulan Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. dilontarkan oleh para penggiatnya seperti Ulil Abshar Abdalla, Musdah Mulia, M Luthfie Assyaukanie, dan Nong D Mahmada yang membuat resah ummat Islam pada umumnya. Dan nampaknya gerakan #IndonesiaTanpaJIL pun dapat dikatakan sebagai kulminasi kekesalan ummat Islam dengan aktivitas meresahkan Jaringan Islam Liberal.

Mengatasnamakan Islam sebagai argumentasi gerak Jaringan Islam Liberal seakan melecehkan ummat Islam. Bagaimana tidak, tindak-tanduknya di negara ini acapkali meresahkan dan menggoyahkan aqidah ummat Islam. Dengan berdasar pada rasio, para penggiat Islam Liberal sampai-sampai meragukan ayat-ayat Allah dan kemudian memberikan tafsiran bebas seenakya saja. Mengutak-atik ayat untuk melegalkan kenikmatan dan membenarkan nafsu.

Inilah sesungguhnya fenomena akhir zaman, ketika manusia sudah tidak lagi percaya dengan kebenaran, dan selanjutnya berbuat kerusakan di muka bumi. Begitu besar pengaruh dan kontribusi yang dihembuskan oleh para pemikir Barat dalam tumbuh kembangnya virus Islam Liberal di Indonesia, menjadikan virus ini mendapat perhatian khusus dari Negara Barat itu sendiri. Itulah mengapa, JIL sebagai manifestasi dari gerakan perusakan aqidah ummat Islam, memiliki bargaining position yang begitu kuat di Indonesia yang notabene masih menganut dan berkiblat pada Barat.

Kemudian, gerakan ini pun semakin menemukan momentum tatkala seorang public figure menyatakan sikap anti JIL dalam video berdurasi tidak lebih dari 40 detik yang sudah tersebar di dunia maya. Adalah Fauzi Baadilla (@fauzibaadilla), seorang public figure yang terkenal gaul dan urakan berani dan tegas berpendapat bahwa Indonesia lebih baik tanpa JIL.

Aksi yang terbilang berani ini seakan meruntuhkan stereotip yang ada pada pemuda Indonesia yang di tampilkan begitu bebas tanpa norma, menjadi pemuda yang teguh secara prinsip dan memiliki komitmen keyakinan yang kuat walau secara tampilan fisik terlihat urakan. Fauzi Baadilla dalam akun pribadi twitternya sempat menyatakan bangga bisa menyatakan hal tersebut. Sempat pula Fauzi mengcounter secara pribadi salah satu penggiat Islam Liberal. Dan sudah saatnya pemuda Indonesia berprinsip dan bersikap.

Selanjutnya perlu dicermati bahwa sesungguhnya jauh sebelum gerakan ini terlihat berkembang dengan masifnya, seorang pengamat dunia Islam yang juga seorang penulis, Akmal Sjafril (@malakmalakmal), merilis satu buah buku yang bertajuk Islam Liberal 101. Dalam Islam Liberal 101 yang ditulis olehnya, dikupas berbagai fenomena pertumbuhan pemikiran dan gagasan Islam Liberal di Indonesia. Tidak ketinggalan ulasan tentang retorika-retorika yang digunakan penggiat Islam Liberal dalam mengkampanyekan idenya. Dan dengan dirilisnya buku ini, semakin kuat dasar gerakan #IndonesiaTanpaJIL yang saat ini tengah merebak.

Seakan gayung bersambut, gerakan #IndonesiaTanpaJIL semakin membesar. Selain tokoh yang tersebutkan di awal, beberapa tokoh juga berkontribusi meramaiakan gerakan #IndonesiaTanpaJIL. Tercatat seorang aktivis gerakan (HTI) Hizbut Tahrir Indonesia yang berkontribui menelaah dan memeberikan pandangan serta pengetahuan yang mendalam tentang Liberalisme secara umum yang kemudian dikaitkan dengan keberadaan JIL di Indonesia, beliau adalah Felix Siauw (@felixsiauw). Beliau juga dikenal sebagai penulis buku Beyond The Inspiration dan Muhammad Al-Fatih 1453. Dan “kicauan” sang pemerhati sejarah Islam ini di Twitter telah banyak menjadi rujukan dalam meyakinkan penikmat Twitter untuk ikut serta dalam gerakan. “Kicauan”nya sudah di retweet lebih dari seratus kali.

Lebih jauh, seorang rapper Islam yang dikenal konsisten dalam menyuarakan syiar Islam dan penolakan terhadap kebathilan dalam syair rap nya. Adalah Thufail Al-Ghifari (@MindResistance) yang juga berkontribusi dalam gerakan #IndonesiaTanpaJIL. Dan sempat dalam akun pribadinya menghimbau kepada seluruh aktivis LDK (Lembaga Dakwah Kampus) agar menjadikan LDK sebagai tameng dan garda terdepan penangkal gerakan Islam Liberal di kampus. Dan ini menjadi perhatian yang amat penting sesungguhnya, karena dunia kampus adalah dunia yang begitu terbuka, paham apapun dengan bebasnya dapat masuk mewarnai mahasiswa-mahasiswa yang ada di kampus tersebut.

Walau tidak dapat dikatakan bahwa apa yang terjadi di dunia maya adalah representasi dari suara rakyat Indonesia yang sebenarnya, akan tetapi setidaknya benih-benih kesadaran bahwa organisasi penyebar keresahan Ummat seperti JIL mulai muncul di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang sudah semakin melek jejaring sosial. Bermula dari dunia maya, bukan tidak mungkin, ketika pada suatu saat gerakan ini akan menjadi aksi nyata pembubaran organisasi yang bernama JIL. Dan itu adalah sebaik-baiknya perlawanan.

Dan terakhir, kita diingatkan oleh Allah jangan sekali-kali melakukan makar terhadap agama Allah, karena Allah sebaik-baik pemberi makar, seperti dalam surat Ali-Imraan ayat 54 yang berbunyi : (Apabila) mereka membuat makar (tipu daya), Allah membalas makar (tipu daya) mereka. Dan Allah sebaik-baik pembalas makar (tipu daya).

Mari kawan, bergabunglah dalam kafilah pengeja kebenaran. Bersatu lawan virus-virus SEPILIS yang kian menggerogoti. Serta sejenak untuk hilangkan prasangka sesama muslim untuk bersatu melawan musuh-musuh Islam yang hakiki. Mari buat Indonesia tersenyum tanpa Jaringan Islam Liberal. Dan semoga Allah meridhoi langkah kita.

Aqil Wilda Arief
Mahasiswa Teknik Industri UGM
Aktivis Gerakan #IndonesiaTanpaJIL

readmore »»  

Bangsa yang Menyalahkan Pendidikan



Menurut UU No. 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS, Pendidikan diartikan sebagai “Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”

Di bagian terakhir, kita mendapati suatu klausul penting, yakni, “yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.” Maka, pendidikan secara luhur dapat kita maknai sebagai salah satu instrumen pembangun masyarakat, bangsa dan Negara. Oleh sebab itu, kita selalu mendapati bangsa-bangsa yang maju saat ini adalah bangsa yang selalu menghargai pendidikan.

Semisal Jepang, ketika kota Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom atom, yang pertama kali dibenahi oleh Kaisar Jepang kala itu adalah pendidikan. Atau Malaysia yang ketika awal kemerdekaannya banyak ‘mengimpor’ guru dari Indonesia. Kini, keduanya menjadi Negara yang cukup maju.

Namun, permasalahan yang terjadi di negeri ini adalah kurangnya penghargaan bangsa ini terhadap pendidikan, bahkan seringkali pendidikan dikambinghitamkan dari suatu permasalahan yang ada.

Mungkin sering kita dengar mengenai kelulusan siswa-siswi dalam Ujian Nasional yang dipenuhi dengan kecurangan di sana-sini. Lalu, jika ada yang ketahuan, maka Pemerintah mencelanya sebagai sebuah cela dari pendidikan. Padahal, Pemerintah sendiri tak paham bagaimana Ujian Nasional yang menjadi standarisasi kelulusan peserta didik memiliki berbagai kelemahan.

