. TKA TPA AL BANNA [ انسان مسلم ]: 03/13/12
Have an account?

Selasa, 13 Maret 2012

Tentang TV



Oleh Kiptiah

Allahu akbar…. Allahu akbar…..

“Alqa sayang, sudah maghrib tuh. Ayo di matikan TVnya. Kita ke masjid yuk, sholat berjamaah.” Kata ayah Alqa

Alqa yang sedang asyik menonton program kesukaannya, menolak.

“Alqa sholatnya nanti saja yah. Tanggung nih filmnya lagi seru.” Jawab Alqa tanpa menghiraukan ajakan ayahnya.

“Emmm…. Anak ayah kayaknya tidak mau ya di sayang Allah ?”

“Yaa ayah… tapi kan tanggung.” Jawab Alqa sambil merengut.

“Ya sudahlah. Alqa tidak mau di sayang Allah. Ayah saja deh yang di sayang Allah.” Jawab ayah yang kemudian pergi meninggalkan Alqa.

Belum sampai keluar dari pintu rumah. Alqa pun berteriak.

“Ayaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah….. Tunggu Alqa.”

Ayah tersenyum. Ayah tau bahwa Alqa tidak akan mau tertinggal. Alqa pun bergegas mengambil sarung dan peci dari kamarnya dan lari mengejar sang ayah.

“Yuk yah. Kita ke masjid.”

Sambil berjalan menuju masjid. Ayah bertanya kepada Alqa.

“Tadi ayah ajak, katanya tanggung. Kok sekarang malah ingin buru-buru ?”

”Alqa cuma tidak ingin tidak di sayang Allah. Kan ayah sama bunda sering bilang sama Alqa. Kalau mau di sayang Allah, kita harus mengikuti perintah Allah dan meninggalkan yang Allah tidak suka. Biar nanti di surga, Alqa bisa bertemu dengan ayah dan bunda. Alqa sayaaaaaaaang banget sama ayah dan bunda.” Jelas Alqa panjang lebar membuat ayah tersenyum sendiri melihat tingkah puteranya.

“Pintar sekali anak ayah. Memang harus seperti itu. Kalau menuruti nonton TV, tidak akan ada habisnya. Semua yang terlihat di dalam TV itu indah, padahal tidak semuanya baik untuk di tonton. Malah sia-sia nanti waktu yang kita punya jika sepanjang waktu hanya menonton TV.”

“Ohh… makanya ayah sama bunda selalu membatasi Alqa untuk menonton ya ? dan selalu ada di samping Alqa saat Alqa menonton ?”

“Benar sayang. Karena ayah sama bunda tidak ingin Alqa terus menerus menonton TV. Ayah dan bunda ingin Alqa bisa bermain sama teman-teman, baca buku, melakukan hal-hal yang Alqa suka. Tidak hanya terpaku diam saja di depan TV. Alqa harus bergerak.”

“Harus bergerak ?” Tanya Alqa heran.

“Iya. Kalau hanya berada di depan TV saja kan Alqa diam, hanya menonton. Sedangkan kita harus bergerak, melakukan sesuatu yang bermanfaat. Membaca Al Qur’an misalnya.”

“Berarti TV itu ada baiknya dan ada buruknya ya yah ?” tanya Alqa polos.

“Iya. Makanya kita harus pintar memilih program yang baik untuk di lihat. Menambah wawasan dan iman bukan justru membuatnya kita lalai kepada Allah. Lalu, usahakan untuk bisa jadi yang di ikuti bukan hanya mengikuti. Jadi yang di tonton bukan hanya menonton. Pastinya dalam hal kebaikan. ”

“Alqa paham yah. Kita wudhu dulu yah.”

Usai berwudhu, mereka langsung masuk ke dalam masjid dan menempati shaf pertama.

“Alqa mau kemana ?” Tanya ayah saat melihat Alqa langsung berdiri setelah selesai sholat tanpa berdo’a.

Alqa langsung menengok.

“Alqa mau pulang yah. Mau lihat lanjutan film yang tadi.” Jawab Alqa.

