. TKA TPA AL BANNA [ انسان مسلم ]: 03/24/12
Have an account?

Sabtu, 24 Maret 2012

Kuda Mainan



Seorang anak balita tampak asyik dengan mainan barunya: kuda-kudaan. Mainan dari kayu ini berbentuk mirip kuda dengan alas kayu berbentuk setengah elips.
Ketika kuda mainan itu digerakkan ke depan dan ke belakang, si penunggang, khususnya anak-anak, akan merasakan seolah-olah seperti naik kuda sungguhan.
“Asyik, aku naik kuda,” teriak sang anak sambil terus menggerakkan sang kuda mainan dengan kaki pijakannya.
Pandangan sang anak tertuju pada pesawat televisi di depannya yang sedang menayangkan kuda sungguhan yang sedang ditunggangi seseorang.
Sedemikian asyiknya, sang anak merasakan kalau dialah yang sedang menunggangi kuda sungguhan seperti yang ada di pesawat televisi itu. Tapi, rasa ingin tahunya pun muncul.
“Kak, kok lari kudanya di sini-sini aja?” tanya sang anak kepada kakaknya yang juga sedang menonton televisi.
“Iya, adikku. Itu karena bukan kudanya yang bergerak, tapi tenaga kamulah yang menggoyang-goyangkan kuda ke depan dan ke belakang,” jawab sang kakak sekenanya.
Sambil tetap semangat dengan kuda tunggangan mainannya, sang anak masih bingung dengan jawaban si kakak.
**
Siapa pun kita, baik individu maupun organisasi, tentu menginginkan perubahan kepada yang lebih baik. Semua pun bergerak, ‘menunggangi’ kemampuan dan modal yang dimiliki.
Namun, adakalanya, semua energi yang dikeluarkan dan segala keletihan yang telah dirasakan, ternyata tidak memberikan hasil yang diinginkan. Alih-alih ingin mencapai ke suatu tempat yang diinginkan, bergeser ke depan pun tidak. Ia masih tetap berada di mana ia mulai.
Boleh jadi, benar apa yang disampaikan sang kakak kepada adiknya, bukan kudanya yang bergerak maju, tapi kitalah yang hanya menggoyangkan ‘kuda’ ke depan dan kemudian mundur lagi ke belakang. (muhammadnuh@eramuslim.com)
readmore »»  

Jam


Seorang anak batita begitu terheran dengan benda berbentuk lingkaran yang dipenuhi angka-angka. Tiga buah jarum yang menunjuk angka-angka di lingkaran itu pun kian membuatnya tercenung.
Ada jarum tipis warna merah yang menunjuk dari satu angka ke angka lain dengan begitu cepat. Ada jarum yang lebih tebal dan lebih panjang yang bergerak lebih lamban. Dan, ada jarum pendek gemuk yang nyaris tak bergerak, tapi bisa berpindah ketika dalam waktu lama tak diperhatikan.
Yang lebih menarik dari semua pemandangan di benda itu adalah ketika pada saat tertentu, ada burung mainan yang tiba-tiba keluar dari bawah lingkaran tersebut dengan suara khas. “Kuk kuk…kuk kuk…kuk kuk…!”
Saat itulah, sang anak pun melompat riang. Tapi, ia masih bingung dengan benda itu.
“Itu jam, anakku!” suara sang ibu tiba-tiba muncul dari balik tubuh mungil si batita.
“Jam…?” sahut si batita seraya mengungkapkan rasa ingin tahunya.
“Iya. Itu jam. Perhatikanlah, sang burung tidak akan bernyanyi kalau si jarum pendek gemuk tetap saja diam, si jarum pendek gemuk akan tetap diam jika si jarum tebal panjang hanya berhenti. Dan, dua jarum itu tidak akan bergerak kalau saja si jarum merah kecil tidak bergerak lincah,” jelas sang ibu sambil memperhatikan wajah si batita yang begitu serius menatap ibunya. Sesekali, pandangannya menoleh ke arah jam, untuk memastikan kebenaran yang diucapkan ibunya.
“Dan anakku, semua jarum-jarum itu bergerak ke arah yang sama,” tambah sang ibu sambil menunjuk ke arah gerakan jam.
++
Jam, dalam makna kehidupan tidak selalu menunjukkan nilai sebuah waktu. Ada sisi lain yang bisa diambil hikmah dari gerakan tiga jarum dalam jam.
Dalam dinamika sebuah organisasi, dinamika tiga jarum jam memberikan makna tersendiri bagaimana interaksi produktif antara pimpinan, manejer, dan pelaksana. Seperti tiga jarum jam, masing-masing level punya intensitas gerakan yang berbeda, karena bobot dan pengaruh gerakannya memang berbeda.
Namun, walaupun punya gerakan yang seolah berbeda, semua level tidak ada yang diam. Semua bergerak dalam sistem yang begitu harmonis. Keharmonisan gerak tiga level inilah yang menghasilkan ‘pengingat suara burung’ yang begitu bermanfaat untuk orang banyak.
Tapi, dari semua nilai pelajaran yang ada dalam tiga level jarum jam, ada satu pakem yang jika dilanggar akan berakibat sangat fatal. Yaitu, walaupun beda level dan beda intensitas gerak, ketiga jarum bergerak dalam arah yang sama. (muhammadnuh@eramuslim.com)
readmore »»  

Keong



Seekor keong muda tampak memperhatikan kegiatan satwa di kelilingnya. Ada burung-burung yang mampu terbang tinggi. Sejumlah kelinci yang asyik berlari-larian di rerumputan hijau, melompat kesana dan kemari. Ikan-ikan yang begitu menikmati sejuknya alam air danau yang begitu luas.
“Aih asyiknya mereka,” ucap sang keong menampakkan kekaguman.
Saat itu juga, sang keong muda menyadari sesuatu dari dirinya yang dirasa begitu banyak kekurangan. Ia tak bisa terbang seperti burung. Tak bisa berjalan cepat, apalagi berlari dan melompat, seperti kelinci. Dan tak bisa berenang seperti ikan-ikan.
“Andai aku seperti mereka…,” gumam sang keong memperlihatkan penyesalan diri.
Bayangan wajah-wajah ceria para hewan di sekitarnya kian membuat dirinya merasa terpuruk. “Tuhan tidak adil!” ucapnya kemudian.
Di luar kesadaran sang keong muda, seekor keong tua menghampiri. “Jangan berpikir picik tentang keadilan Tuhan, anakku!” ucapnya bijaksana.
“Berbaik sangkalah kepada Yang Maha Bijaksana, suatu saat, kau akan tahu di balik rahasia ciptaan-Nya…,” sambung sang keong tua sambil berlalu meninggalkan sang keong muda yang masih kebingungan.
Belum lagi kebingungan itu hilang, si keong muda dikejutkan dengan suara pekikan tiga ekor burung elang yang meliuk-liuk di udara. Ketiganya pun menukik ke arahnya, ikan, dan kelinci.
Spontan, tubuh sang keong menyusut dan langsung tertutup rumahnya yang begitu keras. Burung elang yang gagal memangsanya pun terbang meninggalkan diri sang keong yang mulai mengintip ke arah ikan dan kelinci.
Begitu miris, seekor ikan dan kelinci sudah berada dalam genggaman kaki dua ekor elang yang langsung terbang membawa mangsanya ke arah ketinggian.
Saat itulah, ia tersadar sesuatu. “Ah benar apa yang dikatakan pak keong tadi. Begitu banyak rahasia di balik keadilan Yang Maha Pencipta,” ucapnya membatin.
**
Salah satu kelemahan kita adalah ketidakmampuan menangkap rahasia keunggulan diri yang telah disediakan oleh Yang Maha Bijaksana. Paradigma berpikir negatif kian menjerumuskan kita kepada sebuah gugatan tentang keadilan Tuhan.
Perhatikanlah, dan bukalah tempurung kepicikan diri yang telah mengungkung kita dalam kegelapan cara berpikir dan bertindak. Berusaha dan bersyukurlah, suatu saat, akan kita temukan begitu banyak anugerah Allah dalam diri kita yang tersekat oleh cara kita melihat diri kita sendiri. (muhammadnuh@eramuslim.com)
readmore »»  