Lalu, kita juga ingat ketika para media massa menyoroti tawuran yang merebak di kalangan pelajar, dan salah satu wartawan media massa kala itu menjadi sasaran kekerasan dari pelajar karena terus menyoroti sekolah mereka. Waktu itu, media massa seolah sepakat membuat hal ini menjadi sebuah bagian dari proses pendidikan yang salah pada bangsa ini. Seolah pendidikan adalah mesin yang mencetak produk gagal yaitu kekerasan dalam bentuk tawuran, bulliying dan lain sebagainya.

Padahal, media massa tersebut tak paham, bahwa penyebab utama terjadinya kekerasan dari pelajar adalah karena seringnya media massa menampilkan berbagai perilaku kekerasan.
Kemudian, ada juga kisah para mahasiswa yang sering berdemo dan terkadang sering menimbulkan jalanan macet atau bahkan anarkisme. Sebagian dari bangsa ini menilai pendidikan yang didapat para mahasiswa itu menghasilkan para mahasiswa yang memiliki pemikiran kritis yang berujung pada anarkisme tersebut. Padahal, sejatinya, bangsa ini lah yang jarang sekali mau member ruang untuk pemikiran kritis mereka dan menindaklanjuti pemikiran kritis mereka yang baik.

Saat merebaknya isu terorisme di kalangan pelajar dan mahasiswa, kembali, pendidikan keagamaan dipersalahkan karena tidak mampu membendung perilaku tersebut. Padahal, pendidikan keagamaan tersebut hanya berlangsung kurang lebih dua jam dalam sepekan di sekolah atau sekitar dua sks bagi para mahasiswa. Dengan teknis pengajaran yang hanya menjadikan itu sebagai sebuah pengetahuan yang nantinya akan dinilai tanpa memperhatikan kepribadian peserta didiknya.

Akhir-akhir ini pun, pendidikan lagi-lagi disalahkan. Merebaknya berbagai pengungkapan kasus tindak pidana korupsi juga ikut-ikutan menyalahkan pendidikan sebagai salah satu biang keladi dari permasalahan korupsi yang terjadi di negeri ini. Beberapa tersangka kasus korupsi yang merupakan lulusan yang sama dari sebuah Perguruan Tinggi Kedinasan juga dikait-kaitkan dengan almamaternya dahulu.

Banyak yang menuduh bahwa Perguruan Tinggi tersebut ikut serta menjadikan para tersangka menjadi koruptor. Pendidikan di Perguruan Tinggi tersebut disalahkan karena beberapa lulusannya menjadi tersangka korupsi. Padahal, jumlah lulusan yang menjadi tersangka tak sebanding dengan lulusannya yang ada puluhan ribu. Lalu, tanpa mengetahui apa yang diajarkan di Perguruan Tinggi tersebut, banyak yang pada akhirnya merasa tahu bahwa pendidikan yang diajarkan di Perguruan Tinggi tersebut adalah pendidikan untuk para koruptor. Sungguh, pemikiran yang tak jernih.

Rasanya, bangsa ini sampai saat ini belum dewasa dalam menghargai pendidikan. Bagaimana mungkin bangsa ini akan maju kalau bangsa ini terus-terusan menyalahkan pendidikan dari berbagai permasalahan yang ada. Padahal harusnya pendidikan lah yang menyelesaikan berbagai permasalah yang terjadi di bangsa ini.

Lalu, jangan jadikan carut-marut bangsa ini menjadi alasan untuk tidak bepikir jernih dan terus-menerus menyalahkan pendidikan. Kini saatnya kita membenahi pendidikan kita jika memang ada yang salah, bukan dengan mencela dan menghinanya. Seolah pendidikan kita adalah barang yang hina. Karena justru hal itulah yang akan menghinakan bangsa ini. Saatnya bangsa ini dewasa dalam menghargai pendidikan mereka.

Elam Sanurihim Ayatuna
Mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) Spesialisasi Pajak



readmore »»  

Kampus Islami Impianku

Deden Amwar, Mahasiswa Universitas Padjajaran

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.(QS Al-Hasyr [59]: 9).

Islam senantiasa mengingatkan kepada umatnya, agar memberikan pelayanan yang maksimal kepada sesama manusia, mendahulukan kepentingan orang lain, ringan dalam senyuman, ramah dalam setiap tindakan, dan menjauhkan diri dari prasangka kepada saudara. Bukan hanya terpuji saat bekerja melainkan karakter yang memancar untuk sesama. Ahlakul karimah menjadi pegangannya.

Seperti Cabin crew maskapai penerbangan Internasional. Mereka adalah salah satu variabel utama yang membuat suasana pesawat terasa hangat. Dengan senyuman, mereka menyapa setiap penumpang tanpa terkecuali. Dengan ramah, mereka memberikan petunjuk yang diperlukan. Ketika penumpang membutuhkan perhatian, dengan sigap hadir disisi kursi menawarkan bantuan. Waktu yang lama di udara menjadi tidak terasa dengan pelayanan prima dari para awak kapal yang profesional.

Selain itu Islam pun mengajarkan kepada pemeluknya untuk selalu menjaga kebersihan. Dari ruang privat sampai tempat publik harus terpelihara, penyimpanan barang yang tertata, sampah tidak berserakan dimana-mana dan pengaturan fasilitas publik dapat memberikan kenyaman bagi para pengguna.

Diriwayatkan dari Sa¶ad bin Abi Waqas dari bapaknya, dari Rasulullahsaw. : Sesungguhnya Allah SWT itu suci yang menyukai hal-hal yang suci, Dia Maha Bersihyang menyukai kebersihan, Dia Mahamulia yang menyukai kemuliaan, Dia Maha Indah yangmenyukai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu´ (HR. Tirmizi)´

Lihatlah salah satu negara penghasil minyak ke-5 terbesar di dunia. Disana kita akan menemukan taman yang indah dengan bunga-bunga yang bermekaran, pohon kurma berjejer rapi sepanjang jalan, dan rumput hijau layaknya permadani beludru, menjadikan ruang publik di Abu Dhabi begitu tenteram dan nyaman.

Gedung-gedung menjulang dengan arsitektur bernilai seni tinggi, tata kota yang rapi, sistem irigasi yang canggih, dan pengolahan limbah yang ramah, membuat Dubai menjadi tempat tujuan wisata yang sangat diminati wisatawan mancanegara. Itulah negeri gersang tapi subur, Uni Emirat Arab yang makmur.

Dari realita itulah para penyeru kebaikan dapat mengambil hikmah, khususnya cendikiawan masa depan yang saat ini tengah menimba ilmu di Institusi Pendidikan Tinggi. Mereka pada masa kontemporer ini, harus dapat membawa nilai-nilai Islam yang universal dan komprehensif kedalam ruang geraknya.

Pribadi yang memberikan pelayanan optimal bagi mereka yang membutuhkan, berperan signifikan dalam agenda sosial kemasyarakatan, dan hadir membawa solusi bukan opini tanpa isi. Selain itu mereka juga membentuk Lembaga Dakwah Kampus yang nyaman.

Kebersihan, kerapihan, dan keindahan menjadi perhatian utama pengurus selain kesibukan sebagai event organizer. Sehingga Publik merasa betah berada disana karena standar internasional dijadikan sebagai Standar Operating Procedur (SOP) yang dijalankan.

Pada akhirnya, mari kita jadikan kampus sebagai tempat strategis penanaman nilai-nilai kebaikan. Pelayanan optimal berbasis ahlakul karimah dan rumah kediaman yang nyaman bagi setiap pengunjung yang datang. Sehingga diharapkan terlahir cendikiawan-cendikiawan yang memiliki pemahaman islam komprehensif, integritas dan kredibilitas tinggi, berkepribadian matang, moderat dan peduli terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Amin
readmore »»  

Kerabatmu dulu, Baru Sahabatmu



Oleh Abi Sabila

Pulang sekolah, Anisa mendapati Bunda sedang melipat baju yang baru diangkat dari jemuran, membuat ia teringat dengan sebuah rencana. Khawatir terlupa lagi, Anisa langsung menyampaikan rencana tersebut kepada sang bunda.