Ayah menghampiri Alqa sambil berkata.

“Loh ? Baru tadi ayah bilang. Jangan sampai TV membuat kita lalai kepada Allah. Kok malah sekarang Alqa jadi ketergantungan ?”

“Tapi kan yah, sholatnya sudah selesai.” Alqa membela diri.

“Iya benar. Tapi Alqa selesai sholat langsung bangun tanpa berdoa dahulu, tanpa pamit juga sama ayah. Apa Alqa tadi sholat sambil memikirkan film itu ?” Selidik Ayah.

Alqa tersenyum mendengar penuturan ayahnya, seakan tahu apa yang di pikirkannya tadi.

“Ya sudah. Sekarang duduk lagi sini. Jangan lupa berdo’a.”

“Iya yah.”

***
Di perjalanan pulang menuju ke rumah.

"Yah, Alqa pernah dengar kalau TV itu bisa jadi tuhan ke dua." Tanya Alqa.

"Kamu tahu dari mana ?"

"Alqa pernah dengar secara tidak sengaja dari obrolan kakak-kakak di masjid beberapa waktu yang lalu yah."

"Oh gitu." Ayah manggut-manggut.

"Memang bisa di bilang seperti itu."

"Maksudnya yah ?"

"Begini sayang. Seperti yang tadi ayah bilang. Bahwa semua yang ada di TV itu terlihat indah. Dan TV itu media yang paling mudah di akses. Tidak seperti majalah atau internet, acara di TV bisa di lihat secara gratis. Hampir semua orang punya TV. Sayangnya, tidak semua orang bisa memilih mana yang baik atau buruk. Contohnya, ketika ada artis A berpakaian seperti ini, bisa di pastikan akan banyak orang yang mengikutinya. Bukan masalah jika pakaiannya itu sesuai yang di perintahkan Allah. Menjadi masalah jika pakaiannya itu melanggar ketentuan Allah. Karena kita cenderung mengikuti apa yang kita lihat padahal belum tentu benar."

Alqa menyimak penjelasan ayahnya dengan serius.

".... contoh lain misalkan ada suatu program di TV yang menampilkan kekerasan, hal tersebut bisa di tiru oleh anak-anak yang menonton tanpa ada pengawasan dari orangtua...."

"... jadi kalau Alqa mau menonton, harus di dampingi ayah atau bunda. Kalau ada sesuatu yang menurut Alqa ganjil atau tidak baik. Alqa tanya sama ayah atau bunda. Begitu juga kalau Alqa tidak sengaja menonton TV di tempat lain atau tanpa pengawasan ayah bunda. Tidak boleh langsung meniru. "

"Gimana, sudah faham belum ?"

"Sudah yah. Terima kasih ya yah."

"Iya."

readmore »»  

Kamu Cantik, Tapi...



Oleh Kiptiah

“Aneh deh sama status teman kamu.” Kata Faiz sambil merengut mendekati kursi Naya.

“Teman aku yang mana Iz ? Emang statusnya bagaimana sampai bikin kamu bête ?” Naya balik bertanya.

“Bukan bête sih. Hanya merasa aneh saja. Itu tuh, si Raina. Statusnya itu isinya tentang wajah seseorang yang cantik atau tampan tapi tidak pantas untuk di pamerkan.” Faiz menjelaskan kepada Naya dengan tetap merengut.

“Maksudnya kamu, di pamerkan bagaimana Iz ? Aku ga ngerti.” Naya yang sedang fokus mengetik laporan bulanan kemudian menoleh ke arah Faiz.

“Yaa.. contohnya di jadikan foto profil facebook atau menaruhnya di internet.”

“Ooh gitu toh. Aku bisa jelasin ke kamu. Karena aku juga pernah merasa aneh sama dia.” Naya hendak berbagi cerita.

“Gimana Nay ?”. Faiz penasaran dengan penjelasan Naya.