Hakikat Dan Kekuatan Manusia Sebagai Makhluk Akhirat






Oleh, dr. Flora Ekasari Sp.P
Pernahkah kita menyadari bahwa manusia hakikatnya makhluk akhirat? Bahkan Allah sendiri yang menghendaki kehidupan akhirat bagi kita sesuai tujuan penciptaan-Nya, bukan sebagai makhluk dunia dengan kehidupan dunia seperti yang kita sangka dan inginkan. Kedudukan kita sebagai ibaadullah (hamba-hamba Allah) dan wakil (khalifah) Allah) [1] di muka bumipun adalah dengan kewajiban tunduk patuh kepada aturan Allah semata untuk tujuan akhirat. Allah adalah Pencipta yang Maha Mengetahui, bukan hanya perihal manusia saja dan perjalanan suatu bangsa sebelum bangsa itu tercipta misalnya namun juga segala hal terkecil yang ada di alam semesta yang sangat luas ini. Diapun amat sangat teliti dalam hal penetapan suatu peraturan dan pembalasan-Nya terhadap mereka yang taat kepada peraturan Allah Swt maupun yang melanggarnya.
Bersamaan dengan hakikat dari Ilahi ini dengan akal dan jiwa yang bersih kita dihadapkan pada kemampuan memaknai hakikat kehidupan kita dan hakikat kehidupan secara keseluruhan. Pemahaman hakikat ujian dan cobaan yang merupakan sebuah kaidah pokok bagi sebuah kehidupan adalah penting agar dapat menyelamatkan kita untuk dapat kembali kepada Allah dengan hati yang bersih menuju kampung akhirat dengan selamat. Sesungguhnya manusia akhirat itu adalah yang paling teliti dan sungguh-sunguh mendeteksi setiap ancaman yang dapat menghalangi dirinya dan keluarganya maupun umatnya masuk surga dengan selamat, sedangkan hak Allah adalah menguji siapa yang paling bertakwa dan siapa yang menolong agama Allah.
Bagi manusia akhirat kehidupan yang kita jalani seperti aturan berbangsa bernegara, demokrasi, HAM, sistem ekonomi, perpajakan, informasi dan komunikasi, penegakkan keadilan, pelayanan kesehatan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan sebagainya harus dikembalikan lagi nilainya dihadapan Allah swt, dikembalikan lagi pada peraturan Allah swt [2] yang unik dan sempurna demi untuk mencapai keridhaan-Nya, bukan penilaian manusia semata. Keberhasilan dan kegagalan suatu bangsa, kita ridha atau tidak, mau atau tidak mau, menerima atau tidak, tolok ukur utamanya adalah sistem kehidupannya mampu melewati ujian dan cobaan [3] sehingga kaum musliminnya baik sebagai individu, keluarga maupun masyarakat dan pejabat negara dapat selamat hidup didunia dan akhirat, di dunia sebagai tempat ujian dan cobaan3, atau sebagai ladang akhirat/mazra'atul akhirah, dimana kita harus mempersiapkan bekal takwa dan amal shaleh sebanyak-banyaknya untuk kembali kepada Allah menuju kampung akhirat dengan selamat. Jika hal itu belum tercapai seperti maraknya syirik, mistik dan ramalan; adanya bank-bank konvensional yang mempraktikan riba; keterlibatan pejabat dalam berbagai kejahatan seperti bersikap munafik, khianat, penipu, diktator, dan ber-KKN yang hidupnya bermegah-megahan, sedang rakyatnya sendiri menderita kemiskinan dan kelaparan; belum lagi kejahatan lainnya seperti larangan penggunaan jilbab, penindasan, kezaliman, ketergantungan kepada asing dan sebagainya, maka harus kita akui dihadapan Allah baik sebagai individu, masyarakat dan pemerintah bahwa telah terjadi pelanggaran hak Allah dalam aturan hidup. Janganlah seperti Pemerintahan kaum munafik dari kalangan "Islam liberal" dan "sekuler" yang menghalangi tegaknya aturan Allah, hukum syari'at Islam, karena melihat untung ruginya dari segi kekuasaan yang ingin dipertahankan didorong oleh hawa nafsunya dan didukung oleh negara-negara kafir adidaya, namun berlepas tangan dari akibat buruk sistem yang diciptakannya dan rakyat yang dizaliminya.
Negeri Akhirat Patut Dicari
Negeri akhirat Allah janjikan jauh lebih mulia daripada dunia dan seisinya dan keadilannya sangat sempurna. Pemahaman dan keyakinan penuh iman terhadapnya membuat seseorang lebih bernilai istimewa dalam kehidupan didunia yang dia ada didalamnya. Bagi orang yang berilmu adalah lebih baik beramal, berjuang melawan rasa malas, tidur panjang dan kesenangan lainnya, karena rasa harap dan takut yang senantiasa meliputi dirinya, terutama terhadap urusan ini, urusan akhirat yang menjadi impiannya, dan tidak akan mungkin ada kesombongan terselip dalam hatinya untuk menjual ilmunya untuk mempertahankan kehidupan dunianya semata.
Bagi orang yang bekerja dan beramalpun keyakinanannya hanya satu seperti dalam ayat Al Quran bahwa Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaannya dan balasan Allah sangat sempurna (QS. At-Taubah:105). Siapakah yang ingin lebih sempurna dalam bekerja jika keyakinan itu sudah ada, mereka akan bekerja keras dan berhati-hati, menempatkan akalnya dalam mempertimbangkan dan mempertanggung jawabkan secara seksama setiap hal dan menyadari diluar itu hanyalah kesenangan yang menipu belaka. Adakah hal lain yang lebih bisa menjelaskan rahasia keteguhan, ketenangan, harapan terus menerus, kesabaran dan upaya yang tak pernah berhenti seorang mukmin untuk menegakkan kebenaran akan menentang kebatilan dan kezaliman, peduli terhadap masalah umat bahkan dunia keseluruhannya dengan menyebarluaskan dinul Islam dimuka bumi ini, mendatangkan kasih sayang, silaturahmi, keadilan, keteraturan, ketertiban, kebaikan bagi lingkungannya bahkan sampai akhir hidupnya untuk akhir amalnya. Ingatannya tertuju pada motivasi dari Allah untuk berlomba-lomba menuju kebaikan, ampunan dan Ridha-Nya. Berkat pertolongan Allah di dunia dia akan menjadi cahaya yang menerangi sekitarnya. Jangan kita putuskan Rahmat Allah ini dengan meragukan janji-Nya sehingga tidak istiqamah dalam ketaatan bahkan mengganti aturan islam dengan aturan kafir dan prilaku kaum kafir dengan sikap taklid buta dan tasyabbuh/menyerupai sampai masuk ke lubang biawak dan menikmati hidup didalamnya sampai akhir hayatnya dan lupa pertanggung jawabannya dan kewajibannya terhadap agama Islam dan umatnya, naudzubillah min dzalik.
Motivasi Dari Allah Swt
Manusia akhirat akan selalu rindu pada Penciptanya, rindu, patuh dan taat pada setiap ketentuan dan peraturan, menerima takdir dan meyakini hakikat daripada qadha dan qadar untuk dirinya karena dia sadar hanya dengan itulah hidupnya akan ringan. Dia sadar Allah telah mengambil janji kepada dirinya untuk tidak menyembah selain Allah, bertauhid dan beribadah yang benar termasuk menjauhkan hawa nafsunya dan bisikan setan. Allah pun memerintahkan untuk berpikir kenyataan bahwa setan dan bujukan orang munafiklah yang menyesatkan dan melalaikan manusia agar tidak berada di jalan Allah yang lurus sehingga memilih jalan-jalan yang akan mencerai beraikan umat dan menjauhkan umat dari Islam sebgai way of life atau pedoman hidup.
Manusia akhirat sadar bahwa perjalanan waktunya didunia sangat sempit padahal adalah hal yang sangat pasti bahwa dia harus mempertanggung jawabkan dihadapan Allah segala perbuatannya untuk agamanya, umat, keluarga dan dirinya. Kesadaran ini adalah bentuk rasa syukurnya kepada Allah swt. Diantara janji Allah akan kenikmatan surga, dia selalu ingat siksa yang diringankan adalah bara api neraka sebesar kerikil diletakkan dijari jemarinya sementara panasnya mencapai ubun-ubun. Tuntunan kaum salaf mengatakan tidak ada ibadah dan bekerja yang pahalanya melebihi rasa takut kepada Allah akan siksa neraka disertai rasa takut terhadap kemunafikan dan keburukan batinnya. Namun demikian Rasulullah saw berpesan dan bersabda agar jangan sekali-kali kali kita meninggal kecuali berprasangka baik kepada Allah itulah bagian dari Rahmat Allah swt, untuk berharap hanya kepada Allah namun tidak lalai akan dosa-dosa kita. Harapannya seorang hamba adalah semoga Allah menetapkan hati atas ketaatan kepadaNya.
Sejak awal Allah telah memberi petunjuk tujuan diciptakannya manusia melalui kitab-kitabNya, nabi-nabi dan Rasul-rasulNya. Diantara rahmat Allah terhadap seluruh hamba-Nya ialah bahwa Dia menjelaskan dalam kitab-Nya Al Qur'an yang mulia bahwa dunia ini adalah negeri ujian, cobaan dan bersifat fana (tidask kekal) dan hanya jalan penghubung menuju akhirat sehingga jangan menjadikannya tujuan dan pengetahuan tertinggi. Allah swt memberi motivasi kepada seluruh hambaNya agar mereka berhasil dalam menghadapi ujian duniawi supaya mereka kelak memperoleh surga-Nya, Allah menginginkan pahala bagi hamba-Nya diakhirat sedangkan manusia menginginkan harta yang banyak didunia. Diturunkannya Al Quran dan diutusnya Rasullullah saw serta cara hidup beliau, gaya hidup istri-istrinya dan perjuangan beliau yang kemudian dilanjutkan para sahabatnya dan sejarah kegemilangan Islam adalah menjadi petunjuk dan pelita untuk memunculkan kebijaksanaan, kesadaran dan keyakinan yang memudahkan usaha kita menemukan eksistensi diri untuk beramal maksimal sesuai tuntunan al qur’an. Dalam hadits Bukhari (45683, 6996) dijelaskan manusia diciptakan dimuka bumi untuk beramal menurut apa yang dimudahkan baginya untuk misi sucinya, berarti dengan akalnya tidak ada seorangpun kehabisan kemampuan untuk beramal, masalahnya amal itu diterima Allah atau tidak jika tidak ingin disebut merugi.
Motivasi dari Allah akan memunculkan kecerdasan manusia akhirat berupa keyakinan bahwa penegakan aturan hidup islam tidak saja untuk memperoleh kebahagiaan dan ampunan Allah di akhirat tetapi juga untuk mencapai kesempurnaan dan keselamatan hidupnya didunia di bidang pendidikan, sosial, ekonomi, politik dan sebagainya baik muslim ataupun bukan. Jika kita dikaruniakan menjadi bangsa yang merdeka oleh Allah kita wajib mengisinya dengan amal terbaik, menjauhkan hal yang menghalangi tujuan kebahagiaan dunia dan akhirat baik yang berasal dari dalam diri sampai paham yang jelas-jelas menjadi musuh nyata, semisal ajaran sekuler yang memisahkan agama dari urusan masyarakat dan negara atau paham liberal yang menganggap semua agama benar dan tidak boleh beranggapan bahwa Islam adalah agama yang paling benar. Jangan sampai tergadaikan keimanan kita untuk selain yang diridhai Allah yaitu dinul Islam (QS. Al-Maidah: 3).
Imam Abu Hanifah berkata bahwa semua ketaatan adalah wajib berdasarkan perintah Allah, dan hal itu disukai, diridhai, diketahui, dikehendaki, ditetapkan, ditakdirkan oleh Allah. Sedangkan maksiat semuanya diketahui, ditetapkan, ditakdirkan Allah dan dikehendaki Allah, tetapi Allah tidak menyukai dan tidak meridhai hal itu, bahkan Allah tidak memerintahkannya. Imam Ahmad bin Hambal mengimani takdir baik dan buruk semua dari Allah, bahwa Allah mentakdirkan ketaatan dan kemaksiatan, kebaikan dan keburukan. Karenanya wajib bagi kita untuk menjalankan ketaatan karena perintah Allah, menjauhkan apa yang tidak diridhai Allah meskipun hal ini sedang kita jalani. Manusia akhirat akan selalu berubah dan berjuang agar pantas memasuki negeri akhirat dengan ridha dan diridhai Allah swt. Maka marilah kita menimbang diri kita, keluarga dan pemerintahan kita apakah akan mampu mempertanggung jawabkannya dihadapan Allah swt. Jika anda baru pulang berhaji, maka anda harus menjadi contoh manusia akhirat itu. Karena esensinya rukun Iman dan Islam adalah menuntun seorang hamba untuk tujuannya menjadi makhluk akhirat yang insyaallah surga tempat tinggalnya yang abadi.
Catatan Kaki
[1] Sebutan khalifah/wakil Allah hanya bisa dipakai untuk Nabi Adam a.s dan Nabi Daud a.s, maka tatkala sayyidina Abu Bakr dilantik sebagai khalifah ada yg memangilnya dgn khalifah Allah, beliau marah dan mengatakan aku ini bukan khalifah Allah tapi khalifah Rasulullah SAw. Oleh karena itu, diganti dgn berikut: sebagai penguasa dan pemimpin yg mewarisi bumi ini dgn izin Allah Swt (QS. An-Nur: 55)
[2]. QS. Al-An’am:57, QS. Yusuf:40, QS. Al-Maidah:44,48,49
[3]. QS. Al-Mulk:2
readmore »»  

Afwan, Ikhwan Itu Pacar Saya


Gedung Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tampak tinggi menjulang, bergaya timur tengah, begitu indah di pandang mata. Di sini mahasiswa terlihat lalu-lalang mengejar waktu yang memburu. Sebagian masih asyik bersenda gurau di basement kantin, ada yang baca koran, berdiskusi, menyiapkan acara di masing-masing BEM, atau sekedar duduk melepas penat. Sedangkan Leni dan Riri asyik menyeruput jus sirsak pesanan di kantin.
Mahasiswa yang terkenal aktif di BEMJ Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) ini, juga terkenal aktif memburu berita percintaan di kalangan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, bahkan majalah Jeda pernah ingin memakainya, maklum Ratu Gosip. Ketika ada kabar yang belum tentu kebenarannya, ia justru sudah mensosialisasikan ke setiap jengkal kampus. Walaupun kerap salah dan informasinya merugikan orang lain, ia tidak juga kapok. Ya namanya berita kadang benar kadang salah, begitu gumamnya.
Hari ini benar-benar ada berita heboh yang akan menggelegar, seorang akhwat kedapatan berduaan dengan seorang cowok. Leni yang menyebar kabar itu. Tak pelak, ia yang begitu mengagumi seniornya ini yang terkenal cantik dan berkepribadian menarik, langsung luntur dalam bayangan teladannya.

“Eh Riri, Masya Allah, Gue benar-benar gak nyangka Ri. Ka Ica yang begitu gua kagumi sosoknya. Ah gua benar-benar gak bisa ngomong Ri?”
Slow dong Man…. Slow…, Ada apa Len, kamu mah bikin aku penasaran aja.”
Leni geleng-geleng kepala, mulutnya terasa tertutup rapat untuk menghembuskan barang satu kata pun. “Oh My God..”
“Lho emang kenapa sih Len?”
“Gua harap lo jangan kaget atas apa yang gua lihat tadi?
Riri mengangguk..
“Gua baru aja pengen ke kamar mandi lantai 7.”
“Yang deket Turki Corner itu?” Potong Riri.
That’s it!! Gua lihat sekilas Kak Ica lagi berduaan sama seorang cowok?”
“Ah biasa aja kali, mungkin ada keperluan kali. Lagipula juga lo lihatnya sekilas,” sanggah Riri tak mudah percaya.
Leni menggebrak meja dengan emosional dan berkata, “Eh masih mending kalau berduaan aja, ini pake pegang-pegangan tangan, eh emang gua gak lihat jelas muka cowoknya, tapi itu tetap cowok.”
Astaghfirullah aladzim, sumpeh lo?”
Leni mengangguk kecewa.
Keesokan harinya….
Ka Ica yang terkenal berkepribadian santun di seantero UIN Jakarta, sedang bersiap-siap menuju kampus, ia kunci rapat kamar kosnya. Tasnya sangat berat, karena di dalamnya terselib buku Majmu FatawaIbnu Taimiyyah.
“Sini aku yang bawa sayang,” ucap seorang cowok berperawakan sedang. Di depan kos mereka menangkring motor Honda tahun 80an.
“Ah tidak usah, aku aja yang bawa. Kamu langsung balik aja, gak enak nanti dilihat banyak orang.”
“Ya sudah malam minggu Ukhti ada di rumah kan? Aku apel ya?”
“Iya dong say, kan sudah jatah kamu mulai saat ini?” belay Ka Ica pada pipi sang cowok berkulit sawo mentah.
“Hmm kita nonton apa Ukh?”
“Hafalan Solat Delisa saja,”
“Oke deh..” ucap pasang cowok sambil memakai jaket hitam.
Leni dan Riri yang hobinya nonton detektif Konan, ternyata bersembunyi di balik Rental Komputer Ijul yang tak jauh berjarak dari kost Kak Ica, yang sering diebut “Gua Hira” karena tempatnya nyempil.
Lailahailallah, Laknatullah benar-benar Ukh Ica, ternyata apa katamu benar Len. Aku gak habis pikir,” kaget Riri.
“Ssssstttt, entar kita ketahuan, lo diam aja dulu. Gua udah siapain kamera untuk merekam ini semua,” gusar Leni.
“Hehe.. gak percuma kamu ikut seminar sehari inteligensi. By the way, kayaknya cowoknya Ikhwan juga?”
“Ah kalo Ikhwan moralnya begitu, sorry lah yau..” tampik Leni.
Ditengah pembicaraan itu, Riri mencoba melongok lebih jauh. Ia ingin memastikan siapakah gerangan dibalik pria yang bersama Ica. Namun tanpa disadari, kaki kirinya yang mencoba maju tak sengaja menginjak batang kayu yang mulai reot.
“Guuubbrrraakkk..!!”
Mata Kak Ica spontan mengikuti arah suara yang mengagetkan.
Riri dan Lani panik kalang kabut, mereka cepat-cepat memepet tubuh hingga balik tembok.
Kak Ica menghampiri sumber suara, radiusnya sekitar 7 meter saja dari kost. Ia berjalan cepat karena takut ada apa-apa, atau mungkin maling motor yang marak di Ciputat. Ia celingak-celinguk. Matanya terus mendekati tubuh Leni dan Riri yang semakin berlindung di balik dinding rapuh.
Leni dan Riri, sama-sama menahan suara agar tidak kecium Kak Ica. Namun Leni yang lebih kacau, ia ingin sekali bersin, karena hidungnya kemasukan debu dari kayu reot yang patah.
Jari Riri sesekali mencubit paha Leni agar menahan bersinnya.
Kak Ica mendekati ke mereka, langkah gontai semakin jelas terdengar.
Riri begitu kencang mencubit Leni. Kalau cubitan yang ini, murni karena Riri sangat tegang.
Dan…. “Hay kak, lagi ngapain?” Tanya Ijul yang muncul dari Rental komputernya.
“Eh Ijul.. oya gimana ketikan Kakak udah beres?” selidik Kak Ica
“Dikit lagi kak, ini tinggal ngerjain SPSS-nya aja?” jawab Ijul.
“Syukron ya Jul. Oya Jul kakak buru-buru nih mau ke kampus, ada janji sama teman bikin proposal untuk BEM.”
“Tapi entar dulu kak, oya kajian Islam-nya jadi gak entar malam?”
“Insya Allah, kamu sudah dua kali gak ikutan lho, yee… curang”
“Pematerinya siapa kak?
”Ustadz Rahman, sekarang masuk bahasan Ibnu Qayyim Al Jauzi,”
“Insya Allah deh kak dateng,”
“ÓK aku tunggu lho, kalau gak aku hipnotis,”
“Hehehe galak amat, dimemori Quantum aja kak,”
“Afwan”
Leni dan Riri masih bersembunyi di balik tembok. Kaki mereka mulai gemetaran, Tangan Riri bak diikat, karena sedari tadi menyumpal mulut Leni. Ketika Kak Ica pergi barulah mereka tenang. Dan “Haahaahsssssyyyyyyyyyiiimmmm,” bersin Leni menggelegar.