“Bunda, boleh tidak kalau aku memberikan baju yang sudah kekecilan pada orang yang membutuhkan?”

“Boleh saja. Tapi, bukankah dua minggu yang lalu semua baju kecilmu sudah kamu berikan kepada sepupumu?”

“Masih ada satu, Bunda. Baju warna biru yang dulu ayah belikan. Boleh ya, Bunda?” Anisa memohon.

“Oh, yang itu. Sekarang kamu sudah berubah pikiran? Daripada hanya tersimpan di lemari, Bunda memang lebih setuju kalau kamu berikan kepada yang membutuhkan. Bunda yakin Ayah juga setuju dengan idemu. Kalau boleh tahu, kepada siapa baju itu akan kamu berikan?”

Dengan semangat Anisapun bercerita bahwa di sekolahnya ada penjual jajanan yang mempunyai anak perempuan. Usianya dibawah Anisa. Kepadanyalah Anisa berencana memberikan baju yang sebenarnya sangat special. Baju itu hadiah dari Ayah saat ulang tahunnya setahun yang lalu. Tapi karena Ayah keliru memilih ukuran, sejak dibeli baju itu hanya tersimpan di lemari. Masih baru, belum pernah dipakai sama sekali.

“Kamu sudah bilang sama anak atau ibu penjual jajanan itu kalau kamu akan memberikan baju?” tanya Bunda.

Anisa menggeleng. Sebenarnya ia agak khawatir kalau pemberiannya justru akan menyinggung perasaan mereka. Terus terang Anisa tidak begitu akrab dengan mereka.

“Begini, Anisa. Sebenarnya Bunda mendukung penuh niatmu. Mau diberikan kepada siapa saja, yang penting kamu harus ikhlas, tidak mengharapkan apapun kecuali ridho Allah semata. Tapi di pengajian mingguan kemarin, kebetulan ustadzh membahas tentang prioritas orang-orang yang berhak menerima sedekah kita.”

Anisa menatap Bunda, tak mengerti apa yang Bunda maksudkan.

Maka dengan lemah lembut Bunda menjelaskan bahwa meski tidak ada larangan untuk memberikan sedekah kepada siapapun, tapi sebenarnya ada pihak-pihak yang harus diprioritaskan. Keluarga dan kerabat lebih utama didahulukan dibanding pihak lain.

Seperti yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim, Rasululloh saw pernah bersabda, ““Jika salah seorang diantaramu miskin, hendaklah dimulai dengan dirinya, jika ada kelebihan maka untuk keluarganya, jika ada kelebihan lagi untuk kerabatnya.” Atau beliau bersabda : “Untuk yang ada hubungan kekeluargaan dengannya. Kemudian apabila masih ada barulah untuk ini dan itu.”

Juga ada satu firman Allah yang menunjukkan keutamaan memberi shodaqoh kepada keluarga, kaum kerabat kemudian tetangga sekitar, berdasarkan firman Allah swt : “Kepada anak yatim yang mempunyai hubungan kerabat. “ (QS. Al Balad : 15)

Karenanya, Bunda menyarankan kepada Anisa untuk memberikan baju itu kepada kerabatnya. Ada satu orang sepupun Anisa yang belum kebagian saat Anisa membagi-bagikan baju bekas layak pakainya dua minggu yang lalu.

“Jika kita memiliki beberapa yang bisa kita sedekahkan, tidak masalah kita berikan kepada beberapa orang, termasuk yang bukan kerabat kita. Tapi Adakalanya, kita tak mempunyai banyak yang bisa kita berikan, bahkan satu-satunya seperti baju yang akan kau berikan, kita harus membuat skala prioritas. Siapa yang paling membutuhkan, dan siapa yang terdekat dengan kita. Jika dua orang sama-sama membutuhkan, tapi hanya satu yang bisa kita berikan, maka kita utamakan dulu yang masih ada hubungan keluarga dengan kita. Menurut Bunda, Aisyah adalah pilihan yang paling tepat. Kita tahu, hidup mereka sangat sederhana. Sudah semestinya ia kita prioritaskan sebelum orang lain.” Panjang lebar Bunda menjelaskan.

“Tapi kalau semua orang lebih mementingkan saudaranya, bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki saudara, siapa yang akan membantu mereka? Apa negara, Bunda?”

Bunda tersenyum, menatap Anisa yang telah melepas kerudungnya, kegerahan.

“Jangan khawatir mereka tidak ada yang memperhatikan. Apa yang nabi contohkan, bukan berarti kita tidak perlu memperhatikan dan membantu orang lain yang bukan saudara. Bukan itu maksudnya, Anisa. Jika ada dua pihak yang sama-sama sangat membutuhkan, tapi hanya kepada salah satunya kita bisa membantu, maka utamakan yang terdekat hubungannya dengan kita. Jika kita mampu, membantu orang lain yang tidak memiliki hubungan kekerabatan juga dianjurkan. Yang terpenting, kita harus ikhlas, tidak boleh mengharap imbalan dan tidak juga boleh menyakiti perasaan mereka.”
“Mengenai orang-orang yang mungkin tidak memiliki keluarga, seperti yang kamu pelajari di sekolah, orang miskin dan anak-anak terlantar seharusnya menjadi tanggung jawab negara, dalam hal ini aparat pemerintahannya. Begitupun dalam pandangan agama, seorang pemimpin wajib memperhatikan kesejahteraan hidup rakyat yang dipimpinnya.” Bunda menambahkan.

Kening Anisa berkerut. Masih ada yang mengganjal di hatinya. “Tapi kok masih banyak orang-orang yang hidupnya kekurangan, terlantar di pinggir jalan dan tinggal di kolong-kolong jembatan. Apa pemerintah kita tidak tahu, pura-pura atau justru tidak mau tahu? Jangan-jangan, para pejabat negeri ini beralasan kalau mereka sekedar mengikuti sunah nabi. Karenanya mereka selalu mengutamakan keluarga dan kerabatnya saja? Memperkaya diri sendiri dengan cara korupsi?”

Bunda terkekeh. Cara berfikir Anisa memang seringkali melampaui anak seusianya.

“Secara pribadi seorang pejabat tidak salah jika mengutamakan keluarga dan kerabatnya. Tapi sebagai aparat pemerintah, mereka bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya. Bukankah dalam ruang lingkup negara, seluruh warga negara adalah juga keluarganya? Jadi kalau ada seorang pemimpin, pejabat negara yang tidak peduli dengan rakyatnya, dan hanya mengutamakan keluarga dalam kehidupan pribadinya, maka ia telah menyalahi amanah yang rakyat berikan kepadanya. Apalagi kalau sampai korupsi, memperkaya diri dan keluarganya sendiri dengan mengambil hak-hak rakyat, maka tunggulah di akhirat, ia akan diminta pertanggungjawabannya.”

Anisa mengangguk. Bukan sok paham, ia benar-benar telah paham.

“Ya sudah, kalau begitu baju Anisa yang biru itu buat Aisyah saja. Lain kali, kalau ada yang sudah tidak muat lagi baru Anisa berikan kepada anak si penjual jajanan.”

“Berdoalah, Nak. Semoga Allah meluaskan rejeki kita agar kita bisa berbagi dengan banyak orang. Tak harus menunggu baju kamu kekecilan, tapi kita bisa membelikan baju-baju baru untuk mereka yang hidupnya kekurangan.”

“Amin...”

www.abisabila.comOleh Abi Sabila

Pulang sekolah, Anisa mendapati Bunda sedang melipat baju yang baru diangkat dari jemuran, membuat ia teringat dengan sebuah rencana. Khawatir terlupa lagi, Anisa langsung menyampaikan rencana tersebut kepada sang bunda.