“Iya, sebelumnya aku sempat kesal sama Raina. Tiap kali ada yang menaruh foto dia ke profilnya, selalu dia hapus. Aku sampai berfikir. Ini anak kok bisa segitunya. Apa dia ga berfikir, kalau orang yang menaruh fotonya itu akan tersinggung atau kesal…”

“Terus apa kata Raina ?” Faiz memotong penjelasan Naya.

“….. Dia bilang, itu hak dia untuk tidak mempublikasikan dirinya ke dunia maya. Dia menghindari yang namanya cyber crime dan fitnah yang di timbulkan jika dia memasang foto dirinya. Untuk hal yang satu itu, dia amat kekeuh sama prinsipnya. Kalau memang mau tahu orangnya kan bisa bertemu langsung tapi bukan sengaja di pamerkan. Kata dia begitu ” Jelas Naya.

“Eeemm.. ga salah sih apa kata Raina. Tapi kan kalau wajah itu ga termasuk aurat Nay ? Jadi ga papa donk kalau kita pasang di profil atau internet.” Faiz terlihat masih penasaran.

Naya yang sudah mulai berjilbab sejak beberapa bulan lalu seperti menyetujui pendapat Faiz. Namun setelah beberapa saat, ia ingat perbincangannya dengan Raina kemarin.

“Aku hanya menyampaikan apa kata Raina. Karena aku pernah berdiskusi dengan dia.”

“Apa kata Raina, Nay ?”

“Memang aurat wanita itu adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Tapi seperti yang termaktub dalam Al Qur’an dalam surah Annur ayat 31 yang menyuruh kita menahan pandangan kita. Memang wajah itu bukan aurat. Tapi wajah yang menarik yang terlihat itu otomatis akan menimbulkan "rasa" jika di lihat oleh lawan jenisnya. Karena anak panah iblis itu berasal dari pandangan. Dan seperti kata pepatah, dari mata turun ke hati. Dan dari hati semuanya bermula. Jika tidak bisa menahan akan menimbulkan rasa yang tidak baik.” Naya mengulang apa yang di bicarakan Raina kemarin dengannnya.

“Mungkin kita bisa bilang biasa saja walaupun sudah melihat. Tapi bagaimana dengan yang lain. Apakah bisa menahan pandangan dan tidak menimbulkan nafsu ?” Naya seperti tersihir dengan kata-kata Raina yang ia ulangi kepada Faiz.

"Raina bilang kepadaku seperti itu. Karena sebelumnya dia pernah khilaf, dia berusaha untuk tidak mengulanginya lagi. Dia pernah terpenjara oleh rasa yang tidak semestinya ada akibat bermain dengan hati."

“Aku paham Nay. Aku juga kadang kalau melihat wanita cantik sedikitnya pasti menimbulkan rasa suka dalam hatiku.” Kata Faiz sambil menerawang.

“Iya Iz. Aku juga sekarang sudah mulai belajar memahami prinsip Raina. Meskipun aku belum bisa sepenuhnya mengikuti apa yang dia lakukan.” Naya melirik profil facebooknya yang masih memajang foto close up dirinya.

“Apa itu hanya berlaku wanita saja Nay ?” Faiz lanjut bertanya.

“Itu juga sempat aku tanyakan kepada Raina dan dia bilang tidak. Sama seperti pria yang akan tertarik dengan wajah wanita, begitu juga sebaliknya. Jika seseorang belum bisa menahan pandangannya, bisa jadi dia akan membayangkan terus wajah orang yang menarik hatinya.”

“Membayangkan …..” Kata Faiz sambil tersenyum nakal.

“Kenapa kamu Iz ? senyum-senyum ga jelas.” Naya melirik Faiz.

“Kalau kita melihat wajah orang yang menarik, itu akan terekam dalam ingatan kita. Bisa jadi itu akan membuat suatu khayalan. Bisa jadi baik. Bisa jadi buruk.” Faiz teringat, ia juga sering terbayang dengan wajah wanita yang ia lihat melalui internet.

“Huuft….” Naya menarik nafas.