“Gawat… ini gawat,”
“Ih Si Leni gawat apanya?” Tanya Rangga, senior kampus yang terkenal alim.
Leni menceritakan panjang lebar kejadian yang membuatnya curiga bahwa Kak Ica mulai berani berdua-duaan sampai pegangan mesra sama cowok. Baginya perbuatan Kak Ica itu mencoreng nama baik BPI. Ia tidak mau nama BPI tergores. Apa jadinya kata dunia ada mahasiswi alim di BPI yang kumpul kebo. Lagipula apa jadinya mahasiswi yang populis sebagai “artis peradaban” tidak tahan terhadap belaian pria.
Rangga didera shock theraphy. Jantungnya bedegup atas cerita Leni. Ia sangat tidak menyangka, atas tingkah nista Ica tersebut. Leni benar-benar berhasil menyihir Rangga.
Lift sampai lantai 5, seorang mahasiswa masuk. Wajahnya bersih, tampan, dan berpenampilan rapih. Sontak ia berhadapan dengan Leni yang tepat berdiri di depan lift. Leni bergeser.
Matanya mulai nakal, ia perhatikan sesekali sang mahasiswa. Dalam hati Leni berkata “Masya Allah cucok juga nih cowok”.
Di sisi lain, isu percintaan Kak Ica sudah menyebar ke seluruh mahasiswa BKI. Dari mulai semester satu, tiga, lima, tujuh, dan sembilan. Bahkan beberapa dosen dan kajur kebagian infonya. Ini semata-mata karena Kak Ica memang bak seleb di BKI. Jadilah informasi cinta Kak Ica pasti laku bak kacang goreng. Beberapa orang masih penasaran. Mereka mencoba mengklarifikasi ini ke Ica, namun HP Ica tidak aktif, kost Gua Hira-nya juga terkunci kuat dengan dua gembok.
****
Hari ini Forum Studi Konseling (Forsik)digelar. Para peserta tumplek ruah megisi Ruang 5.01 di lantai 5. Pembicara belum juga kelihatan batang hidungnya. Namun entah kenapa Leni punya rencana lain, ia datang ke Forsik untuk memberi bukti skandal. Ia siapkan rekaman itu, apalagi diskusi Forsik kerap memakai infokus. So Leni ingin menyiapkan kejutan.
Akan tetapi Leni agak kesal, Kak Ica ternyata tidak ikut Forsik. Beberapa teman-teman juga kecewa Ica tidak datang. Padahal kedatangan Ica begitu ditunggu untuk menjelaskan lelucon dari perbuatannya selama ini.
Di kursi belakang, bukannya serius untuk mendengarkan diskusi, tapi ia malah sibuk memikirkan situasi Kak Ica berada saat ini. Ketika melamun, pembicara datang dengan mengenakan jas coklat muda. Materi kali ini tentang Konseling ala Rasulullah SAW.
Ketika pembicara duduk di depan, sontak Leni tidak mengira, “Oh my God inikan cowok yang tadi satu lift”. Leni betul-betul tidak bisa menahan pandangannya. Ia tatap lekat-lekat wajah pria tampan itu; sejuk, ramah senyum, rapih, dan bersih. "Ah beruntung sekali wanita yang dipinangnya," gumam Leni dalam hati.
Ia menelan ludah, ada gurat cinta di hatinya. Yup cinta pada pandangan pertama. Tutur bahsanya enak didengar ketika menjelaskan. Intonasi suaranya jelas. Ah Leni benar-benar terbuai. So untuk melampiaskan kesukaanya, Leni sengaja bertanya banyak hal tentang tema yang sedang dibicarakan.
Makin bertambah lipat hatinya, cara menjawabnya begitu detail, memang pintar sekali. Leni berpikir dua kali untuk mengumbar skandal Kak Ica, bisa hancur wibawanya bila dilihat sang pembicara. Namun sesekali hatinya juga berontak. Ia pikir bukankah ini justru menjadi dakwah untuk memberi tahu atau tepatnya memberi pelajaran pada Ica bahwa caranya salah berhubungan dengan seorang pria. Sekalipun Ica adalah sosok mahasiswi teladan baginya. Jika tidak diumbar sekarang, malah akan menjadi boomerang baginya, bahwa ia adalah tukang gossip, penyebar berita palsu, tukang fitnah.
“Astaghfirullaaladzim,” cetusnya.
Ketika Forsik selesai dan pembicara izin pamit, Leni menahan teman-temannya untuk tetap duduk di tempat. Ia siapkan infokus. Sebelumnya ia berdiri di podium, sekedar menjelaskan apa yang akan dilihat teman-temannya nanti, murni sebagai rasa cintanya pada Kak Ica, sesama teman dan keluarga besar BKI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Teman-teman yang lain gantian menyibir Leni, “Ya sudah kamu tunjukkan kalau kamu memang tidak menyebar berita bohong, karena tidak mungkin seorang Ica melakukan perbuatan nista itu,” sergah Rangga.
“Betul kata Rangga, istighfar Leni, apa yang kamu katakan akan dicatat oleh Allah,” umbar yang lain.
Suasana menjadi tegang, Leni tidak sendirian ada teman-teman lainnya yang akan mem-backup. “Saya sepakat sama Leni, lebih baik kita buktikan saja siapa yang benar dan siapa yang salah, ini kan buat kebaikan jurusan kita juga. Kita akan menarik pelajaran dari ini semua, bahwa kadang tampilan bisa menipu. Ingat kawan!!” Bela Riri, teman detektif Leni.
“Astaghfirullah, apa maksud kamu Riri?” tanya yang lain.
“Iya saya juga satu suara sama Riri, kita berbicara fakta nanatinya, bukan memandang karena Ica adalah bidadari di kampus kita, teman kesayangan kita semua,” seloroh Mahasiswa yang duduk di samping Riri.
“Sudah.. sudah… langsung saja Leni kamu putar,” perintah Rangga.
Leni tanpa panjang kata mulai memasukkan CD ke Laptop. Dan gambar yang diceritakkan Leni benar benar kenyataan.

“Sini aku yang bawa sayang”
“Ah tidak usah, aku aja yang bawa, kamu langsung aja balik, gak enak nanti dilihat banyak orang”
“Ya sudah malam minggu Ukhti ada di rumah kan? Aku apel ya?”
“Iya dong say, kan sudah jatah kamu mulai saat ini?”
“Hmm kita nonton apa Ukh?”
“Hafalan Solat Delisa saja”
“Oke deh..”
Semua orang terperangah, “Masya Allah,” ucap Rangga.
“Astaghfirullah,” Ketus yang lain.
“Ahhh”
“Ini gila,” kata Riri.
Imposibble,” ucap Novi.
Leni mulai buka suara di rerimbun gelengan kepala teman-teman. Rangga hanya menunduk malu. Novi menangis, ternyata Kak Ica yang rajin dakwah.. Ah begitu memalukan. Yang lain pun serupa.
“Jelas kan sekarang,” kata Leni dengan suara lantang.
Riri merasa puas. Dia lega kerja kerasnya bareng Leni membuahkan hasil.
“Ini mesti diproses,” keluh Novi kesal.
“Iya ini sudah memalukan kita semua. Kita sudah jatuh. Hanya karena seorang pria, tega sekali Kak Ica menyakiti kita semua. Ia yang tiap hari bicara aturan yang seharusnya antara pria dan wanita ternyata adalah pembohong, munafik. Hhh aku sudah curiga, tidak mungkin seorang wanita menahan rasa cintanya pada pria yang dicintainya. Persetan dengan simpan dalam hati.” Seruput Leni.
“Afwan, ikhwan yang itu pacar saya!!” suara Kak Ica dari balik tembok, begitu keras menghujam keheningan.
Semua mata terperangah ke arah Ica.
“Siapa yang bilang akhwat gak boleh pacaran?” tantang Ica
Novi yang satu aktivis dakwah dengan Ica menggelengkan kepala, dan hanya bisa berkata, “Kau sudah berubah Ukh, siapa pria itu? Apa maksud kamu?”
“Iya itu pacar aku Nov,” jawab Ica dengan senyum lebar.
Rangga terlihat bingung. Leni tidak paham.
“Ikhwan yang jadi pembicara tadi itu pacar saya lho hehehe,”
“Hehehe betul, aku jadi saksi kok jadian mereka. Wong lagi nembaknya, Dela yang mengantar ikhwannya,” ucap Dela yang tiba-tiba muncul.
“Mana cowoknya itu?” Kurang ajar betul dia,” gertak Novi.
“Ini lho pacarnya kak Ica, kebetulan ini kakak Dela juga,” Dela menarik sang ikhwan yang kembali masuk ke ruangan.
“Pacaran setelah nikah itu asyik lho. Aku gak takut lagi deket-deket sama si mas. Ini cincin nikah kita. Sebelumnya saya minta maaf karena belum sempat memberi tahu teman-teman. Saya tidak mau mengganggu aktivitas kita sekalian yang sebentar lagi UAS dan tengah sibuk karena penyelenggaraan CRUCIATUS, nah makanya sekarang setelah semuanya kelar, kita mau mengundang teman-teman sekalian. Ini undangannya, bagus kan??”
Novi langsung memeluk Ica sambil sesenggukan meneteskan air mata “Maafkan aku teman sejatiku, aku sudah suudzon padamu, kau yang sangat kubangga sebagai mahasiswa berprestasi di BKI. Ah subhanallah ternyata kamu sudah menikah Ca, Allah begitu menyangimu wahai wanita yang baik budinya. Kamu kemana selama ini Ca, kami semua mencemaskanmu?”
“Afwan Nov, aku sedang honeymoon, gak bisa diganggu. Ini baru pulang dari Gunung Sindur, biasa pengantin baru ada aja maunya.”
“Ih resek,” cubit Novi di pipi Ica.
“Makanya cepat nikah dong, Si Aa mau dikemanain teh?” gantian Ica yang menyubit pipi Novi.
“Si Aa siapa?” Novi balik menginjak kaki Ica.
“Aa Aa A… Ada dehhh,” canda Ica yang membuat Novi memunculkan senyuman manisnya.
Rangga lega, walau sedikit menyesal karena telat melamar. Akan tetapi, sebagai pria berpikiran dewasa, ia ikhlas karena Allah pasti memberi yang terbaik jika hambanya bertakwa. Begitulah Islam mengajarkan. Semua orang kini menyami Ica dan sang pacar.
Lalu bagaimana nasib Leni? Dengkul Leni langsung lemas, kemudian ia tergeletak pingsan karena shock. Sang pujaan ternyata sudah sah menjadi milik Ica. Keburukan dibalas kebaikan, sekarang giliran Ica yang sibuk mengurusi Leni agar cepat siuman. (Pz)


readmore »»  

Bersyukurlah!!