“Bunda, boleh tidak kalau aku memberikan baju yang sudah kekecilan pada orang yang membutuhkan?”

“Boleh saja. Tapi, bukankah dua minggu yang lalu semua baju kecilmu sudah kamu berikan kepada sepupumu?”

“Masih ada satu, Bunda. Baju warna biru yang dulu ayah belikan. Boleh ya, Bunda?” Anisa memohon.

“Oh, yang itu. Sekarang kamu sudah berubah pikiran? Daripada hanya tersimpan di lemari, Bunda memang lebih setuju kalau kamu berikan kepada yang membutuhkan. Bunda yakin Ayah juga setuju dengan idemu. Kalau boleh tahu, kepada siapa baju itu akan kamu berikan?”

Dengan semangat Anisapun bercerita bahwa di sekolahnya ada penjual jajanan yang mempunyai anak perempuan. Usianya dibawah Anisa. Kepadanyalah Anisa berencana memberikan baju yang sebenarnya sangat special. Baju itu hadiah dari Ayah saat ulang tahunnya setahun yang lalu. Tapi karena Ayah keliru memilih ukuran, sejak dibeli baju itu hanya tersimpan di lemari. Masih baru, belum pernah dipakai sama sekali.

“Kamu sudah bilang sama anak atau ibu penjual jajanan itu kalau kamu akan memberikan baju?” tanya Bunda.

Anisa menggeleng. Sebenarnya ia agak khawatir kalau pemberiannya justru akan menyinggung perasaan mereka. Terus terang Anisa tidak begitu akrab dengan mereka.

“Begini, Anisa. Sebenarnya Bunda mendukung penuh niatmu. Mau diberikan kepada siapa saja, yang penting kamu harus ikhlas, tidak mengharapkan apapun kecuali ridho Allah semata. Tapi di pengajian mingguan kemarin, kebetulan ustadzh membahas tentang prioritas orang-orang yang berhak menerima sedekah kita.”

Anisa menatap Bunda, tak mengerti apa yang Bunda maksudkan.

Maka dengan lemah lembut Bunda menjelaskan bahwa meski tidak ada larangan untuk memberikan sedekah kepada siapapun, tapi sebenarnya ada pihak-pihak yang harus diprioritaskan. Keluarga dan kerabat lebih utama didahulukan dibanding pihak lain.

Seperti yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim, Rasululloh saw pernah bersabda, ““Jika salah seorang diantaramu miskin, hendaklah dimulai dengan dirinya, jika ada kelebihan maka untuk keluarganya, jika ada kelebihan lagi untuk kerabatnya.” Atau beliau bersabda : “Untuk yang ada hubungan kekeluargaan dengannya. Kemudian apabila masih ada barulah untuk ini dan itu.”

Juga ada satu firman Allah yang menunjukkan keutamaan memberi shodaqoh kepada keluarga, kaum kerabat kemudian tetangga sekitar, berdasarkan firman Allah swt : “Kepada anak yatim yang mempunyai hubungan kerabat. “ (QS. Al Balad : 15)

Karenanya, Bunda menyarankan kepada Anisa untuk memberikan baju itu kepada kerabatnya. Ada satu orang sepupun Anisa yang belum kebagian saat Anisa membagi-bagikan baju bekas layak pakainya dua minggu yang lalu.

“Jika kita memiliki beberapa yang bisa kita sedekahkan, tidak masalah kita berikan kepada beberapa orang, termasuk yang bukan kerabat kita. Tapi Adakalanya, kita tak mempunyai banyak yang bisa kita berikan, bahkan satu-satunya seperti baju yang akan kau berikan, kita harus membuat skala prioritas. Siapa yang paling membutuhkan, dan siapa yang terdekat dengan kita. Jika dua orang sama-sama membutuhkan, tapi hanya satu yang bisa kita berikan, maka kita utamakan dulu yang masih ada hubungan keluarga dengan kita. Menurut Bunda, Aisyah adalah pilihan yang paling tepat. Kita tahu, hidup mereka sangat sederhana. Sudah semestinya ia kita prioritaskan sebelum orang lain.” Panjang lebar Bunda menjelaskan.

“Tapi kalau semua orang lebih mementingkan saudaranya, bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki saudara, siapa yang akan membantu mereka? Apa negara, Bunda?”

Bunda tersenyum, menatap Anisa yang telah melepas kerudungnya, kegerahan.

“Jangan khawatir mereka tidak ada yang memperhatikan. Apa yang nabi contohkan, bukan berarti kita tidak perlu memperhatikan dan membantu orang lain yang bukan saudara. Bukan itu maksudnya, Anisa. Jika ada dua pihak yang sama-sama sangat membutuhkan, tapi hanya kepada salah satunya kita bisa membantu, maka utamakan yang terdekat hubungannya dengan kita. Jika kita mampu, membantu orang lain yang tidak memiliki hubungan kekerabatan juga dianjurkan. Yang terpenting, kita harus ikhlas, tidak boleh mengharap imbalan dan tidak juga boleh menyakiti perasaan mereka.”
“Mengenai orang-orang yang mungkin tidak memiliki keluarga, seperti yang kamu pelajari di sekolah, orang miskin dan anak-anak terlantar seharusnya menjadi tanggung jawab negara, dalam hal ini aparat pemerintahannya. Begitupun dalam pandangan agama, seorang pemimpin wajib memperhatikan kesejahteraan hidup rakyat yang dipimpinnya.” Bunda menambahkan.

Kening Anisa berkerut. Masih ada yang mengganjal di hatinya. “Tapi kok masih banyak orang-orang yang hidupnya kekurangan, terlantar di pinggir jalan dan tinggal di kolong-kolong jembatan. Apa pemerintah kita tidak tahu, pura-pura atau justru tidak mau tahu? Jangan-jangan, para pejabat negeri ini beralasan kalau mereka sekedar mengikuti sunah nabi. Karenanya mereka selalu mengutamakan keluarga dan kerabatnya saja? Memperkaya diri sendiri dengan cara korupsi?”

Bunda terkekeh. Cara berfikir Anisa memang seringkali melampaui anak seusianya.

“Secara pribadi seorang pejabat tidak salah jika mengutamakan keluarga dan kerabatnya. Tapi sebagai aparat pemerintah, mereka bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya. Bukankah dalam ruang lingkup negara, seluruh warga negara adalah juga keluarganya? Jadi kalau ada seorang pemimpin, pejabat negara yang tidak peduli dengan rakyatnya, dan hanya mengutamakan keluarga dalam kehidupan pribadinya, maka ia telah menyalahi amanah yang rakyat berikan kepadanya. Apalagi kalau sampai korupsi, memperkaya diri dan keluarganya sendiri dengan mengambil hak-hak rakyat, maka tunggulah di akhirat, ia akan diminta pertanggungjawabannya.”

Anisa mengangguk. Bukan sok paham, ia benar-benar telah paham.

“Ya sudah, kalau begitu baju Anisa yang biru itu buat Aisyah saja. Lain kali, kalau ada yang sudah tidak muat lagi baru Anisa berikan kepada anak si penjual jajanan.”

“Berdoalah, Nak. Semoga Allah meluaskan rejeki kita agar kita bisa berbagi dengan banyak orang. Tak harus menunggu baju kamu kekecilan, tapi kita bisa membelikan baju-baju baru untuk mereka yang hidupnya kekurangan.”

“Amin...”

www.abisabila.com
readmore »»  

Keluarga Lumpuh



Bayangkan kalau semua anak Anda menderita lumpuh. Tentu, Anda akan sangat bingung dengan masa depan mereka. Di Purwakarta, ada seorang ibu yang bukan hanya empat anaknya yang lumpuh. Melainkan juga, suami yang menjadi tulang punggung keluarga. Allahu Akbar.

Hal itulah yang kini dialami seorang ibu usia 70 tahun. Namanya Atikah. Di rumahnya yang sederhana, ia dan keluarga lebih banyak berbaring daripada beraktivitas layaknya keluarga besar.