“Benar juga sih kata Raina. Mungkin perlahan aku akan mencoba mengurangi ke-narsis-an ku bergaya di facebook.” Naya mulai memahami maksud Raina beberapa waktu lalu.

“Tapi Nay, kalau ga pake foto nanti kalau temanku ga tau kalau itu aku ?”

“Iihh.. emang kamu siapa ? Mau tenar ya ?” Naya tertawa lebar.

Faiz kemudian memonyongkan bibirnya melebihi hidungnya. Dia tidak terima di ledek Naya.

“Biarin. Aku kan mau eksis.” Faiz membela diri.

“Tenang Iz. Kalau mau mencari teman, bisa kok tanpa melihat bagaimana fisiknya. Justru itu akan lebih kelihatan ketulusannya di banding jika pertemanan hanya karena melihat secara fisik.” Naya mendadak menjadi bijak.

“Siap Miss Maria Teguh.” Faiz tertawa dengan posisi tangan di samping kepala memberi hormat.

Tak ayal, sikap Faiz membuat Naya geregetan dan menyambitnya dengan tissue. Mereka pun tertawa bersama.

readmore »»  

Jika Mahligai Terbingkai Iman



Oleh Eko Prasetyo

”Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, ” (QS Ar-Ruum:30).

Betapa indah Islam membingkai hubungan antara hamba Allah yang berbeda jenis lewat pernikahan. Baru-baru ini, saya menghadiri pernikahan seorang kawan ikhwan di Surabaya. Melalui proses ta’aruf yang singkat melalui perantara seorang kawan, mereka melangsungkan pernikahan. Nyaris sama dengan tokoh Fahri dan Aisha dalam novel Ayat-Ayat Cinta.

Atau, kisah seorang tokoh wakil rakyat dan dokter wanita di Jakarta yang berakhir di pelaminan setelah berta’aruf secara singkat. Subhanallah. Pernikahan merupakan salah satu ketentuan Allah yang berlaku atas semua makhluk, baik manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan.

Meski demikian, manusia tidak seperti makhluk lainnya yang dibiarkan hidup bebas mengikuti hawa nafsunya tanpa adanya aturan. Untuk menjaga kehormatan dan kemuliaan tersebut, Allah menciptakan hukum yang sesuai dengan martabat dan fitrah manusia, yaitu pernikahan.

Pemandangan berbeda tampak ketika saya sering melintas di Ketintang yang memang merupakan kawasan kampus itu. Banyak di antara para mahasiswa yang berboncengan dengan temannya yang berbeda jenis padahal belum muhrimnya. Selain itu, kadang mereka tak malu-malu untuk berduaan di depan umum. Astaghfirullah.

Rasulullah bersabda, ”Tidaklah seorang laki-laki bersendirian dengan seorang wanita, kecuali setan menjadi yang ketiganya, ” (HR At Tirmidzi).

Pada hadits lainnya disebutkan: ”Janganlah seorang laki-laki bersendirian dengan seorang wanita dan janganlah seorang wanita bepergian kecuali dengan muhrimnya, ” (HR Bukhari). Hal tersebut mungkin tak hanya dijumpai di kota kami, tapi juga daerah-daerah lain.

Seiring kemajuan teknologi yang pesat, pergaulan bebas tak terkendali karena pengaruh dari banyak aspek. Mulai tontonan televisi, kurangnya pendidikan dan pemahaman tentang agama, hingga pengaruh budaya Barat yang kurang baik.

Pacaran seolah telah menjadi budaya yang legal di kalangan muda. Padahal, perbuatan dari gaya berpacaran sama sekali tak membawa manfaat, malah menjurus pada perbuatan zina. Nikmat sesaat namun dimurkai Allah justru lebih dipahami sebagai anugerah. Naudzubillah.

***

Kedua mempelai tampak sangat berbahagia dan tak henti melemparkan senyum kepada para undangan hari itu. Bagaimana perasaan seseorang melihat sahabatnya tempat berbagi ilmu menunaikan separo agamanya? Tentunya, haru, bangga, bahagia, dan doa menemani pada hari itu. Dan inilah yang saya rasakan.