"Bila kamu bersyukur maka Aku pasti menambahkan (nikmat). Tapi bila kamu mengingkarinya (kufur nikmat), maka azabKu sangat pedih." (Al Qur'an, surat Ibrahim)

Rasululullah saw berpesan bahwa mereka yang mensyukuri sedikit akan mensyukuri yang banyak. "Lihatlah yang dibawahmu, jangan lihat yang di atasmu ('masalah dunia')", sabda Rasulullah.

Kata syukur memang mudah diucapkan tapi sulit dilakukan. Tidak banyak orang yang mau mensyukuri hidupnya --keluarganya, rumahnya, kendaraannya dan lain-lain. Kebanyakan manusia iri hati atau panas jiwanya ketika melihat orang lain lebih kaya, lebih tinggi jabatannya, lebih mewah rumahnya, lebih mentereng mobilnya dan lain-lain. Jarang manusia yang bisa mengerem syahwat dunia ini.

Termasuk mensyukuri kondisi tubuhnya. Para wanita biasanya --lelaki juga tidak sedikit yang demikian-- bila melihat wanita lain yang lebih cantik atau lebih indah tubuhnya dari dirinya, biasanya iri hati atau minder. Mereka suka bergosip tentang hal-hal yang berkaitan dengan tubuh ini.

Tentu hal yang wajar bila wanita ingin tampil cantik, punya tubuh indah dan lain-lain. Mungkin naluri wanita begitu. Karena saya tidak pernah jadi wanita jadi bisa persis merasakannya he he he. Tapi keinginan hal-hal fisik itu seringkali mengalahkan akalnya. Hingga mereka --kadang-kadang laki-laki juga-- melakukan bedah plastik ke muda, payudara, pinggul dan lain-lain. Jadi mereka mengukurkan kepercayaan dirinya pada hal-hal fisik, bukan pada akalnya. Bukan pada pemikiran yang diyakininya.

Faham kapitalis (termasuk femisnisme), memang mengondisikan wanita khawatir berlebihan terhadap fisiknya. Feminisme yang seolah-olah mengangkat derajat perempuan dengan faham emansipasinya, sejujurnya juga telah meletakkan perempuan pada posisi yang sangat rendah. Kaum feminis tidak mengharamkan miss universe, perzinahan dan pameran-pameran tubuh perempuan. Kaum feminis selalu menginginkan kesamaan derajat pada semua bidang dengan laki-laki. Baik dalam bidang politik, budaya, ekonomi, keamanan (ya atau nggak ya) dan lain-lain. Feminis ekstrim karena nafsu 'bencinya yang tinggi kepada laki-laki' bahkan mengharamkan keluarga, membolehkan homoseksual dan kerusakan-kerusakan model hubungan badan laki-laki perempuan lainnya. Maka jangan heran sewaktu UU Pornografi dan Pornoaksi mau disahkan DPR, kaum feminis di Indonesia 'paling lantang' menyerangnya.

Begitulah orang yang menyalahi kodratnya sebagai manusia. Mereka tidak bersyukur menjadi manusia apakah laki-laki atau perempuan. Bila rasa syukur didahulukan, maka perempuan dan laki-laki akan bekerjasama erat bagaimana membangun diri mereka, mulai dari individu, keluarga, masyarakat bahkan negara. Tapi kalau nafsu irihatinya didulukan, maka yang terjadi adalah saling menjatuhkan. Simbiosis parasitisme bukan simbiosis mutualisme. Dan celakanya he he dalam sejarah pertarungan 'genderisme' ini, wanita yang banyak dieksploitasi oleh laki-laki. Meski dalam kehidupan politik atau keluarga kadangkala wanita lebih merajai dari laki-laki di rumahnya (nggak semuanya lho). Beberapa tokoh politik penting di negeri ini, kabarnya begitu. Si istri lebih berkuasa daripada sang suami. Maka ada sinetron Laki-Laki Takut Sama Istri.

Maka sebagai perempuan atau laki-laki, kita mesti bersyukur masih punya mata (yang masih punya), masih punya telinga, punya tangan, kaki dan terutama otak yang sehat. Bayangkan kalau kita buta, bisu atau tuli betapa susahnya hidup kita. Karena itu pesan Rasulullah saw dalam masalah ini, untuk selalu melihat yang lebih bawah dari kita, harus senantiasa kita camkan dan pegang erat-erat dalam jiwa kita , sehingga nafsu berbahaya iri hati ini bisa kita hilangkan. Ketika nafsu ini timbul, selekasnya kita istighfar atau menyebut asma Allah (berdzikir). Karena selain nafsu iri hati suka membisiki telinga kita, syetan juga suka meniup-niup otak kita untuk berbuat kerusakan.

Bila kita mensyukuri kepada Allah SWT, atas nikmat-nikmatnya yang diberikan pada tubuh kita, insya Allah hidup kita akan bahagia. Tenang wajah tidak setampan Richard Gere. Tenang muka tidak secantik Angelina Jolie dan seterusnya.

Cara bersyukur adalah dengan banyak ibadah kepada Allah SWT, dengan banyak shalat, membaca Al Qur'an (dan memahami makna-maknanya), mencari ilmu dan lain-lain. Atau memperbanyak kegiatan-kegiatan muamalat dengan manusia, seperti membantu orang miskin, mengajarkan kelebihan ilmu yang dimiliki, menolong orang lain yang kesusahan dan lain-lain. Bila hidup kita fokus kepada hal-hal ini --ibadah dan amal shaleh--, maka kita tidak khawatir terhadap kondisi tubuh. Mau tinggi, mau pendek, mau gembrot, mau kurus, mau cantik, mau biasa saja dan lain-lain.

Dan manusia, bila kita banyak bergaul dengan mereka, maka kita akan merasakan bila kita bergaul dengan orang yang bagus perilakunya. Enak diajak ngomong, hormat pada lawan bicara dan lain-lain. Ketika kita ngobrol dengan orang, maka kita tidak peduli apakah ia tampan atau jelek, apakah ia cantik atau tidak dan seterusnya. Meski pertamanya mungkin saja orang akan senang dengan ketampanan dan kecantikan, tapi berikutnya orang tidak peduli dengan semua itu. Untuk apa cantik kalau diajak ngomong nggak nyambung misalnya. Untuk apa tampan kalau diajak ngobrol diam saja dan seterusnya (tentu anda akan ngomong yang paling enak ngobrol dengan orang tampan dan gadis cantik yang nyambung diajak ngobrol he he he).

Kalau sudah begini itu namanya takdir. Takdir Richard Gere atau Jolie, tampan atau cantik karena lahir dari orang tua yang tampan dan cantik. Mereka tidak pernah bisa memilih lahir tampan, cantik atau biasa saja. Maka jangan lombakan hal-hal yang berkenaan dengan takdir yang 'tidak bisa diubah'. Kasihan banyak orang lain akan irihati atau minder.

Dan itulah pentingnya iman kepada takdir. Qadha' (keputusan-keputusan dari Allah SWT yang manusia tidak ikut campur dengannya) dan Qadar (khasiyat atau ciri khas masing benda atau tubuh manusia. Seperti api membakar, telinga mendengar bukan melihat, otak untuk berfikir dll) kepada Allah SWT. Rukun iman keenam ini. Kita lahir di Indonesia, dua artis itu lahir di Amerika (?) itu takdir. Kita tidak pernah bisa memilih lahir dimana dan siapa orang tua kita.

Dalam masalah takdir, maka manusia tidak dikenakan pahala dan dosa. Karena ia tidak bisa memilihnya. Dosa dan pahala dikenakan pada kita, pada bidang-bidang yang kita bisa memilihnya. Misalnya hari ini kita mau minum alkohol atau sprite, mau mencuri atau sedekah, mau shalat atau tidur, mau membunuh atau memijat, mau menyanyi atau menggosip (menebar fotnah) dan seterusnya.

"Maka Aku Ilhamkan jalan kekejian (fujur) dan taqwa. Sungguh beruntung orang yang menyucikan dirinya dan sungguh merugi orang yang mengotori dirinya." Wallaahu ghafuurur rahiim. (Nuim Hidayat)
readmore »»  

Manusia Berbeda Dengan Binatang


















Manusia berbeda dengan binatang, namun ayat-ayat suci Al-Qur’an sering pula menyatakan manusia laksana binatang.
Al-Qur’an menegas-kan hal itu bukan untuk menunjukkan bahwa manusia sejatinya adalah rendah dan tidak ber-martabat, melainkan memperlihatkan adanya peluang bagi manusia untuk jatuh tidak beradab.

Kesetaraan manusia dengan binatang terjadi karena berbagai sebab, terutama ketika manusia tidak mau mengikuti ajakan ruh Tuhan yang telah ditiupkan-Nya. Malah sebaliknya, menuruti goda-an nafsu syahwati yang berasal dari sari bumi.
Tidak berarti Allah mencipta tidak sempurna, karena menghadirkan dua kutub kontradiksi pada dirinya. Melainkan cermin kemahasempurnaan-Nya untuk menguji manusia mana yang mampu mengelola dirinya. Bagaimana ia akan mengelola bumi, bila ternyata tidak mampu menata dan memenej dirinya sendiri.

Bumi adalah kompleksitas, sebagaimana diri ma-nusia menjadi mikrokosmik yang rumit. Kemam-puan manusia mengendalikan diri pribadi menjadi indikator yang baik bagi kemampuannya melak-sanakan mandat Allah.

Di saat tidak ada makhluk yang merasa sesuai dengan tugas mengelola bumi, manusia diuji untuk mencobanya. Dia akan mampu, karena Allah telah membekalinya dengan kemampuan.
Namun dia akan jatuh bila kemampuan yang diberikan Tuhan disia-siakannya. Akhirnya terserah manusia apakah ia akan berjuang menun-jukkan bahwa dirinya layak menjadi khalifah-Nya atau seperti sinyalemen para malaikat, hanya dapat merusak dan menciptakan pertumpahan darah.

Konon ketika Adam as dipermaklumkan Allah akan menjadi khalifah di muka bumi, majelis agung malaikat mengajukan keberatan yang sangat. Para malaikat bukannya berkeberatan atas kehendak Yang Maha Kuasa atau bahkan meragukan keputusan-Nya. Ada kesan sangsi terhadap kemampuan makhluk bernama manusia, yang saat itu direpresentasikan oleh sosok Adam as.
Apakah Engkau akan memberikan mandat untuk mengelola bumi kepada makhluk yang berbuat kerusakan dan gemar menumpahkan darah, Tuhan. Padahal kami di sini senantiasa bertasbih dengan memuji keagungan-Mu serta mensucikan-Mu. Demikian merekamenyatakan pandangannya.

Begitu kontras kesan pertama manusia di mata malaikat yang dekat dengan Tuhan. Manusia adalah makhluk yang perusak dan haus darah, sedang malaikat adalah makhluk suci dan senantiasa mengabdi.
Barangkali malaikat khawatir melihat nasib bumi yang telah disiapkan dengan aneka keindahan, dengan ragam potensi untuk tumbuh kembang menghiasi mayapada, menjadi sebuah surga di alam semesta, tiba-tiba ia menjadi benda yang patut dikasihani lantaran ulah manusia.

Apakah manusia memang memiliki kecenderung-an atau tabiat untuk merusak dan menumpahkan darah? Ataukah malaikat hanya bercermin kepada realita empiris di bumi yang mereka saksikan sebelum Adam as diutus untuk melakukan pem-baruan? Untuk semua pertanyaan itu, Allah menjawabnya, Aku Maha Tahu tentang apa yang tidak kalian ketahui.

Adam as. kemudian menjadi prototipe manusia yang di kemudian hari anak cucunya memegang kendali pengelolaan bumi. Adam adalah khalifah dunia pertama kalinya, perintis hidup berkeadab-an yang diharapkan mampu menunjukkan kua-litas dirinya, tidak seperti yang disangsikan oleh para malaikat.

Anggaplah di bumi sebelum Adam as. telah berkembang sebentuk kehidupan, maka kehadiran Adam as adalah sebuah era baru dalam per-jalanan makhluk dan alam semesta secara global. Bagaimana prediksi kehidupan di era baru kehidupan bumi antara lain bisa diamati dari apa yang di alami Adam as sebagai protoripe manusia yang akan mengolahnya di kemudian hari.

Ada beberapa hal yang dijalani Adam as di awal keberadaannya. Pertama, Adam as. tidak semata cermin ruh-Allah yang Maha Quddus dengan segenap kemahasempurnaan nama, sifat dan mahakarya-Nya, melainkan paduan antara anasir-anasir tanah (thin, turab, shalshal, dst) yang me-miliki karakteristik non-ruhiyah.
Dengan demi-kian pada diri manusia terdapat dua dimensi dasar yang masing-masing memiliki tabiatnya sendiri. Kedua, Adam as. diberi ilmu-Allahyang khusus, dimana para malaikat yang dekat dengan-Nya saja tidak memperoleh ilmu ini.
Ilmu ini digam-barkan mengungguli pengetahuan malaikat se-hingga mereka menjadi respek terhadap kemam-puan manusia dan kesiapannya dalam melaksa-nakan amanat
kekhalifahan. Ketiga, Adam as diuji untuk menunjukkan kualitas dirinya.
Dengan kata lain Adam as harus lulus uji prestasi dalam hal ini ia bisa memperlihatkan karyadan produk dari pencerapan ilmu Allah. Sampai tahap ini barulah Adam as. layak untuk dihargai.