Mak Atikah bersyukur bisa menikah dengan seorang suami yang alhamdulillah baik dan rajin. Walau hanya sebagai pencari rumput, Mak Atikah begitu menghargai pekerjaan yang dilakoni suaminya. Bahkan, tidak jarang, ia membantu sang suami ikut mencari rumput.

Beberapa bulan setelah menikah, tepatnya di tahun 1957, Allah mengaruniai Mak Atikah dengan seorang putera. Ia dan suami begitu bahagia. Ia kasih nama sang putera tercinta dengan nama Entang.

Awalnya, Entang tumbuh normal. Biasa-biasa saja layaknya anak-anak lain. Baru terasa beda ketika anak sulung itu berusia 10 tahun.

Waktu itu, Entang sakit panas. Bagi Mak Atikah dan suami, anak sakit panas sudah menjadi hal biasa. Apalagi tinggal di daerah pedesaan yang jauh dari pelayanan medis. Entang pun dibiarkan sakit panas tanpa obat.

Panas yang diderita sang anak ternyata kian hebat. Tiba-tiba, Entang merasakan kalau kakinya tidak bisa digerakkan. Setelah dicoba beberapa kali, kaki Entang memang benar-benar lumpuh.

Musibah ini ternyata tidak berhenti hanya di si sulung. Tiga adik Entang pun punya gejala sakit yang sama dengan sang kakak. Dan semuanya sakit di usia SD atau kira-kira antara 7 sampai 10 tahun. Satu per satu, anak-anak Mak Atikah menderita lumpuh.

Usut punya usut, ternyata anak-anak yang tinggal di Desa Cileunca, Kecamatan Bojong, Purwakarta itu sebagian besar terserang penyakit polio. Tapi, semuanya sudah serba terlambat. Lagi pula, apa yang bisa dilakukan Mak Atikah dengan suami yang hanya seorang pencari rumput.

Sejak itu, Mak Atikah mengurus empat anaknya sekaligus seorang diri. Dengan sarana hidup yang begitu sederhana, bahkan sangat kekurangan, keluarga ini mengarungi hidup puluhan tahun dengan kesibukan anak-anak yang lumpuh.

Ujian Allah buat Mak Atikah ternyata tidak berhenti sampai di situ. Di tahun 90-an, giliran suami Bu Atikah yang mengalami musibah. Saat mencari rumput, Pak Didin terjatuh. Orang-orang sekitar pun menggotong Pak Didin pulang. Dan sejak itu, Pak Didin tidak bisa lagi menggerakkan kaki dan tangannya. Ia cuma bisa berbaring.

Lalu, bagaimana dengan pemasukan keluarga kalau sang suami tidak lagi bisa berkerja. Bu Atikah pun tidak mau diam. Kalau selama ini ia hanya bisa mengurus anak-anak di rumah, sejak itu, ibu yang waktu itu berusia hampir enam puluh tahun pun menggantikan sang suami dengan pekerjaan yang sama. Di usianya yang begitu lanjut, Bu Atikah mengais rezeki dengan mencari rumput.

Sehari-hari, ia berangkat pagi menuju tanah-tanah kosong yang dipenuhi rumput. Ia kumpulkan rumput-rumput itu dengan sebilah arit, kemudian dibawa ke pemesan. Tidak sampai sepuluh ribu rupiah ia kumpulkan per hari dari mencari rumput. Dan itu, ia gunakan untuk mengepulkan asap dapur rumahnya. Hanya sekadar menyambung hidup.

Di bulan Mei tahun ini, sang suami yang hanya bisa berbaring dipanggil Allah untuk selamanya. Kini, tinggal Mak Atikah yang mengurus keempat anaknya yang tidak juga sembuh dari lumpuh.
Allah menguji hambaNya dengan sesuatu yang mungkin sulit untuk dicerna pikiran orang lain. Subhanallah. (saad/mnh)
readmore »»  

Allah Mengujiku dengan Empat Nyawa



Hidup ini memang ujian. Seperti apa pun warna hidup yang Allah berikan kepada seorang hamba, tak luput dari yang namanya ujian. Bersabarkah sang hamba, atau menjadi kufur dan durhaka.

Dari sudut pandang teori, semua orang yang beriman mengakui itu. Sangat memahami bahwa susah dan senang itu sebagai ujian. Tapi, bagaimana jika ujian itu berwujud dalam kehidupan nyata. Mampukah?

Hal itulah yang pernah dialami Bu Khairiyah. Semua diawali pada tahun 1992.

Waktu itu, Allah mempertemukan jodoh Khairiyah dengan seorang pemuda yang belum ia kenal. Perjodohan itu berlangsung melalui sang kakak yang prihatin dengan adiknya yang belum juga menikah. Padahal usianya sudah nyaris tiga puluh tahun.

Bagi Khairiyah, pernikahan merupakan pintu ibadah yang di dalamnya begitu banyak amal ibadah yang bisa ia raih. Karena itulah, ia tidak mau mengawali pintu itu dengan sesuatu yang tidak diridhai Allah.

Ia sengaja memilih pinangan melalui sang kakak karena dengan cara belum mengenal calon itu bisa lebih menjaga keikhlasan untuk memasuki jenjang pernikahan. Dan berlangsunglah pernikahan yang tidak dihadiri ibu dan ayah Khairiyah. Karena, keduanya memang sudah lama dipanggil Allah ketika Khairiyah masih sangat belia.

Hari-hari berumah tangga pun dilalui Khairiyah dengan penuh bahagia. Walau sang suami hanya seorang sopir di sebuah perusahaan pariwisata, ia merasa cukup dengan yang ada.

Keberkahan di rumah tangga Khairiyah pun mulai tampak. Tanpa ada jeda lagi, Khairiyah langsung hamil. Ia dan sang suami pun begitu bahagia. "Nggak lama lagi, kita punya momongan, Bang!" ujarnya kepada sang suami.

Mulailah hari-hari ngidam yang merepotkan pasangan baru ini. Tapi buat Khairiyah, semuanya berlalu begitu menyenangkan.

Dan, yang ditunggu pun datang. Bayi pertama Bu Khairiyah lahir. Ada kebahagiaan, tapi ada juga kekhawatiran.

Mungkin, inilah kekhawatiran pertama untuk pasangan ini. Dari sinilah, ujian berat itu mulai bergulir.

Dokter menyatakan bahwa bayi pertama Bu Khairiyah prematur. Sang bayi lahir di usia kandungan enam bulan. Ia bernama Dina.

Walau dokter mengizinkan Dina pulang bersama ibunya, tapi harus terus berobat jalan. Dan tentu saja, urusan biaya menjadi tak terelakkan untuk seorang suami Bu Khairiyah yang hanya sopir.

Setidaknya, dua kali sepekan Bu Khairiyah dan suami mondar-mandir ke dokter untuk periksa Dina. Kadang karena kesibukan suami, Bu Khairiyah mengantar Dina sendirian.

Beberapa bulan kemudian, Allah memberikan kabar gembira kepada Bu Khairiyah. Ia hamil untuk anak yang kedua.

Bagi Bu Khairiyah, harapan akan hiburan dari anak kedua mulai berbunga. Biarlah anak pertama yang menjadi ujian, anak kedua akan menjadi pelipur lara. Begitulah kira-kira angan-angan Bu Khairiyah dan suami.

Dengan izin Allah, anak kedua Bu Khairiyah lahir dengan selamat. Bayi itu pun mempunyai nama Nisa. Lahir di saat sang kakak baru berusia satu tahun. Dan lahir, saat sang kakak masih tetap tergolek layaknya pasien berpenyakit dalam. Tidak bisa bicara dan merespon. Bahkan, merangkak dan duduk pun belum mampu. Suatu ketidaklaziman untuk usia bayi satu tahun.

Beberapa minggu berlalu setelah letih dan repotnya Bu Khairiyah menghadapi kelahiran. Allah memberikan tambahan ujian kedua buat Bu Khairiyah dan suami. Anak keduanya, Nisa, mengalami penyakit aneh yang belum terdeteksi ilmu kedokteran. Sering panas dan kejang, kemudian normal seperti tidak terjadi apa-apa. Begitu seterusnya.