Saya mengucapkan selamat dan memeluk sahabat ikhwan saya tersebut dan mengatakan, ”Insya Allah, saya akan menyusulmu.” Derai canda dan kebersamaan kami sebagai sahabat saat bertukar ilmu mungkin tak akan seintens dulu. Namun, nilai persahabatan yang dibangun atas rasa persaudaraan sebagai muslim tetap akan berlanjut sampai kapan pun.

Alhamdulillah, indahnya Islam saat kami merasakan nikmatnya iman dalam rasa persahabatan saudara seiman. Rumah tangga yang terbangun dari fondasi Islam tentu akan membawa ketenteraman bagi sebuah keluarga. Segala sesuatu akan diputuskan secara bersama. Seorang suami akan menjadi imam bagi isterinya.

Tentunya, setiap masalah yang dihadapi dapat diselesaikan bersama secara musyawarah oleh suami-isteri. Islam telah mengaturnya dengan baik dan indah. Sahabat saya tersebut telah menunaikan separo agamanya. Fase kehidupan baru akan menjelang di hari-hari berikutnya. Kami tetap bersahabat karena Islam.

Karena Islamlah, kami bersaudara. Jika mahligai pernikahan terbingkai oleh iman, jiwa merunduk berucap syukur atas keberkahan yang agung. Semoga Allah melimpahkan karunia dan nikmat-Nya yang tiada tara bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Amiin.
readmore »»  

Kebaikan Yang Menginspirasi



Oleh Abi Sabila

Bagai sebuah prasasti, nama Rohman dan Rohim terukir indah di hati, karena kebaikannya yang menginspirasi. Dua kakak beradik ini bukanlah kerabatku, bukan pula sahabat dekat, tapi kebaikan mereka akan selalu kuingat.

Sembilan tahun yang lalu, Allah mempertemukanku dengan mereka melalui jalan yang yang tak terduga sebelumnya. Pak Rohman adalah pemilik toko sparepart sekaligus bengkel motor, sedang Pak Rohim adalah pemilik rumah makan terkenal di kota kecil tempat kelahiranku.

Sore itu, saat sedang membantu ibu mertua mengumpulkan jemuran padi, salah seorang karyawan Pak Rohman datang menemuiku. Ia datang membawa pesan dari Pak Rohman agar aku segera datang ke tokonya.

“Ada apa ya? Bukankah tadi pagi Pak Rohman bilang kalau tokonya belum membutuhkan karyawan baru?” tanyaku pada si pembawa pesan.

“Saya juga kurang tahu, Mas. Tapi sebaiknya Mas segera ke sana, satu jam lagi toko akan tutup.” Jawab si pembawa pesan yang langsung berpamitan.

Sebelumnya, hampir setengah hari aku mengelilingi pasar, mencoba mendapatkan pekerjaan dengan menawarkan diri jadi penjaga toko. Tapi sayang, dari belasan toko yang aku datangi, tak satupun yang membutuhkan tambahan karyawan, termasuk toko spare part dan bengkel milik Pak Rohman.

Dan jika sore itu Pak Rohman memintaku datang, tentu membuatku penasaran. Apakah beliau berubah pikiran? Dan semua pertanyaanku baru terjawab setelah aku tiba di tokonya. Seperti yang kudengar sebelumnya, tokonya memang belum membutuhkan karyawan baru, tapi beliau bersedia membantu mencarikan perkerjaan, jika aku mau. Tentu saja aku mau.

Usai menelpon seseorang, dengan wajah ceria beliau kabarkan bahwa Rohim, salah satu adiknya yang memiliki usaha rumah makan, tujuh kilometer arah kota kabupaten bersedia menerimaku sebagai karyawannya.

“Besok kamu datang ke rumah makan, katakan pada salah satu karyawan di sana kalau kamu adalah utusanku. Nanti dia akan mengantarmu ketemu dengan Rohim, pemilik rumah makan yang juga adikku,”pesan Pak Rohim sebelum aku perpamitan.