Pelajaran dari elaborasi di atas adalah diperoleh-nya suatu ajakan bagi semua kita untuk me-lakukan evaluasi ulang terhadap keadaban hidup kita sekarang ini. Jangan-jangan di tempat yang kita huni ini sinyalemen malaikat tengah terjadi dengan sangat jelasnya. Kita hanyalah makhluk-makhluk yang gemar menciptakan kerusakan-kerusakan terhadap kehidupan setelah kehidupan ini ditata dengan hukum dan sunatullah yang seimbang (ba’da ishlaahihaa).
Kita lihat di darat-an dan di lautan sebagai simbol berbagai lini kehidupan kita. Lihatlah di
segala bidang kehi-dupan kita, ekonomi kita, budaya kita, kehidupan sosial, politik kita, di lapangan pendidikan, dan moralitas kemanusiaan kita. Kerusakan, ketimpangan !!

Di sebagian belahan bumi kita, sekian banyak manusia anak-anak Adam as. memangsa sesa-manya yang tidak berdosa dengan kekejian yang tidak terkira. Darah tumpah membasahi tanah air mereka, anak-anak bayi dipadamkan masa depan-nya, para wanita direndahkan kehormatannya, para pemudanya ditangkapi dan diperjarakan dengan siksaan, para ulama penganjur kebenaran dan penyambung suara Tuhan diintimidasi dan dibungkam.
Gejala apakah ini, ketika manusia masih dikuasai dorongan haus darah untuk berperang karena membela egosime nafsu syah-wat mereka? Ketika suara-suara Tuhan mereka benamkan ke sisi-sisi kehidupan?
Bukankah ini yang disoroti malaikat yang sangsi terhadap sifat amanahnya manusia sebagai mandataris Allah ? Aku Maha Tahu tentang apa yang tidak kalian ketahui, demikian Allah berfirman. Lalu ada apa di balik kata-kata-Nya?
Daripada mempertanyakan bahkan meminta per-tanggungjawaban Tuhan, alangkah
lebih mawas diri apabila kita melakukan introspeksi saja. Karena Diapun mengajari kita demikian. Jangan-jangan kita kehilangan tiga modal utama yang diteladankan Adam as moyang kita:
(1) kita tidak lagi care/peduli terhadap aspek ruhaniyah kita yang memiliki tabiat adiluhung untuk menjunjung nilai-nilai ketuhanan di muka bumi, sehingga manusia tidak lagi mewakili-Nya. Manusia telah murtad dari gambaran Tuhan,
(2) manusia tidak lagi memandang penting untuk melakukan pencerapan ilmu-ilmu Tuhan yang khusus yang wallaahu ‘alam seperti apa konstruksi sejatinya, namun hal ini mestinya mendorong kita untuk mendekati pemiliknya. Bukah bahkan menjauhi dan memusuhinya,
(3) kita tidak lagi memiliki kegairahan dan motivasi untuk berprestasi dan berkarya, membuktikan bahwa kita layak menjadi representasi karya Tuhan.

Karena kita kehilangan ketiga modal ini, kita menjadi tidak memiliki harga, sehingga tidak layak mendapatkan penghargaan dari siapapun. Apalagi dari Allah yang telah memandatkan pengelolaan bumi ini agar beradab.
Kalau kita tidak lagi berharga, maka tidak ada yang perlu dituding bila kita ditimpa banyak kehinaan. Karena demikian itulah kualitas kita. Bukan lagi kualitas khalifah yang pantas menjadi wakil-Nya di bumi. Wallahu'alam.
Oleh : Dr. Asep Dudi-Unisba Bandung.
readmore »»  

Berani



Salah seekor kuda zebra di sebuah hutan mempunyai kelebihan tersendiri di banding hewan-hewan liar lain. Sosoknya besar dan kekar, tapi perangainya begitu lembut. Tidak heran kalau banyak hewan begitu hormat padanya.
Sebegitu hormatnya, sebagian besar hewan bersepakat untuk mendudukkan si zebra besar itu menjadi pemimpin mereka. Hampir hewan apa saja, mulai dari burung, rusa, gajah, kuda, bahkan srigala sekalipun.
Hewan-hewan itu berharap banyak pada si zebra besar. Terutama, agar si zebra besar bisa berani memimpin mereka melawan singa gondrong yang selalu semena-mena. Hampir semua hewan-hewan itu pernah merasakan keganasan dan kerakusan si singa gondrong.
Pertanyaannya, apa si zebra besar berani melawan si singa gondrong? Inilah yang belum teruji. Para hewan hanya melihat dari tampilan luar si zebra, dan mereka pun berkesimpulan sendiri bahwa si zebra berani melawan si singa.
Ternyata, penilaian mereka salah. Si zebra bukan hanya takut, bahkan terang-terangan menyatakan kalau ia tidak akan pernah mengajak hewan-hewan melakukan perlawanan terhadap si singa.
“Saudara-saudaraku, berpikirlah kedepan. Singa gondrong memang rakus, tapi ia masih mempunyai sifat baik. Jangan lakukan perlawanan, marilah kita kerjasama dengan dia!” ucap si zebra besar dalam pidato politiknya.
Mulai saat itu, para hewan mulai tidak suka dengan si zebra besar. Tapi, mereka masih berharap kalau si zebra besar akan berubah sikap. Karena saat ini, mereka menilai belum ada pemimpin yang sebaik si zebra besar.
Mulailah hari-hari kebimbangan merasuki warga hewan di belantara yang subur dengan begitu banyak makanan itu. Sementara, sosok singa gondrong kian rakus dan jahat. Tidak heran jika warga hutan mulai tidak lagi mengakui kepemimpinan si zebra besar.
Suatu kali, si zebra besar meminta warga hewan untuk berkumpul. Ada beberapa pernyataan penting yang ingin ia sampaikan. Ada isu kalau si zebra akan mengundurkan diri.
“Saudara-saudaraku, banyak desas-desus yang menyatakan kalau aku takut dengan singa gondrong. Itu salah! Aku tidak pernah takut dengan dia. Saya meminta agar kita tetap berkerja dan berkerja. Suatu saat, kita akan melawan kezaliman itu!” tegas si zebra yang disambut tepuk tangan dari warga yang hadir.
Usai menyampaikan pidato, si zebra besar dihampiri salah satu hewan kepercayaannya, kancil. Si kancil pun mengungkapkan keheranannya. “Waduh, hebat sekali pidatonya, Pak. Tapi, apa bapak memang benar-benar berani melawan si singa gondrong?” ucap si kancil dengan ramah dan penuh hormat.
Si zebra besar pun agak kikuk menjawab. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tidak ada hewan di sekitar situ. Dan ucapnya, “Hm, anu Cil. Sebetulnya aku berani mengatakan seperti itu karena diminta oleh si singa gondrong….”
**
Salah satu sifat buruk pemimpin suatu kaum adalah penakut. Sifat inilah yang menjadikan orang-orang yang dipimpinnya terkungkung dalam ‘kepasrahan’ dari keganasan para penjahat yang terus-menerus menguras kekayaan kaum itu.
Karena itu, berhati-hatilah dengan sifat berani yang tiba-tiba muncul dari pemimpin penakut itu. Boleh jadi, keberaniannya hanya tipuan. Ia tiba-tiba seperti berani lantaran didorong rasa takutnya yang paling besar: jatuh dari kekuasaan.
readmore »»  

Ketika Pencuri Melahirkan Polisi yang Menangkapnya



Salah satu tanda bahwa kiamat sudah sangat dekat adalah seperti yang disabdakan Rasulullah saw. tentang adanya seorang budak yang melahirkan tuannya. Banyak ulama yang menafsirkan sebagian dari hadits ini. Di antaranya, adanya anak yang durhaka kepada orang tuanya, tidak jelas lagi antara budak dengan tuannya, dan lain-lain.
Tulisan ini tidak untuk menafsirkan hadits yang mulia seperti di atas. Tidak juga untuk mencandai maksud hadits yang serius ini. Dengan ungkapan yang hampir mirip dengan hadits di atas, saat ini ada fenomena besar di masyarakat , yaitu ketika seorang pencuri melahirkan polisi atau penangkapnya.
Orang tua mana pun, tentu menginginkan anaknya kelak akan berbakti kepadanya. Ia akan hormat kepada orang tuanya, membalas kebaikan sang orang tua sebisa mungkin dengan kemampuan yang dimiliki sang anak.
Tapi, bagaimana jika orang tua yang melahirkan dan membesarkan anak itu adalah seorang pencuri ulung. Dan anak yang dilahirkan dan dibesarkan itu sebagai seorang polisi yang akan menangkap si pencuri yang tidak lain orang tuanya sendiri.
Sang orang tua, mungkin secara spontan akan mengatakan kepada anaknya, “Anakku, kau lahir dari rahimku sendiri. Kau anak kandungku. Kini, kau mau menangkapku, menghukumku, untuk kemudian mempermalukan orang tuamu sendiri ini di tengah perhatian tetangga-tetangga kita. Kamu anak durhaka, anakku! Anak durhaka!”
Kalau sudah begitu, siapa pun sang anak, kemungkinan berada pada posisi sulit. Kalau ia tangkap, ia akan menyakiti hati orang tuanya sendiri, menghukum dan mempermalukan orang tuanya di depan orang banyak. Tapi kalau tidak ia tangkap, itu artinya ia telah berkhianat dengan nilai keadilan dan kebenaran yang universal. Ia juga tidak amanah dengan tugas yang diembannya sebagai aparat penegak hukum.
Jika sang anak menjadi sangat emosional, ia akan menjadi penurut, takut, dan tetap hormat kepada orang tuanya walaupun ia yakin orang tuanya itu memang pencuri kakap. Hatinya menjadi luluh, dan ia pun tergolong setan bisu yang mendiamkan kejahatan di depan matanya. Karena setelah begitu lama bergaul dengan orang tuanya, ia paham betul siapa sebenarnya sang orang tua.
Namun, jika sang anak cerdas, istiqamah dalam kebenaran dan keadilan; ia akan tetap menangkap orang tuanya. Walaupun, ia akan dihina, dicaci maki, bahkan diputuskan hubungan ‘darah’nya oleh orang tuanya. “Mulai saat ini, aku tidak ridha telah melahirkanmu!” ucap si orang tua begitu marah.
Segala cacian, bentakan, dan sumpah serapah dari orang tua yang memang bejat itu sudah pasti akan diterima sang anak. Cuma satu hal yang tidak bisa dilakukan si orang tua kepada anaknya, mengancam si anak dengan memasukkannya kembali ke rahim orang tuanya.
Kini, perkelahian anak dan orang tua akhirnya diketahui para tetangga. Para tetangga hanya bisa terperangah seraya berbisik pelan, “Oh ternyata orang tuanya maling ya. Kirain orang yang terhormat!”
**
Konflik KPK dengan DPR bisa diibaratkan seperti anak dengan orang tuanya. Disaksikan jutaan pemirsa televisi, DPR mengklaim, “KPK adalah anak kandung DPR!”
Tapi, publik hampir tidak ragu lagi untuk menyebut DPR sebagai salah satu sarang mafia. Khususnya di sektor yang paling dituju para mafia: anggaran. Di tempat inilah, sekitar 1.700 trilyun uang ditentukan nasibnya. Dan di sini pula, para mafia bisa saling memahami dan tolong menolong dalam kepentingan bersama mereka.
Jika bisa dikatakan KPK sebagai anak dan DPR sebagai orang tua kandungnya, kata ‘durhaka’ memang tidak lagi pas dialamatkan kepada si anak yang melawan orang tuanya. Atau boleh jadi, memang inilah tanda-tanda jelas kalau kiamat nggak lama lagi datang.
readmore »»  