Hingga di usia enam bulan pun, Nisa belum menunjukkan perkembangan normal layaknya seorang bayi. Ia mirip kakaknya yang tetap saja tergolek di pembaringan. Jadilah Bu Khairiyah dan suami kembali mondar-mandir ke dokter dengan dua anak sekaligus.

Di usia enam bulan Nisa, Allah memberikan kabar gembira untuk yang ketiga kalinya buat Bu Khairiyah dan suami. Ternyata, Bu Khairiyah hamil.

Belum lagi anak keduanya genap satu tahun, anak ketiga Bu Khairiyah lahir. Saat itu, harapan kedatangan sang pelipur lara kembali muncul. Dan anak ketiganya itu bayi laki-laki. Namanya, Fahri.

Mulailah hari-hari sangat merepotkan dilakoni Bu Khairiyah. Bayangkan, dua anaknya belum terlihat tanda-tanda kesembuhan, bayi ketiga pun ikut menyita perhatian sang ibu.

Tapi, kerepotan itu masih terus tertutupi oleh harapan Bu Khairiyah dengan hadirnya penghibur Fahri yang mulai berusia satu bulan.

Sayangnya, Allah berkehendak lain. Apa yang diangankan Bu Khairiyah sama sekali tidak cocok dengan apa yang Allah inginkan. Fahri, menghidap penyakit yang mirip kakak-kakaknya. Ia seperti menderita kelumpuhan.

Jadilah, tiga bayi yang tidak berdaya menutup seluruh celah waktu dan biaya Bu Khairiyah dan suami. Hampir semua barang berharga ia jual untuk berobat. Mulai dokter, tukang urut, herbal, dan lain-lain. Tetap saja, perubahan belum nampak di anak-anak Bu Khairiyah.

Justru, perubahan muncul pada suami tercinta. Karena sering kerja lembur dan kurang istirahat, suami Bu Khairiyah tiba-tiba sakit berat. Perutnya buncit, dan hampir seluruh kulitnya berwarna kuning.

Hanya sekitar sepuluh jam dalam perawatan rumah sakit, sang suami meninggal dunia. September tahun 2001 itu, menjadi titik baru perjalanan Bu Khairiyah dengan cobaan baru yang lebih kompleks dari sebelumnya. Dan, tinggallah sang ibu menghadapi rumitnya kehidupan bersama tiga balita yang sakit, tetap tergolek, dan belum memperlihatkan tanda-tanda kesembuhan.

Tiga bulan setelah kematian suami, Allah menguji Bu Khairiyah dengan sesuatu yang pernah ia alami sebelumnya. Fahri, si bungsu, ikut pergi untuk selamanya.

Kadang Bu Khairiyah tercenung dengan apa yang ia lalui. Ada sesuatu yang hampir tak pernah luput dari hidupnya, air mata.

Selama sembilan tahun mengarungi rumah tangga, air mata seperti tak pernah berhenti menitik di kedua kelopak mata ibu yang lulusan 'aliyah ini. Semakin banyak sanak kerabat berkunjung dengan maksud menyudahi tetesan air mata itu, kian banyak air matanya mengalir. Zikir dan istighfar terus terucap bersamaan tetesan air mata itu.

Bu Khairiyah berusaha untuk berdiri sendiri tanpa menanti belas kasihan tetangga dan sanak kerabat. Di sela-sela kesibukan mengurus dua anaknya yang masih tetap tergolek, ia berdagang makanan. Ada nasi uduk, pisang goreng, bakwan, dan lain-lain.

Pada bulan Juni 2002, Allah kembali memberikan cobaan yang mungkin menjadi klimaks dari cobaan-cobaan sebelumnya.

Pada tanggal 5 Juni 2002, Allah memanggil Nisa untuk meninggalkan dunia buat selamanya. Bu Khairiyah menangis. Keluarga besar pun berduka. Mereka mengurus dan mengantar Nisa pergi untuk selamanya.

Entah kenapa, hampir tak satu pun sanak keluarga Bu Khairiyah yang ingin kembali ke rumah masing-masing. Mereka seperti ingin menemani Khairiyah untuk hal lain yang belum mereka ketahui.

Benar saja, dua hari setelah kematian Nisa, Nida pun menyusul. Padahal, tenda dan bangku untuk sanak kerabat yang datang di kematian Nisa belum lagi dirapikan.

Inilah puncak dari ujian Allah yang dialami Bu Khairiyah sejak pernikahannya.

Satu per satu, orang-orang yang sebelumnya tak ada dalam hidupnya, pergi untuk selamanya. Orang-orang yang begitu ia cintai. Dan akhirnya menjadi orang-orang yang harus ia lupai.

Kalau hanya sekadar air mata yang ia perlihatkan, nilai cintanya kepada orang-orang yang pernah bersamanya seperti tak punya nilai apa-apa.

Hanya ada satu sikap yang ingin ia perlihatkan agar semuanya bisa bernilai tinggi. Yaitu, sabar. "Insya Allah, semua itu menjadi tabungan saya buat tiket ke surga," ucap Bu Khairiyah kepada Eramuslim. (mnh)

(Seperti dituturkan Bu Khairiyah, warga Setiabudi Jakarta, kepada Eramuslim)
readmore »»  

Belajar Sabar dari Seorang Pepeng



Lebih dari dua tahun, mantan juara lawak mahasiswa tahun 78 ini terjebak dalam tempat tidur dan kursi roda. Sejak Juli 2005, Pepeng Allah uji dengan penyakit langka. Namanya masih asing di telinga orang kebanyakan, multiple sclerosis.

Penyakit ini menyerang susunan saraf pusat yang memunculkan terjadinya proses inflamasi dan demyelinisasi. Akibatnya, terjadi kerusakan saraf motorik, sensorik, dan otonom. Dari situlah, pria kelahiran Sumenep Madura, 23 September 1954 ini mengalami kelumpuhan.

Awalnya, Pepeng dan keluarga tidak tahu jenis penyakit yang menyerangnya. Selama kurang lebih 5 bulan, Pepeng dan keluarga diombang-ambing dengan kebingungan dan ketidakpastian.

Setelah datang ke Prof. Dr. Jusuf Misbach di RSCM, Pepeng diperiksa lebih rinci. Ada pemeriksaan tambahan yang tidak dilakukan dokter-dokter sebelumnya. Seperti, MRI, EMG, pemeriksaan cairan otak, serta pengambilan sumsung tulang belakang. Hasil pemeriksaan dikirim ke Ameriksa Serikat untuk diteliti lebih lanjut.

Pada 5 November 2005, Prof. Misbach melaporkan hasil laboratorium dari AS kepada Pepeng. Dari situlah pria yang pernah menjadi caleg Partai Keadilan Sejahtera untuk daerah pemilihan Sumenep Madura pemilu 2004 ini tahu kalau penyakitnya bernama multiple sclerosis. Hingga saat ini, belum ada obat yang bisa menyembuhkan. Kalau pun ada, hanya memperpanjang jarak kambuh.

Sejak itu, hari-hari panjang dilalui Pepeng penuh keprihatinan. Ia mencoba untuk tetap tegar dan sabar dalam menghadapi cobaan Allah yang tentu menyimpan hikmah di balik beratnya itu.

Dalam suasana hidup yang jauh dari hiruk pikuk kesibukan umumnya, ayah 4 anak ini mencoba memaknai hidup dengan lebih dalam. Ia rangkai garis demi garis peristiwa yang pernah ia alami.

Berikut penuturan Pepeng kepada Eramuslim.
Sebelum saya sakit, saya selalu road show. Aspek yang saya fokuskan adalah dalam rangka jihad i'lami, sharing informasi tapi lebih ke multmedianya. Pada tanggal 29 Mei 2007, resmi berdiri Islamic Broadcasting Forum.

Dari aspek ide, sudah bagus. Mungkin peralatan yang masih perlu peningkatan.