Sesuai arahan Pak Rohim, keesokan paginya aku mendatangi rumah makan yang terletak di sisi jalur propinsi. Seorang karyawan menyambutku dengan ramah dan segera mempertemukanku dengan Pak Rohim setelah teh manis yang ia hidangkan kuminum setengahnya.

Tak banyak bertanya, seperti sudah kenal sebelumnya, Pak Rohim langsung menerimaku sebagai karyawannya. Bukan sebagai karyawan rumah makan, melainkan penjaga wartel yang berada di halaman sebelah kiri rumah makan. Dan bagiku ini tak menjadi masalah. Yang terpenting adalah aku segera mendapatkan pekerjaan, dan pagi itu aku mendapatkannya dengan cara yang sangat mudah. Alhamdulillah.

Meski sebenarnya aku sudah siap untuk mulai bekerja saat itu juga, namun karena karyawan yang beliau percaya untuk mengelola wartel berhalangan hadir, maka Pak Rohim memutuskan agar mulai bekerja keseokan harinya. Dan sekali lagi ini juga tidak masalah. Kapanpun mereka butuhkan, aku siap. Dan saat aku hendak berpamitan, Bu Rohim menahanku. Beliau memberikan sejumlah uang padaku.

“Tidak apa-apa, ini sekedar uang jajan buat anakmu,” begitu katanya saat dengan halus kutolak pemberiannya. Bagaimanalah aku akan menerimanya, sedang bekerjapun belum. Diterima sebagai karyawan saja sudah membuatku sangat bahagia. Tapi karena Bu Rohim terus memaksa, dan aku melihat ketulusan di raut wajahnya, akhirnya kuterima uang yang ia sodorkan.

Subhanallah, jika sudah rejeki, apapun bisa terjadi. Jika kemarin belasan toko kudatangi tak satupun yang menerima, pagi itu aku justru mendapatkan sebuah pekerjaan dengan sangat mudah. Dan bukan hanya itu, aku diberikan uang saku sebelum mulai bekerja. Alhamdulillah.

Dan kebaikan Pak Rohim bukan hanya di awal saja. Empat bulan berikutnya, ketika musyawarah dengan keluarga menghasilkan satu keputusan bahwa aku harus kembali ke Tangerang, mencari pekerjaan dengan penghasilan yang lebih mencukupi, maka mengundurkan diri dari wartel Pak Rohim terpaksa harus kulakukan. Ada ragu dan malu saat hendak menghadap Pak Rohim di ruang kerjanya. Separuh hati sudah kusiapkan apabila nanti Pak Rohim kecewa atau marah dengan keputusanku. Aku sadar, semestinya aku memberitahu jauh-jauh hari, tidak mendadak begini. Tapi sebisa mungkin akan kujelaskan bahwa aku terdesak kebutuhan.

Dan sungguh diluar dugaan. Beliau memaklumi keputusanku, bahkan mendukungku bila alasannya adalah untuk masa depan keluarga. Beliau juga sempat meminta maaf jika gaji yang diberikan sebagai penjaga wartel tak bisa mencukupi kebutuhan keluargaku. Sebelum aku berpamitan, beliau menyodorkan sebuah amplop padaku. Sama seperti empat bulan sebelumya, ketika pertama kali aku datang untuk melamar kerja, aku merasa tak layak dan tak berhak menerima pemberiannya.

“Terimalah. Meski tidak banyak, mudah-mudahan ini bisa bermanfaat sampai kamu dapat pekerjaan baru di sana. Mudah-mudahan kamu segera mendapat pekerjaan yang lebih baik. Saya tidak mendoakan kamu tidak betah, tapi jika kamu ingin kembali ke sini, wartel dan rumah makan ini selalu terbuka untukmu.” Beliau berpesan sambil menyalamiku.