Wadah


Seorang murid tampak murung di hadapan gurunya. Ia sengaja mendatangi sang guru karena satu alasan: mencari solusi dari seribu satu masalah yang seperti tak pernah henti menderanya. Belum masalah yang satu selesai, masalah baru pun muncul, berkembang, dan seterusnya.
“Guru, kenapa hidupku teramat sulit. Masalah seperti tak pernah mau menjauh dariku,” ungkap sang murid menunjukkan wajah galaunya. Semangat belajarnya seperti akan pupus dengan seribu satu masalah hariannya.
“Muridku, perhatikan apa yang akan aku lakukan dengan segelas air tawar ini,” ucap sang guru sambil memasukkan sebungkus serbuk jamu kedalam gelas.
Setelah diaduk, sang guru pun mempersilakan muridnya untuk mencicipi air yang berubah kehijauan itu. “Silakan kau coba!” ucapnya lembut.
Sang murid pun meraih gelas itu untuk kemudian mencicipinya. “Pahit! Pahit sekali guru!” ucapnya begitu spontan. Tapi, sang murid masih belum mengerti dengan segelas jamu itu.
Sesaat kemudian, sang guru pun mengajak muridnya untuk berjalan menuju tepian kolam di sebuah taman alam. Taman itu begitu asri. Sejumlah mata air dari tanah pegunungan mengalir perlahan menuju kolam taman.
Dan, sang guru pun menaburkan tiga bungkus serbuk jamu lain ke kolam. “Silakan kau aduk-aduk kolam yang luas itu semampumu, dan cicipi apakah airnya ikut terasa pahit!” ucap sang guru kemudian.
Setelah mengaduk, sang murid pun mencermati wajah air kolam yang sedikit pun tidak berubah warna. Dan, ia pun mencicipinya. “Tawar, guru!” ucapnya kemudian.
“Muridku, bayangkan jika serbuk jamu itu kau taburkan di danau yang luas. Berpuluh-puluh bahkan mungkin beratus-ratus bungkus serbuk jamu pun yang kau taburkan, warna air danau tak akan berubah, apalagi menjadi pahit!” ungkap sang guru kemudian.
“Maksud guru?” serbah sang murid masih belum menangkap isi nasihat gurunya.
“Perbesarlah wadah dan isi air, apa pun yang masuk, tidak akan mengubah rasanya. Perbesarlah wadah jiwa kita, seberapa besar pun masalah yang dihadapi, insya Allah, ia tetap hambar dan tak akan mempengaruhi diri kita,” jelas sang guru yang disambut anggukan pelan muridnya.
**
Baginda Rasulullah saw. pernah mengungkapkan keunggulan jiwa seorang mukmin. Jika diberi nikmat ia bersyukur, dan itu menjadi nilai plus buat dirinya. Dan jika diuji dengan ketidaknyamanan, ia bersabar, dan itu pun menjadi nilai plus lain buat dirinya.
Tapi boleh jadi, belum banyak dari kita yang merasakan bahwa sabar adalah ungkapan untuk menunjukkan betapa luas dan dalamnya wadah jiwa seorang mukmin. Seluas samudera yang akan menghambarkan apa pun yang mencemarinya.
readmore »»  

Hening



Dalam sebuah keheningan malam, seekor anak kelinci tampak gelisah dalam lubang nyaman keluarganya. Entah kenapa, matanya sulit untuk dipejamkan. Pikirannya selalu menerawang ke arah gelap yang membuat suasana kian hening.
“Ayah, kenapa di sebagian hidup kita selalu ada malam yang membuat hening?” tanya sang anak kelinci kepada ayahnya yang tiba-tiba terbangun.
Setelah berpikir sebentar, sang ayah kelinci menjawab, “Begitulah Yang Maha Kuasa menciptakan keseimbangan dalam hidup kita. Ada saatnya kita bergerak, berlari, mencari makan, dan ada saatnya kita beristirahat.”
“Ayah, bukankah kita bisa istirahat dalam suasana terang?” sergah sang anak kelinci di luar dugaan ayahnya.
“Anakku, dalam diri kita ada ego, nafsu yang selalu memaksa kita untuk memenuhi kemanjaan-kemanjaannya. Kepuasannya tidak akan pernah berakhir hingga kita mati. Karena itulah, Yang Maha Bijaksana menciptakan malam untuk memaksa kita tidak lagi menuruti ego atau nafsu,” ucap sang ayah kelinci panjang.
“Tapi ayah, aku tidak bisa terlalu lama mengisi malam hanya dengan istirahat. Seperti yang kualami malam ini,” ungkap si anak kelinci lagi.
“Anakku, malam hanya bentuk dari sebuah keadaan. Isi yang utamanya adalah keheningan. Saat itulah, makhluk hidup seperti kita terpenjara alam ketidakberdayaannya. Dan saat itulah, kita tersadarkan dengan kesalahan, kekhilafan, kelengahan atas apa yang telah kita lakukan di siang tadi agar tidak lagi terulang esoknya. Itulah istirahat yang sebenarnya,” jelas sang ayah kelinci.
***
Hiruk pikuk kehidupan selama sebelas bulan dalam putaran satu tahun, seperti memenjara kita dalam ruang sempit yang dikuasai nafsu dan syahwat. Seluruh raga terus ingin bergerak memenuhi perintah syahwat untuk mendapatkan kepuasan sesuatu: harta, seks, kekuasaan, kepemilikan, dan sejenisnya.
Allah swt. memaksa hamba-hambaNya yang Ia cintai untuk sejenak berada dalam keheningan. Keheningan malam yang memberikan ruang bagi ruhani bergerak mengalahkan syahwat, untuk terbang ke langit meninggalkan hinanya tarikan dunia.
Dan, keheningan beberapa hari terakhir di bulan suci ini untuk melihat wajah dunia sebelas bulan kita apa adanya. Untuk sesaat, memenjarakan syahwat yang selama ini telah menjadi tuan dalam diri kita. (muhammadnuh@eramuslim.com)
readmore »»  

Tanah



Ada empat anak yang baru saja mengalami duka setelah kematian kedua orang tuanya. Sebuah surat wasiat pun mereka terima dari orang yang mereka cintai itu. Setelah urusan jenazah kedua orang tuanya selesai, empat anak itu pun membuka surat berharga itu.
Ternyata, surat itu menyebutkan bahwa keempat anak itu diberikan pilihan untuk memiliki empat bidang tanah yang berlainan tempat. Ada bidang tanah yang begitu hijau dengan begitu banyak pepohonan kayu yang bisa dijual. Ada bidang tanah yang berada di tepian sungai jernih, sangat cocok untuk ternak berbagai jenis ikan. Ada juga bidang tanah yang sudah menghampar sawah padi dan ladang. Ada satu bidang tanah lagi yang sangat tidak menarik: tanah tandus dengan tumpukan pasir-pasir kering di atasnya.
Menariknya, surat itu diakhiri dengan sebuah kalimat: beruntunglah yang memilih tanah tandus.
Anak pertama memilih tanah pepohonan hijau. Anak kedua pun langsung memilih tanah dengan aliran sungai jernih. Begitu pun dengan yang ketiga, ia merasa berhak untuk memilih tanah yang ketiga dengan hamparan sawah dan ladangnya. Dan tinggallah anak yang keempat dengan tanah tandusnya.
“Apa engkau kecewa, adikku, dengan tanah tandus yang menjadi hakmu?” ucap para kakak kepada si bungsu.
Di luar dugaan, si bungsu hanya senyum. Ia pun berujar, “Aku yakin, pesan ayah dan ibu tentang tanah tandus itu benar adanya. Yah, justru, aku sangat senang!”
Mulailah masing-masing anak menekuni warisan peninggalan kedua orang tuanya dengan begitu bersemangat. Termasuk si bungsu yang masih bingung mengolah tanah tandus pilihannya.
Hari berganti hari, waktu terus berputar, dan hinggalah hitungan tahun. Tiga anak penerima warisan begitu bahagia dengan tanah subur yang mereka dapatkan. Tinggallah si bungsu yang masih sibuk mencari-cari, menggali dan terus menggali, kelebihan dari tanah tandus yang ia dapatkan. Tapi, ia belum juga berhasil.
Hampir saja ia putus asa. Ia masih bingung dengan manfaat tanah tandus yang begitu luas itu. Sementara, kakak-kakak mereka sudah bernikmat-nikmat dengan tanah-tanah tersebut. “Aku yakin, ayah dan ibu menulis pesan yang benar. Tapi di mana keberuntungannya?” bisik hati si bungsu dalam kerja kerasnya.
Suatu kali, ketika ia terlelah dalam penggalian panjang tanah tandus itu, hujan pun mengguyur. Karena tak ada pohon untuk berteduh, si bungsu hanya berlindung di balik gundukan tanah galian yang banyak mengandung bebatuan kecil. Tiba-tiba, matanya dikejutkan dengan kilauan batu-batu kecil di gundukan tanah yang tergerus guyuran air hujan.
“Ah, emas! Ya, ini emas!” teriak si bungsu setelah meneliti bebatuan kecil yang sebelumnya tertutup tanah keras itu. Dan entah berapa banyak emas lagi yang bersembunyi di balik tanah tandus yang terkesan tidak menarik itu.
**
Keterbatasan daya nilai manusia kadang membimbingnya pada kesimpulan yang salah. Sesuatu yang dianggap bernilai, ternyata hanya biasa saja. Dan sesuatu yang sangat tidak menarik untuk diperhatikan, apalagi dianggap bernilai, ternyata punya nilai yang tidak terkira.
Hiasan-hiasan duniawi pun kian mengokohkan keterbatasan daya nilai manusia itu. Tidak banyak yang mampu memahami bahwa ada satu hal di dunia ini yang jauh dan sangat jauh lebih bernilai dari dunia dan isinya. Itulah hidayah Allah yang tidak tertandingi dengan nilai benda apa pun di dunia ini.
Sayangnya, tidak semua orang seperti si bungsu, yang begitu yakin dengan kebenaran bimbingan kalimat dari si pewaris yang sebenarnya. Walaupun harus menggali, dan terus menggali dengan penuh kesabaran. (muhammadnuh@eramuslim.com)
readmore »»  

Umpan



Seorang pemburu muda tampak setengah berlari menuju pepohonan rindang. Wajahnya menunjukkan kelelahan yang begitu serius. Nafasnya masih tersengal.
“Uh, ternyata sulit sekali memburu macan tutul,” ucapnya kepada seorang rekannya yang lebih senior.
“Dengan cara apa kamu memburu macan tutul?” ucap si pemburu senior sambil memperbaiki posisi duduknya di bawah rindangnya pepohonan di sebuah tepian hutan.
“Aku terus melacak jejaknya. Sudah kusiapkan senjata berjenis jarak jauh yang akurat. Kalau saja macan itu sudah kutemukan…,” jelasnya kemudian.
“Saudaraku, lihatlah di balik pohon besar itu!” ucap si pemburu senior sambil menunjuk sebuah kerangkeng besi.
Dan betapa terkejutnya si pemburu muda ketika mendapati di kerangkeng besi itu terdapat dua ekor macam tutul. Ia pun terperangah. Bagaimana mungkin si pemburu tua bisa mendapatkan dua ekor tanpa berpayah-payah sepertinya?
“Pak tua, dengan senjata apa kau bisa melumpuhkan dua macan tutul sekaligus? Padahal, aku tidak melihat dirimu berpayah-payah mengejarnya?” suara si pemburu muda dari kejauhan. Matanya masih lekat menatap dua macan tutul itu.
Pemburu tua pun menghampiri pemburu muda yang masih terperangah dengan apa yang ada di hadapannya.
“Saudaraku,” ucapnya sambil tangan kanannya menepuk bahu si pemburu muda. “Tidak semua berburu itu berarti mengejar,” tambahnya kemudian.
“Maksudmu?” kilah pemburu muda sambil sedikit menoleh. “Tampakkanlah apa yang paling mereka suka, merekalah yang akan mengejarmu. Nafsulah yang membuat mereka menjadi bodoh, dan tidak lagi bisa membedakan mana umpan dan mana temuan,” ungkap si pemburu tua yang disambut anggukan oleh si pemburu muda.
**
Kehidupan saat ini sudah seperti arena perburuan yang saling berkejaran satu sama lain untuk memperebutkan sejumlah kepentingan individu dan kelompok. Saat itulah, masing-masing kita menjadi sangat berwaspada dengan kelompok atau pihak yang menampakkan perburuan terhadap kita.
Tapi berhati-hatilah dengan permainan jebakan dari pihak lawan dengan umpan-umpan yang menggelorakan syahwat duniawiyah. Karena saat itulah, nalar dan kewaspadaan kita berada pada posisi terendah, sehingga tak lagi bisa membedakan mana umpan dan mana temuan. (muhammadnuh@eramuslim.com)
readmore »»  