Saya dan isteri sudah janji. Kalau sudah enakan, mau buka lagi seperti di daerah Wanayasa Purwakarta. Melalui desa binaan itu, saya berencana mau dibuatkan radio. Subhanallah, tuh radio efektifnya bukan main dari sisi dakwah.

Banyak sekali hikmah yang ana bisa dapat selama ana sakit. Yang bener-bener sekarang saya paham, bahwa kata adalah fakta. Bukan pembentuk fakta. Kalau kecerdasan interpersonal saya, jadi saya mengoreksi diri saya, mengenali diri saya, mencari kata yang pas untuk diri saya itu salah. Berarti semua respon saya salah. Artinya, bahwa semua akhlak saya tidak sesuai dengan apa yang diajarkan.

Jadi, sekarang saya ngertiii sekali, kenapa Rasulullah menganjurkan kita untuk bicara sesuai dengan bahasa kaum. Wah, ini dalem banget buat saya.

Saya kan sedang mempersiapkan diri untuk menyelesaikan S3. Tapi, belum dapet-dapet. Karena, memang di Indonesia belum ada institusi kuliah jarak jauh, kecuali UT.

Saya merenung, apa sih yang membentuk dunia ini. Setelah saya cari, ya kata. Hatta, Allah dengan firman-Nya yang absolut, mutlak benar, tidak spekulatif, tidak asumtif; itu semua kata.

Itu semua yang akhirnya membuat saya jauuuh lebih dekat kepada keluarga saya.

Saya minta maaf ke isteri saya. Ternyata selama ini, saya nggak pantes menjadi suami. Dari semua buku yang saya baca, Rasulullah belum pernah membuat susah isterinya. Rasulullah selalu menghandle dirinya sendiri.

Belakangan ini, bahkan dalam mengartikan sakit saya, dalam kalimat pun itu sangat penting bagi diri saya. Misalkan kalau saya katakan, ini adalah musibah. Kayaknya, kita terlalu kecil sampai dikasih musibah sama Allah. Wallahu a'lam, apa saya salah.

Tapi menurut apa yang saya pahami, bahwa Allah tidak menghinakan orang sakit. Justru, Allah memberikan previlej untuk orang sakit dengan selalu dekat dengan yang sakit. Dari situ, ketakutan saya jadi hilang.

Waktu luka saya membesar, saya berduaan dengan isteri saya sudah kayak profesor. Apa yang mesti saya lakukan? Kalau toh kita ke dokter, ya aspek ekonomi lah. Yang kedua, mereka akan bolongin lagi. Dan saya sudah ngalamin dibolongi sampai 18 senti.

(Penyakit yang menjangkit di tubuh Pepeng, akhir-akhir ini memunculkan luka di bagian belakang tubuh. Luka itu terus membesar dan mengeras. Karena itu, salah satu pengobatannya adalah dengan mencongkel luka itu.)

Terus saya bilang, apa saya nyerah aja ya. Nah, ini yang salah. Waktu disiapin pisau yang akan nyayat saya, isteri seperti ingin bilang, saya takut.

Ternyata, dialog kami itu salah. Kita tidak saling mendukung. Nggak mungkin saya akan maksa dia. Kedua, kalau fear factor dia masih ada, sedangkan saya sudah hilang, saya harus ngajak dia. "Ya udahlah. Pokoknya kalau ada apa-apa, kamu nggak takut kan. Coba cek, congkel."

Bayangin, Allahu Akbar. Isteri saya ini baja banget. Anak-anak hampir nggak percaya kalau saya diurus oleh isteri yang sopan banget. Semuanya dia urus.

(Selama sakit, Pepeng tidak bisa menggerakkan tubuhnya kecuali bagian pusat ke atas. Karena itu, ia hanya terbaring di tempat tidur. Selama itu pulalah, semua keperluan ditangani isteri beliau. Mulai dari ganti pakaian, selimut, hingga bersih-bersih diri.)

Saya kan nggak bisa ngurus buang air besar dan kecil sendiri. Semua diurusin isteri saya. Subhanallah!

Waktu luka saya dicabut isteri saya, saya lagi tidur. Saya tanya, kenapa saya nggak dibangunin. Dia bilang, nggak. Aku takut nanti kamu panik. Saya bilang, apa iya saya kelihatan panik? Dia bilang, ya nggak lah.

Dulu kalau saya dapat komentar dari isteri saya tentang sakit saya, saya langsung down. Nyungsep. Makanya, saya mohon pada Allah, supaya diberi kecerdasan interpersonal. Ya Allah, kenalkan saya pada diri saya, supaya aku bisa mengenal takdirMu dari sudut pandang yang bagus sekali.

Jadi, dengan berkata-kata dengan Allah, selalu muncul kekuatan pada diri saya.

Jadi, walaupun saya merasakan sesuatu yang nggak enak pada diri saya, saya selalu mengucapkan, terima kasih ya Allah. Karena saya tahu itu semua merupakan proses menuju kesembuhan diri saya.

Saya yakin, dari semua ilmu yang saya pelajari, kalau ada rasa sakit yang berhenti, itu artinya ada perbaikan. Apalagi kalau sakit itu membaik.

Dari semua itu, saya selalu mengeluarkan statemen kepada Allah. Saat itu juga, ruhani saya jadi sehat. Dan kalau ruhani sehat, insya Allah, urusan jasmani jadi terasa kecil.

Jadi, di antara hikmah yang bisa saya petik, kata-kata itu luar biasa. Hati-hati sekali dengan kata-kata.

Bahkan ketika saya ngomong sama anak-anak saya, rangkaian kata-kata itu tidak harus keluar. Semua linguistik yang ada di tubuh kita program perilakunya itu ada dalam kata-kata.

Rasulullah saw. pernah melarang sahabat memarahi orang yang kencing di sebarang tempat. Soalnya, kencing itu bisa dibersihin. Tapi, hati itu sulit dibersihin.

Ketika bicara dengan anak-anak, Rasulullah selalu menyamakan tingginya dengan anak-anak. Jadi, mata dengan mata. Tidak ada superior dan imperior.

Kalau seorang anak yang sampai mendongak ketika berkomunikasi dengan orang tua, sebenarnya secara psikologis komunikasinya itu tidak jalan.

Saya perhatiin, apa yang terjadi di lingkungan kita itu pun karena ketidakbenaran susunan kata-kata.

Kita mesti punya kecerdasan untuk mengapresiasi apa pun yang ada pada diri kita saat ini. Ternyata, memang ada kecerdasan baru dalam dunia psikologi. Yaitu, kecerdasan mengapresiasi apa pun yang ada dalam diri kita.

Kecerdasan inilah yang menjadikan seseorang tidak pernah mengenal putus asa dalam hidup. Dari situ, saya simpulkan bahwa saya tidak sedang sick. Saya hanya pain.

Silakan Allah kasih apa saja buat diri saya. Dan saya akan berusaha untuk selalu bersyukur. (mn)
readmore »»  

Kemiskinan Itu Ujian Allah!




Punya pendidikan tinggi merupakan impian tiap orang. Tapi, bagaimana jika kemiskinan terus menghadang. Jangankan untuk biaya kuliah, buat makan saja susah.


Berikut ini penelusuran dan wawancara Eramuslim dengan seorang pemulung yang kini bisa terus kuliah di jurusan akuntansi di Pamulang, Tangerang. Mahasiswi berjilbab itu bernama Ming Ming Sari Nuryanti.


Sudah berapa lama Ming Ming jadi pemulung?


Sejak tahun 2004. Waktu itu mau masuk SMU. Karena penghasilan ayah semakin tidak menentu, kami sekeluarga menjadi pemulung.


Sekeluarga?


Iya. Setiap hari, saya, ayah, ibu, dan lima adik saya berjalan selama 3 sampai 4 jam mencari gelas mineral, botol mineral bekas, dan kardus. Kecuali adik yang baru kelas 2 SD yang tidak ikut.