Subhanallah! Jika tak kudengar sendiri, sulit rasanya untuk percaya. Setelah sekali lagi mengucapkan terima kasih, akupun berpamitan. Sore harinya, berbekal uang yang Pak Rohim berikan, yang jumlahnya dua kali lipat dari gaji sebulanku, aku kembali ke Tangerang tanpa anak dan istriku. Dua minggu setelah itu alhamdulillah aku mendapatkan pekerjaan yang hingga kini masih kutekuni.

Kini setelah sembilan tahun berlalu, usaha Pak Rohman dan Pak Rohim berkembang pesat. Toko sparepart sekaligus bengkel motor milik Pak Rohman menjadi salah satu toko dan bengkel terkemuka. Juga usaha rumah makan Pak Rohim. Di sebelah kiri rumah makan yang selalu ramai pengunjung, berdiri megah sebuah gedung serba guna yang biasa disewakan untuk mengadakan pertemuan ataupun resepsi pernikahan. Sementara karena perkembangan teknologi informasi yang membuat keberadaan wartel tak lagi diminati, bangunan bekas wartel kini diubah menjadi toko cindera mata. Jika kebetulan anda melintas di jalur utama kota kelahiranku, Anda akan melihat toko sparepart dan bengkel Pak Rohman, juga rumah makan milik Pak Rohim.

Subhanallah, wal hamdulillah. Dari sepenggal kisah perjalananku mencari pekerjaan, aku banyak mendapatkan pelajaran berharga. Diantaranya, banyak cara yang bisa kita lakukan untuk membantu orang lain. Jika tidak ada yang bisa kita berikan, bila tidak ada yang bisa kita lakukan untuk membantu orang lain, maka kita bisa membantunya dengan mencarikan orang yang bisa melakukannya seperti yang Pak Rohman lakukan padaku saat aku membutuhkan pekerjaan. Juga, maju mundurnya sebuah usaha bukan semata ditentukan oleh kerja keras kita, tapi juga kemauan kita untuk berbagi dengan orang lain seperti yang Pak Rohim lakukan padaku, dan juga kepada karyawan-karyawannya. Dan meski kini Allah tak memberiku rejeki melalui tangan-tangan mereka, aku selalu berdoa untuk mereka. Semoga Allah senantiasa memberkahi usaha mereka. Amin, ya Rabb.

Dan kisah ini semoga bisa memberikan inspirasi untuk kita selalu berbuat baik pada orang lain, sehingga tak ada yang diingat tentang kita kecuali kebaikan yang telah kita lakukan. Insya Allah.

readmore »»  

AlQuran Online


Read more: http://epg-studio.blogspot.com/2011/01/pasang-al-quran-online-pada-blog.html#ixzz1p0fJE7xJ
readmore »»  

Cinta membawaku kembali



Oleh Nooviyanti U

Cinta membawaku...

Cinta membawaku kembali di sini

------

Kata-kata dari sebuh lagu itu kusenandungkan dalam hati ketika ku menjejakkan langkah kaki ini di sebuah tempat yang selalu kurindukan. Letaknya memang cukup jauh dari rumahku. Butuh waktu paling tidak satu setengah sampai dua jam untuk sampai di sini. 
Subhanallah... rasanya rindu sekali.


***


Bermula dari undangan yang kudapat dari adik kelas tentang pertemuan alumni di dekat masjid kampus. Hmm, undangannya sudah lama datang, tapi justru itu, aku malah jadi lupa. Yah, pagi itu, aku membuka SMS yang telat masuk. ”Kak, ditunggu ya” Aku pun baru sadar, oh ya ada pertemuan itu, duuuh, aku lupa memperbarui kalender dindingku, pantas saja terlewat.

Ketika menerima SMS itu aku sedang berada di sebuah toko buku yang bersebelahan dengan kantor tempat aku mengambil pekerjaan. Akhirnya, aku coba meng-SMS dan menelepon. Rupanya masih ada pertemuan lanjutan yang bisa kuhadiri.

”Insya Allah, paling lama 1 jam aku sampai sana” ujarku mantap. Rasa bersalah juga membiarkan Hp penuh dengan pesan dan tak menghapusnya.