Wortel



Dua anak kelinci tampak berlari ceria. Mereka begitu gembira karena masing-masing berhasil membawa sebatang wortel segar dari ladang petani. Dalam kegembiraan itu, tiba-tiba seekor kelinci besar menghentikan tingkah riang mereka.
“Ayah?” ucap salah satu dari dua anak kelinci itu agak gugup. Mereka berusaha untuk menyembunyikan wortel yang mereka bawa, tapi tidak berhasil.
“Kamu mencuri lagi anak-anakku?” tanya kelinci besar yang ternyata ayah mereka. Sang ayah pun menggamit tangan-tangan anak kelinci itu. “Kamu harus dihukum!” ucap sang ayah kemudian.
“Tapi ayah, kami tidak mencuri!” ucap salah satu dari anak kelinci itu.
“Apa kamu sudah minta dengan baik-baik ke kakek petani?” tanya sang ayah kemudian.
“Belum!” jawab sang anak kelinci serempak. Dan, sang ayah kelinci pun memperlihatkan kebingungannya.
“Anakku, bagaimana mungkin kamu tidak mencuri sementara wortel yang kamu ambil tidak dengan izin kakek petani?” ucap sang ayah mengungkapkan kebingungannya.
“Begini ayah, kami sama sekali tidak bermaksud mencuri. Kami hanya ingin menyelamatkan wortel-wortel ini dari pencurian tikus-tikus di malam hari. Dan biasanya, tikus-tikus hanya menjadikan wortel-wortel curian mereka untuk bersenang-senang, bukan untuk dimanfaatkan semestinya,” jelas salah satu anak kelinci begitu argumentatif.
“Anakku, tikus-tikus mengambil wortel kakek petani tanpa izin, dan itu kamu sebut mencuri. Kamu pun mengambil wortel yang juga tanpa izin, tapi tidak mau disebut mencuri. Apa kalau yang mengambil wortel memang untuk dimakan tidak disebut mencuri?” ucap sang ayah kelinci.
“Tapi ayah...,” sergah salah satu anak kelinci itu.
“Anakku,” tegur sang ayah kelinci kemudian. “Siapa pun dan dengan alasan apa pun mengambil hak milik orang lain tanpa izin si pemilik, juga disebut mencuri! Dan itu sama-sama merugikan kakek petani!” jelas sang ayah kelinci lagi. Dan, kedua anak kelinci itu pun mengangguk pelan.
Sang ayah kelinci pun mengambil dua batang wortel itu untuk meminta kedua anaknya mengembalikannya ke petani.
**
Dalam hidup kekinian yang kian mengungkung siapa pun dalam pengapnya racun materialisme, orang kerap tertipu dalam bahasa-bahasa permisif yang menghalalkan segala cara. Pelacuran menjadi pekerja seks komersial, perzinahan menjadi hubungan gelap atau selingkuh, pencurian uang negara menjadi penyimpangan atau penyelewengan anggaran negara.
Dan siapa pun akan bersepakat bahwa pencurian tidak akan hilang hukumnya sebagai pencurian hanya karena niat mencurinya berbeda, atau karena tujuan mencurinya karena sesuatu maksud yang dianggap mulia, atau karena yang mencurinya orang saleh dengan tujuan mulia.(muhammadnuh@eramuslim.com)
readmore »»  

Tinggi



Dua kera emas sedang asyik duduk di atas bukit. Inilah tempat favorit mereka ketika ingin bersantai menikmati hidup. Ya, sebuah ketinggian. Dari sinilah, mereka bisa memandang hampir seluruh isi hutan. Siapa di bawah mereka, dan apa yang mereka kerjakan.
Hari itu, dua kera emas kakak beradik ini sedang menikmati gurihnya biji buah kenari yang baru mereka ambil dari bawah pohon. Satu per satu, buah kenari itu mereka kumpulkan pada cekungan dahan di puncak pohon. Dan kini, momen yang tepat untuk menikmati apa yang mereka kumpulkan.
Sang adik dengan begitu rakusnya melahap biji-biji kenari setelah mengupasnya dengan giginya yang tajam. Kulit-kulit bekas kupasan itu pun ia lempar begitu saja. Seolah, di bawah sana ada tempat sampah yang siap menampung kupasan kulit kenari yang tergolong keras ini.
“Adikku, sadarkah kalau kita sedang berada di ketinggian?” ucap sang kakak tiba-tiba. Sang adik pun menatap aneh wajah kakaknya. “Maksud kakak?” ujarnya kemudian.
“Perhatikanlah apa yang ada di bawah kita! Lihatlah, ada keluarga kelinci yang sedang menikmati rerumputan di sekitar pohon. Ada pula rusa yang sedang berteduh. Mungkin, di bawah sana, masih banyak hewan-hewan lain yang berada tepat di bawah kita,” ungkap sang kakak kepada adiknya.
Adik kera emas ini pun masih terlihat bingung. Ia belum menangkap maksud yang diinginkan sang kakak. “Apa kita harus melempar sebagian untuk mereka makan?” ucapnya kemudian.
“Bukan, adikku. Bukan itu maksudku. Bayangkan betapa tingginya pohon ini, dan bayangkan betapa kerasnya kulit kenari yang kau buang seenaknya ke bawah. Betapa sakitnya kalau sampah-sampah itu menimpa mereka yang di bawah kita!” jelas sang kakak kemudian.
Saat itu juga, adik kera emas ini pun mengangguk. Ia mengikuti tingkah kakaknya untuk mengumpulkan sampah-sampah itu, untuk kemudian dilempar dari jarak yang tidak terlalu tinggi.
**
Tak banyak dari mereka yang berada di ketinggian karena status jabatan, posisi kepemimpinan, dan sejenisnya yang menyadari kalau ketinggian mereka bisa berdampak besar bagi orang-orang yang berada di bawahnya.
Kalau saja mereka yang berada di ketinggian mau sejenak menoleh ke bawah, atau merasakan apa yang sedang terjadi di bawah sana; tentu mereka tidak akan sembarang bertingkah, dan tidak sembarang membuang ‘sampah-sampah’ yang bisa mencelakakan orang-orang di bawahnya.
Cobalah empati, dan turunlah sejenak untuk bisa memahami apa yang mesti dilakukan agar ketinggian bisa tetap menyejukkan dan sebagai tempat berlindung yang nyaman untuk mereka yang memang selalu berada di bawah. (muhammadnuh@eramuslim.com)
readmore »»  

Kepala



Seekor gorila jantan tampak mondar-mandir di antara anggota kelompoknya. Di situ, ada beberapa gorila betina, gorila jantan kecil, dan beberapa anak gorila yang mulai tumbuh besar.
Menariknya, di tengah kelompok itu, si gorila jantan kerap menghampiri sebuah cermin yang menjadi benda kebanggaannya. Setiapkali berada di depan cermin, si gorila jantan begitu betah berlama-lama karena bangga dengan sosok tubuh dan kepalanya yang besar.
“Ah, aku memang pemimpin yang hebat,” ucapnya sambil kedua tangannya memegang kepalanya yang tampak besar di bayangan cermin.
Tiap kali seusai bercermin, sang gorila mengumpulkan kelompoknya untuk mendapatkan semacam ‘arahan’ khusus. Di situlah, ia benar-benar merasa besar.
Suatu kali, sang gorila berkunjung ke kelompok beruang. Anggota kelompok beruang ini jauh lebih besar dari kelompok gorila. Dan menariknya, sang gorila menemukan cermin dalam kelompok itu.
“Boleh aku tatap cermin ini untuk melihat seperti apa wajahku?” tanya gorila ke pemimpin beruang. Dan, sang pemimpin beruang pun mempersilakan.
Agak lama sang gorila berdiri di depan cermin. Tapi, tetap saja bayangan dirinya tak berubah. Sang gorila terheran-heran karena bayangan dirinya di cermin si beruang agak aneh. Tubuhnya memang besar, tapi kepalanya kecil.
Saat itu, sang gorila tidak tahu apa sebabnya. Ia hanya bergumam dalam hati, “Ah, cermin rusak!”
Begitu pun ketika ia berada di kelompok macan tutul, ular sanca, buaya, dan beberapa hewan buas lain. Tetap saja, cermin di tempat mereka selalu menampakkan sebuah bayangan yang sama: tubuh besar, tapi kepala kecil.
**
Subjektivitas diri seseorang, terlebih lagi seorang pemimpin, biasanya ingin mendapatkan sebuah bayangan cermin sosial dari orang-orang di sekelilingnya bahwa ia seorang yang punya gagasan besar.
Sayangnya, subjektivitas itu kadang tidak diimbangi dengan objektivitas yang mungkin berbeda ketika bayangan berasal dari cermin sosial di luar kelompoknya.
Karena seorang pemimpin yang benar-benar bergagasan besar akan tetap mendapatkan pengakuan besar, walaupun berasal dari luar kelompoknya. (muhammadnuh@eramusilm.com)
readmore »»  

Perahu


Sebuah perahu kayu berpenumpang tampak melintas di sungai nan jernih. Sepanjang jalan, para penumpang perahu benar-benar terbuai dengan pepohonan hijau yang memagari tepian sungai. Para penumpang yang berada di lantai atas ini benar-benar beruntung dengan pemandangan indah itu.
Dua lantai perahu penumpang itu memang punya harga sewa yang berbeda. Lantai atas lebih mahal dari yang di bawah. Bahkan mencapai dua kali lipat. Walau begitu, penumpang di lantai bawah masih bisa melihat pemandangan dari balik jendela kecil yang tertutup kaca.
Kelebihannya, penumpang lantai bawah bisa lebih asyik dalam kesunyian tidur. Tak ada suara burung, tak ada terik matahari, dan tak ada angin kencang. Kalau sudah tertidur, waktu menjadi tidak lagi panjang.
Suatu kali, masih dalam aliran sungai nan jernih, pompa air perahu macet. Krisis air minum pun terasa begitu cepat. Beruntungnya, para penumpang masih bisa menikmati segarnya air yang bisa mereka ambil langsung dari sungai yang mereka lewati. Tinggal ambil wadah dan tali, air pun bisa diperoleh.
Beberapa teriakan dari penumpang lantai bawah terus terdengar. “Hei, bagi kami air!” ucap para penumpang bawah. “Ya, kalian bisa ambil ke atas sini!” jawab para penumpang lantai atas.
Di sinilah persoalannya. Kalau penumpang lantai atas bisa mengambil langsung air, sementara yang di bawah mesti meniti anak-anak tangga agar bisa mencapai atas perahu. Dan ini begitu merepotkan.
Suatu malam, masih dalam perahu, beberapa penumpang di lantai bawah merasakan haus yang luar biasa. Kantuk yang mereka rasakan kadang menyelingi rasa haus itu. Saat itulah, rasa enggan menghinggapi mereka untuk bersusah payah menuju atas.
Seseorang dari mereka mengatakan, “Kenapa mesti repot ke atas, toh air yang kita butuhkan ada di kaki kita.” Dan ucapan itu pun seolah menyadarkan para penumpang lain kalau merekalah yang sebenarnya paling dekat dengan letak air daripada penumpang atas.
Salah seorang mereka pun berusaha keras melubangi dinding bawah perahu dengan sebuah linggis. Di benak mereka cuma satu: bagaimana bisa dapat air tanpa mesti susah payah ke atas. Karena toh, yang di atas pun tidak merasa perlu untuk berbagi dengan yang bawah.
**
Kebersamaan dalam sebuah wadah, apakah itu perusahaan, organisasi, dan rumah tangga; tidak cukup hanya meletakkan pandangan dari sudut diri sendiri.
Berlatihlah untuk bisa menangkap pandangan dari sudut pandang orang-orang yang bersama kita. Karena dengan begitulah, perahu kebersamaan akan bisa terus melaju ke arah tujuan yang diinginkan. (muhammadnuh@eramuslim.com)
readmore »»  

Ulat


Seorang gadis cilik tampak asyik bermain di halaman rumah yang penuh bunga. Ada bunga mawar, melati, ros, dan lain-lain. Sesekali, ia pandangi bunga itu satu per satu. “Aih, cantiknya bunga ini!” ucap gadis cilik sambil menyentuh tangkai bunga.
Tapi, ia pun terkejut saat akan memetik bunga yang hampir di genggamannya itu. Seekor ulat bulu begitu asyik menikmat dedaunan di sekitar bunga. Sebegitu lahapnya, sang ulat tak menyadari kalau ia sedang diperhatikan seseorang.
Langkah sang gadis kecil pun menyurut. Ia pun mencari-cari sesuatu untuk menghentikan kerakusan ulat bulu yang bisa merusak bunga kesayangannya itu. “Ha, ada kayu!” ucapnya sambil mengarahkan kayu kecil itu ke tubuh sang ulat. Dan….
“Jangan, sayang! Biarkan sang ulat itu menampakkan kerakusannya!” ucap seseorang yang ternyata ibu gadis itu. Saat itu juga, gadis kecil itu pun menghentikan langkahnya dan merapat ke sang ibu. “Tapi, Bu…” ujarnya sambil menggenggam jari sang ibu.
“Anakku, biarkanlah. Saat ini, kita sedang diajari Tuhan tentang siapa ulat bulu,” jelas sang ibu sambil membelai rambut gadis kecilnya.
“Apa selamanya dia serakus itu, Bu?” sergah sang gadis kecil kemudian.
“Tidak, anakku. Ia serakus itu karena ingin sukses menjadi kupu-kupu yang indah!” jelas sang ibu sambil senyum.
**
Begitu banyak pelajaran bertebaran dalam dinamika alam raya ini. Ada yang mudah ditafsirkan, dan tidak sedikit yang butuh perenungan.