***


Tempat tinggal Ming Ming berada di perbatasan antara Bogor dan Tangerang. Tepatnya di daerah Rumpin. Dari Serpong kurang lebih berjarak 40 kilometer. Kawasan itu terkenal dengan tempat penggalian pasir, batu kali, dan bahan bangunan lain. Tidak heran jika sepanjang jalan itu kerap dipadati truk dan suasana jalan yang penuh debu. Di sepanjang jalan itulah keluarga pemulung ini memunguti gelas dan botol mineral bekas dengan menggunakan karung.


Tiap hari, mereka berangkat sekitar jam 2 siang. Pilihan jam itu diambil karena Ming Ming dan adik-adik sudah pulang dari sekolah. Selain itu, bertepatan dengan jam berangkat sang ayah menuju tempat kerja di kawasan Ancol.


Setelah berjalan selama satu setengah sampai dua jam, sang ayah pun naik angkot menuju tempat kerja. Kemudian, ibu dan enam anak itu pun kembali menuju rumah. Sepanjang jalan pergi pulang itulah, mereka memunguti gelas dan botol mineral bekas.


Berapa banyak hasil yang bisa dipungut?


Nggak tentu. Kadang-kadang dapat 3 kilo. Kadang-kadang, nggak nyampe sekilo. Kalau cuaca hujan bisa lebih parah. Tapi, rata-rata per hari sekitar 2 kiloan.


Kalau dirupiahkan?


Sekilo harganya 5 ribu. Jadi, per hari kami dapat sekitar 10 ribu rupiah.


Apa segitu cukup buat 9 orang per hari?


Ya dicukup-cukupin. Alhamdulillah, kan ada tambahan dari penghasilan ayah. Walau tidak menentu, tapi lumayan buat keperluan hidup.


***


Ming Ming menjelaskan bahwa uang yang mereka dapatkan per hari diprioritaskan buat makan adik-adik dan biaya sekolah mereka. Sementara Ming Ming sendiri sudah terbiasa hanya makan sekali sehari. Terutama di malam hari.


Selain itu, mereka tidak dibingungkan dengan persoalan kontrak rumah. Karena selama ini mereka tinggal di lahan yang pemiliknya masih teman ayah Ming Ming. Di tempat itulah, mereka mendirikan gubuk sederhana yang terbuat dari barang-barang bekas yang ada di sekitar.


Berapa hari sekali, pengepul datang ke rumah Ming Ming untuk menimbang dan membayar hasil pungutan mereka.


Kalau lagi beruntung, mereka bisa dapat gelas dan botol air mineral bekas di tempat pesta pernikahan atau sunatan. Sayangnya, mereka harus menunggu acara selesai. Menunggu acara pesta itu biasanya antara jam 9 malam sampai jam 2 pagi. Selama 5 jam itu, Ming Ming sebagai anak sulung, ibu dan dua adiknya berkantuk-kantuk di tengah keramaian dan hiruk pikuk pesta.


Kalau di hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, keluarga pemulung ini juga punya kebiasaan yang berbeda dengan keluarga lain. Mereka tidak berkeliling kampung, berwisata, dan silaturahim ke handai taulan. Mereka justru memperpanjang rute memulung, karena biasanya di hari raya itu, barang-barang yang mereka cari tersedia lebih banyak dari hari-hari biasa.


Ming Ming tidak malu jadi pemulung?


Awalnya berat sekali. Apalagi jalan yang kami lalui biasa dilalui teman-teman sekolah saya di SMU N 1 Rumpin. Tapi, karena tekad untuk bisa membiayai sekolah dan cinta saya dengan adik-adik, saya jadi biasa. Nggak malu lagi.


Dari mana Ming Ming belajar Islam?


Sejak di SMU. Waktu itu, saya ikut rohis. Di rohis itulah, saya belajar Islam lewat mentoring seminggu sekali yang diadakan sekolah.


Ketika masuk kuliah, saya ikut rohis. Alhamdulillah, di situlah saya bisa terus belajar Islam.


Orang tua tidak masalah kalau Ming Ming memakai busana muslimah?


Alhamdulillah, nggak. Mereka welcome saja. Bahkan sekarang, lima adik perempuan saya juga sudah pakai jilbab.


***


Walau sudah mengenakan busana muslimah dengan jilbab yang lumayan panjang, Ming Ming dan adik-adik tidak merasa risih untuk tetap menjadi pemulung. Mereka biasa membawa karung, memunguti gelas dan botol air mineral bekas, juga kardus. Bahkan, Ming Ming pun sudah terbiasa menumpang truk. Walaupun, ia harus naik di belakang.


Ming Ming kuliah di mana?


Di Universitas Pamulang, Fakultas Ekonomi, Jurusan Akuntansi S1.


Maaf, apa cukup pendapatan Ming Ming untuk biaya kuliah?


Jelas nggak. Tapi, buat saya, kemiskinan itu ujian dari Allah supaya kita bisa sabar dan istiqamah. Dengan tekad itu, saya yakin bisa terus kuliah.


Walaupun, di semester pertama, saya nyaris keluar. Karena nggak punya uang buat biaya satu semester yang jumlahnya satu juta lebih. Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah semuanya bisa terbayar.


***


Di awal-awal kuliah, muslimah kelahiran tahun 90 ini memang benar-benar melakukan hal yang bisa dianggap impossible. Tanpa uang memadai, ia bertekad kuat bisa masuk kuliah.


Ketika berangkat kuliah, sang ibu hanya memberikan ongkos ke Ming Ming secukupnya. Artinya, cuma ala kadarnya. Setelah dihitung-hitung, ongkos hanya cukup untuk pergi saja. Itu pun ada satu angkot yang tidak masuk hitungan alias harus jalan kaki. Sementara pulang, ia harus memutar otak supaya bisa sampai ke rumah. Dan itu ia lakukan setiap hari.


Sebagai gambaran, jarak antara kampus dan rumah harus ditempuh Ming Ming dengan naik empat kali angkot. Setiap angkot rata-rata menarik tarif untuk jarak yang ditempuh Ming Ming sekitar 3 ribu rupiah. Kecuali satu angkot di antara empat angkot itu yang menarik tarif 5 ribu rupiah. Karena jarak tempuhnya memang maksimal. Jadi, yang mesti disiapkan Ming Ming untuk sekali naik sekitar 14 ribu rupiah.


Di antara trik Ming Ming adalah ia pulang dari kuliah dengan berjalan kaki sejauh yang ia kuat. Sambil berjalan pulang itulah, Ming Ming mengeluarkan karung yang sudah ia siapkan. Sepanjang jalan dari Pamulang menuju Serpong, ia melepas status kemahasiswaannya dan kembali menjadi pemulung.


Jadi, jangankan kebayang untuk jajan, makan siang, dan nongkrong seperti mahasiswa kebanyakan; bisa sampai ke rumah saja bingungnya bukan main.


Sekarang apa Ming Ming masih pulang pergi dari kampus ke rumah dan menjadi pemulung sepulang kuliah?


Saat ini, alhamdulillah, saya dan teman-teman UKM Muslim (Unit Kegiatan Mahasiswa Muslim) sudah membuat unit bisnis. Di antaranya, toko muslim. Dan saya dipercayakan teman-teman sebagai penjaga toko.


Seminggu sekali saya baru pulang. Kalau dihitung-hitung, penghasilannya hampir sama.


Jadi Ming Ming tidak jadi pemulung lagi?


Tetap jadi pemulung. Kalau saya pulang ke rumah, saya tetap memanfaatkan perjalanan pulang dengan mencari barang bekas. Bahkan, saya ingin sekali mengembangkan bisnis pemulung keluarga menjadi tingkatan yang lebih tinggi. Yaitu, menjadi bisnis daur ulang. Dan ini memang butuh modal lumayan besar.


Cita-cita Ming Ming?


Saya ingin menjadi da'i di jalan Allah. Dalam artian, dakwah yang lebih luas. Bukan hanya ngisi ceramah, tapi ingin mengembangkan potensi yang saya punya untuk berjuang di jalan Allah. (MN)
readmore »»