Bus dan mobil berlalu lalang di hadapanku, tapi tak satu jua bus jurusan tujuanku lewat. Pokoknya, lima belas menit lagi, kalau ga ada, aku pilih lewat pasar minggu atau pulang. Tak lupa aku SMS adik kelasku, kalau memang kelamaan, tak perlu menunggu aku dan aku minta dia mentransfer apa isi pertemuan hari itu. Ahamdulillah, bus itu datang.

Akhirnya, kupijakkan kaki ini lagi di sebuah kota yang memberi warna dalam hidupku. Tempat yang menjadi saksi banyak kisah yang menjadi momentum perubahanku.

Aku susuri jalan yang tampak ramai, berbeda sekali dengan keadaan di tahun pertama aku kuliah, 8 tahun lalu. Aku masuki gang Kapuk. Di sini aku pernah ngekos. Kosanku yang kedua. Aku hanya bertahan sebentar. Padahal aku sudah bayar kos 2 bulan. Di sini nyaman, enak, makan dua kali sehari disediakan, pakaian dicucikan dan fasilitas lengkap. Tapi, justru itu, aku merasa bersalah telah menghamburkan uangku untuk kos yang bagi keluarga kami sangat eksklusif ini. Belum lagi, jumlah penghuninya yang banyak. Ada dua kubu. Anak atas dan anak bawah. Fiyuh... aku tak merasa menyesal ke luar dari sana.

Belok ke kanan dan bertemu sebuah stasiun yang selalu ramai. Aku kembali teringat memori masa lalu. Di tempat ini seorang sahabat mengabarkan kalau aku dicalonkan menjadi ketua Musola Putri Jurusan ketika menginjak semester 3. Saat itu aku masih "bau kencur" dalam dunia dakwah kampus. Apa harapan mereka terhadap aku yang masih banyak kekurangan ini. Hingga akhirnya memilih sebuah jalan indah untk menuai kisah baru. Mungkin jalan yang belum pernah aku pikirkan ketika beranjak dewasa.

Aku langkahkan kaki, menyebrangi rel kereta sambil melihat kanan dan kiri. Terus berjalan hingga kulewati danau yang luas. Ada banyak orang yang bersantai di sana. orang-orang sekitar kampus yang sedang berpiknik, sekelompok mahasiswa, hingga orang-orang yang memancing ikan di pojokan.

Aku SMS adik kelasku dan menanyakan lokasi tempat pertemuan kami. ”Selasar kiri” tempat yang sering dipakai ketika ada pertemuan-pertemuan di masa kuliah dulu. Aku dapati wajah-wajah adik-adik kelasku di sana. Menyambutku dengan senyuman dan sapa. Alhamdulillah, entah kenapa rasanya aku memang sangat merindukan mereka. Wajah-wajah muda, penuh semangat. Seperti wajahku di kala aku masih kuliah dulu...

Aaah, andai aku bisa melihat masa lalu. Ingin rasanya kurasakan lagi masa-masa itu. Masa yang tak pernah terlupakan. Masa ketika ghirohku mempelajari Islam begitu tinggi. Hingga aku hampir terpleset pada sebuah aliran sesat tanpa aku ketahui sebelumnya hingga aku mulai dibukakan mata. Saat itu juga adalah masa ketika aku mulai memerhatikan cara berpakaianku hingga menyadari kalau selama ini aku telah salah mengartikan hijab dan mulai merapikannya. Di sini, terlalu banyak yang terjadi hingga selalu kurindukan...


Ya Allah cinta yang membawaku ada di sini...
Kecintaanku kepada-Mu-lah yang membawaku kembali. 
Cinta juga yang membawa hati dan perasaanku untuk ada di sini. 
Jauh dari tempat baruku. Jauh dari segala aktivitasku yang berbau dunia. 
Cintaku kepada keberlangsungan dakwah yang mengajakku untuk ada di sini... 
Mudahkanlah urusanku untuk meniti lagi jalan menuju cinta kepada-Mu. Amiin

Http://akunovi.multiply.com/
readmore »»