Serangan ulat bulu seolah memberikan kita sebuah teguran. Bahwa keindahan fisik berupa penampilan, citra, wibawa, dan segala kemegahan jasadiyah lain yang dicita-citakan; semestinya tidak diraih dari menghalalkan segala cara dan penuh kerakusan. (muhammadnuh@eramuslim.com)
readmore »»  

Ayam



Seekor induk ayam tampak sibuk dengan kelahiran tiga ekor anaknya yang baru saja menetas. Seperti komandan barisan, ia memimpin ketiga anaknya mencari makan di sekitar kandang. Kemana ia pergi dan bertingkah, seperti itu pula anak-anaknya mengikuti.
Suatu kali, induk ayam ini menginginkan hal lain bagi anak-anaknya. Ia ingin ketiga anaknya kelak menjadi ayam istimewa, bukan ayam kebanyakan. Ia ingin anaknya bisa belajar terbang seperti burung, berlari kencang seperti kuda, dan mahir berenang seperti ikan.
Sang induk ayam pun mengajak anak-anaknya mengunjungi burung bangau. “Hei bangau sahabatku! Bisakah kau ajari salah satu anakku bagaimana terbang?”
Walau agak keheranan, sang bangau menuruti permintaan induk ayam untuk mengajari seekor anak ayam terbang. Sang bangau mengajak anak ayam itu menaiki sebuah bukit. Dan setelah mengajari bagaimana mengepakkan sayap, sang bangau ‘mendorong’ sang anak ayam untuk lompat dari atas bukit. Ia berharap, sang anak ayam bisa terbang, sebagaimana ia diajari induknya ketika masih kecil.
Ternyata, bukan terbang yang bisa dilakukan sang anak ayam. Ia terjatuh dari atas bukit dan membentur sebuah batu cadas di dasarnya. Anak ayam itu pun mati.
Tanpa peduli dengan kematian itu, kini sang induk ayam mengajak dua anaknya mengunjungi kuda. “Hei kuda sahabatku, maukah kau mengajari salah satu anakku bagaimana berlari kencang?” ucap sang induk ayam sedikit agak memaksa.
Walau agak keheranan, sang kuda pun mengajak salah satu anak ayam ke tanah lapang. Setelah mengajari bagaimana menggerakkan kaki agar lebih cepat berlari, sang kuda mengikatkan sebuah tali yang menghubungkan antara ia dengan tubuh anak ayam. Dan, ia pun ‘memaksa’ anak ayam itu berlari kencang. Cara itulah yang ia dapatkan ketika ia diajari induknya ketika masih kecil.
Ternyata, bukan kecepatan berlari yang didapat si anak ayam malang itu. Justru, ia terseret dan tubuhnya tergesek bebatuan di sekitar tanah yang dilalui kuda. Sang anak ayam itu pun mati.
Kini, tinggal satu peluang yang dimiliki induk ayam. Ia dan anaknya yang tinggal satu pun pergi meninggalkan kuda untuk mengunjungi ikan. Sang induk ayam berharap, anaknya yang satu ini bisa belajar berenang seperti ikan.
“Hei ikan sahabatku, maukah kau mengajari anakku berenang?” teriak sang induk ayam ke ikan sahabatnya di tepian sebuah sungai.
Walau agak keheranan, sang ikan pun terpaksa mengajak anak ayam itu belajar berenang. Setelah mengajari bagaimana menggerakkan tubuh ketika dalam air, sang ikan ‘memaksa’ anak ayam menceburkan diri ke air sungai. Cara itulah yang pernah diajarkan kepada sang ikan ketika ia masih kecil.
Ternyata, bukan kemahiran berenang yang didapatkan anak ayam, justru, ia tak bisa nafas karena tersedak air yang terus masuk ke saluran nafas kecilnya. Anak ayam itu pun mati.
Kini, tinggal si induk ayam melamun dalam kesendirian. Ia masih terpaku dalam kebimbangan: anak-anaknya yang tidak bermutu, atau ia yang salah memperlakukan anak-anaknya.
**
Tidak banyak pemimpin yang mampu menimbang dengan adil antara keinginan dan obsesinya yang begitu tinggi dengan kemampuan yang dimiliki orang-orang yang dipimpinnya.
Alih-alih ingin meraih hal yang istimewa dari yang ia pimpin, justru orang-orang yang mengikutinya ‘berguguran’ tergilas obsesi para pemimpinnya. (muhammadnuh@eramuslim.com)
readmore »»  

Belajar Dari Muslimah Rusia Yang Berjilbab


Oleh Syaripudin Zuhri
Jilbab, pakaian muslimah yang telah mendunia dan di Indonesia orang sudah dengan leluasa memakai jilbab, walaupun belum sebagaimana mestinya, tapi yang memakai jilbab sudah berusaha untuk menjadi muslimah yang baik, walau masih banyak yang malu-malu. Jilbab yang seharus menutup aurot dan tak membentuk tubuh, masih “campur” aduk dengan pakaian ketat, aneh jadinya, di atasnya berjilbab tapi ke bawahnya, membuat orang geleng-geleng kepala.
Yang repotnya pakai jilbab, tapi akhlak, tingkah laku dan mulutnya sama saja dengan tak memakai jilbab, jadi jilbab belum mampu “mengerem” pemakainya. Tapi itu sudah sukur, sudah mau memakainya, nanti secara bertahap akhlak, tingkah laku dan mulutnya menyesuaikan diri dengan jilbab yang di pakai. Tapi memang memakai jilbab itu punya tantangan sendiri, entah dari teman, lingkungan atau memang ada pihak-pihak “tertentu” yang berusaha menjegal muslimah berjilbab.
Heran…. hari gini masih saja orang yang tak suka atau tak setuju bila perempuan muslim pakai jilbab? Bahkan ada yang sampai alergi atau paranoid bila ada wanita muslim berjilbab hitam dengan baju gamisnya yang longgar dan tidak ketat.
Nah sekarang mukena karena mungkin mengikuti model dan jadi warnanya macem-macem, ada merah muda, hijau muda, biru muda dan sebagainya. Sehingga ketika ada sholat Id, baik Idul Fitri atau Idul Adha, di jamaah perempuan akan terlihat mukena yang warna warni, yang dulunya tak akan pernah di jumpai, sekarang… anda bisa lihat sendiri. Sebenarnya warna putih melambang kesucian dan kebersihan, makanya ketika dalam ibadah haji akan terlihat kemana-mana Anda pergi di kota suci Mekkah ketika orang memakai pakaian ihrom, semuanya serba putih!
Lalu apa hubungannya dengan jilbab? Di dua tanah suci Mekkah dan Madinah dan seluruh jazirah Arab ada semacam kewajiban memakai jilbab! Dan anehnya ada yang “gerah” ketika muslimah memakai jilbab di gurun pasir sana, yang katanya panas-panas kok pakai jilbab, apa tidak semakin panas!
Orang seperti ini memang menilainya dari sisi duniawi, bukan sisi keimanan! Wanita yang beriman, walaupun panas-panas akan tetap memakai jilbab dan itu dibuktikan bukan hanya di gurun Sahara atau gurun Rub’al Khali, Nafud dan sebagainya, juga di Rusia ketika musim panas menyengat di bulan Juni dan Juli, wanita muslimah Rusia tetap memakai Jilbab, lalu mengapa ada pihak-pihak yang meributkannya, aneh!
Jadi memakai jilbab bukan karana budaya, tapi iman! Kalau karena alasan budaya, muslimah Indonesia dan Rusia mungkin tak akan memakainya, itu karena panggilan iman. Mengapa? Karena bila di Bali misalnya, wanita muslimahnya tetap memakai Jilbab, walau budayanya atau kebiasaan wanita di pedesaan terbuka dadanya.
Jadi sangat tidak beralasan kalau ada “pihak lain” yang “mencak-mencak” melihat wanita Muslimah berjilbab! Tapi anehnya ketika perempuan non muslim yang juga taat pada aturan agamanya tertutup rapat, di tempat-tempat ibadah mereka dan mengabdikan pada Tuhan mereka, sehingga mereka tak menikah, tak ada yang mengusik-ngusik, tak ada yang”mencak-mencak” dan tak ada kata larangan, aneh bin ajaib!
Namun ketika muslimah memakai jilbab dan berada di negara yang yang mayoritasnya non muslim, wanita muslimah ini diburu-buru, bahkan sampai dikeluarkan semacam peraturan atau UU agar wanita muslimah yang berjilbab tak leluasa bergerak.
Dan alhamdulillah di Rusia tak demikian, wanita muslim Rusia bebas memakai jilbabnya dan tak ada tanda-tanda mereka dikucilkan! Atau mereka di buru-buru oleh orang yang merasa “gerah” melihat perempuan berjilbab, loh apa salah perempuan yang berjilbab? Apa salah mereka memakai jilbab, padahal itu tuntunan agama yang mereka anut. Perkara ada wanita muslimah yang belum berjilbab itu perkara lain, mungkin saja mereka masih belum terbiasa atau belum tergerak hatinya untuk memakai jilbab.
Lucunya lagi, ada yang mengaku paham demokrasi, tapi ketika ada yang berbeda pendapat dengan mereka, tetap aja ngotot, agar orang lain mengikuti pendapat mereka! Orang semacam ini merasa terganggu kalau ada orang yang karena alasan agamanya mendukung orang yang berjilbab dan orang semacam ini lebih suka perempuan-perempuan serba terbuka pakaiannya dengan alasan tak mengganggu siapa-siapa.
Tapi anehnya ketika wanita muslilmah berjilbab, yang juga tidak membuat orang terganggu atau tak mengganggu siapapun, mereka teriak,” itukan pakain Arab! Itukan budaya Arab, itukan bukan budaya Indonesia, jilbab tak cocok buat di Indonesia!” Begitu seterusnya mereka berteriak, anehkan.

Mengapa jilbab seperti momok yang menakutkan? Padahal jilbab adalah pakian muslimah yang dianjurkan dan lagi-lagi tak mengangganggu siapapun, bahkan ketika mereka berolah ragapun denga pakaian tetap tertutup, biasa saja, tak ada masalah.

Yang mengherankan lagi-lagi pihak “lain”, muslimah yang berjilbab, kok mereka yang kerepotan, bahkan di jaman Orba, PNS yang pakai jilbab dilarang, anak sekolah yang berjilbab dikeluarkan dri sekolah dan lain sebagainya, seakan-akan jilbab itu barang haram. Tapi yang pakai rok mini, yang mengundang syahwat dibiarkan lenggang kangkung!
Aneh memang dunia, orang yang menjalankan agamanya kok diributkan, orang yang membela agamanya kok dicurigai, orang memberantas kemaksiatan dan kemungkaran malah dimusuhi, sedangkan tempat-tempat maksiat dilindungi, pemabok-pemabok dibiarkan dan minuman keras beredar semaunya. Dunia memang mau kiamat, bila kemaksiatan merajalela, sedangkan orang-orang yang melakukan kebaikan, malah disingkirkan!
Kita kembali ke jilbab, apa salahnya muslimah berjilbab? Toh tak ada yang terganggu dan tak melanggar HAM, bahkan muslimah yang berjilbab termasuk mengamalkan Pancasila, terutama sila pertama: “Ketuhanan Yang Maha Esa” Bukankah muslimah yang berjilbab berarti taat kepada Tuhannya dan menjalankan ajaran Tuhan itu sesuai dengan Pancasila, lalu mengapa di jaman Orba muslimah yang mengamalkan Pancasila justru disalahkan? Anehkan.
Semoga hal tersebut tak terjadi lagi di Indonesia dan semoga tak ada lagi “pihak-pihak tertentu” yang mengadu domba ummat Islam dengan pemerintahnya! Kalaupun ada yang mencoba mengadudomba ummat Islam, semoga ummat Islam tak terpancing, baik dalam bentuk perorangan, ormas atau partai! Semoga ummat Islam tetap bersatu dengan sesamanya dan semoga Indonesiapun tetap damai dan tak mudah terpancing oleh isu-isu pecahnya NKRI!
Ada beberapa daerah yang sudah menerapkan perda dengan mengajurkan setiap muslimah memakai jilbab, anehnya ada pihak-pihak tertentu yang tak suka, anehkan? Perda menganjurkan muslimah berjilbab, ada pihak yang menuduh “macam-macam” herannya wanita yang pakai rok mini, pakaian yang mengundang syahwat dibiarkan. Memang Islam tak bisa dihancurkan dengan idiologi… tapi mereka mencoba dihancurkan dengan budaya. Budaya Barat yang merusak, dengan pakain, music, film, internet dan sebagainya “dijejali” pada ummat Islam dan remaja-remaja muslimah.
Maka berhatilah-hatilah, mula-mula yang diperangi jilbab dengan alasan prulalisme, libralisme dan kapitalisme, jilbabnya bertahan, dihantam dengan budaya yang merusak, narkoba dan lain sebagainya, siapa sasarannya? Ya ummat Islam! Semoga ummat Islam tak terpancing dan tak mudah terprovokasi oleh apa dan siapapun.
Oke, kita kembali ke muslimah Rusia, kalau di Rusia setiap muslimah ya berjilbab, jadi jelas sekali bedanya antara wanita Rusia yang non muslim dengan wanita Rusia yang muslimah. Bukti yang paling menarik di musim panas yang suhunya bisa menyengat, karena biasanya dingin, wanita Rusia yang muslimah tetap berjilbab! Nah kalau muslimah Rusia saja berjilbab terus, mengapa tidak diambil pelajaran bagi yang muslimah Indonesia yang belum berjilbab? Dan kalau ada pihak-pihak yang mencoba menghalangi atau memperlemah wanita berjilbab, mari kita lawan sama-sama dan katakan” Ini hak muslimah!”

readmore »»