. TKA TPA AL BANNA [ انسان مسلم ]: 03/19/12
Have an account?

Senin, 19 Maret 2012

It's Amazing Right?


Oleh Kiptiah
Sungguh menakjubkan jika kita merasa hanya sendiri saja ketika segala masalah menerpa padahal sejatinya kita tak sendiri. Ketika kita ingin orang lain tahu bahwa kita sedang bermasalah, bahwa kita ingin di dengar, ingin di perhatikan.You know what ?? Ada Allah di dekat kita yang sering tak di sadari, banyak pertolonganNya yang singgah, tepat pada saat kita berucap Alhamdulillah bahwa Dia telah memeluk kita dengan cintaNya dan membantu kita menyelesaikan masalah kita. It’s amazing right ??
Bahwa dengan hadirnya seorang pendengar yang baik, yang mau mendengar keluh kesah kita adalah perantara Allah untuk menolong kita. Bahwa dengan adanya ucapan-ucapan berupa nasehat adalah perantara Allah untuk mengingatkan kita.
Kita tidak sendiri, memang tidak sendiri. Bahkan jika nanti kita mati dan sendiri di alam kubur, akan ada amal shalih yang menemani. Kita tidak pernah sendiri, selama masih ada kebaikan yang tersebar. Selama masih ada telinga yang ingin lebih banyak mendengar. Selama masih ada tangan yang terulur. Maka kita tidak pernah sendiri. It's amazing right ??
Seorang muslim jika merasa sendiri, maka yakin ada Allah yang menemani. Zikir saja, resapi dalam-dalam. Rasakan kehadiranNya turut membantu kita menyelesaikan segala tugas dan persoalan hidup.
Semua terasa ringan bila Allah ada di sisi. Semua akan bernilai ibadah jika menghadirkan Allah dalam niat kita. Meskipun akan ada pihak yang di korbankan tapi jika untuk kebaikan dan untuk mencari keridhoan Illahi, semoga Allah memudahkan segala jalan untuk kebaikan.
Ya, hanya dengan Allah. Tidak perlu repot-repot mencari kesana-sini jalan keluar dari permasalahan. Sapa saja Allah, biarkan Allah menunjukkan jalannya.
Mungkin semua adalah proses. Proses menuju keyakinan bahwa Allah adalah segalanya. TanpaNya kita lemah tak berdaya.
Malu rasanya jika kita meratapi nasib yang kita hadapi sementara di tempat lain banyak orang yang tetap tersenyum meskipun Allah memberinya banyak kekurangan. Hebatnya mereka adalah keyakinan yang terpatri bahwa Allah bersama mereka. Beban mereka terasa ringan. Rasa syukur yang selalu di hadirkan. Dunia bukan penghalang untuk jalan akhirat yang panjang membentang.
It’s so amazing.. with Allah …
Semoga kita selalu dapat merasakan sesuatu yang amazing bersama Allah. Apapun kondisinya. Merasai keindahan takdir Allah.
InsyaAllah
Allahua’lam

readmore »»  

Kesalahan Orang Lain Untuk Pembelajaran Kita


Oleh Halimah
Hidup ini memang sebuah misteri. Kita tak tahu awal dan akhirnya, tak tahu apa yang akan kita hadapi hari ini atau pun besok? Kita sendiri tak tahu apakah kita masih bisa tersenyum di menit berikutnya? Misteri kehidupan yang bila tak di sandingkan dengan keimananan yang kokoh akan membuat kita labil dalam setiap keputusan yang akan kita genggam.
Kadang kita tak mengetahui, apa sebuah sebab terjadi. Atau apa sebab adanya sebuah kejadian yang kita tak inginkan. Keinginan untuk selalu survive dalam sebuah komunitas sosial yang beragam memang dibutuhkan kecerdasan, yang tentu saja harus bisa didapatkan bila kita dapat memaknai sebuah persoalan.
Kata persoalan, seringkali ngin kita hindari. Kita ingin selalu dalam keadaan aman dan tenang dalam meniti hari. Hari-hari yang ingin selalu beraroma sesuai apa yang kita inginkan. Jika bisa, kita sebagai penentu kehidupan ini, karena kita seringkali bermasalah pada diri sendiri. Padahal di setiap masalah ada sebuah hidayah bisa yang kita dapat, bila kita jeli dalam memaknainya. Sebuah kejelian yang harus ada, bila ingin merasakan hidup yang penuh hikmah. Hikmah yang di dapat akan berakhir pada sebuah kesyukuran pada sang Pencipta Kehidupan alam semesta ini.
Hikmah kehidupan selalu ada disetiap gerak hidup ini. Kadang hikmah itu ada yang terlalu nampak untuk di cermati, tapi tak jarang kita harus punya ilmu yang cukup, baru dapat menangkap sebuah sinyal yang ada di dalam sebuah persoalan. Semuanya terpulang pada diri kita sendiri. Apakah kita hanya selalu menerima apapun, atau kita ingin selalu tahu apa sebenarnya makna di setiap persoalan yang kita hadapi atau orang lain hadapi. Yah… Semuanya tergantung pada diri kita!
Berpulang pada keinginan itulah, maka kita akan merasakan nikmat tersendiri bila menemui sebuah persoalan. Yang kadang persoalan itu datagnya dari orang lain. Persoalan yang dibuat orang lain yang menurut kita, adalah merugikan kita. Biasanya, bila kita merasa dirugikan orang lain kita akan bereaksi negatife dengan berbagai cara. Misalnya : Saat kita ingin sekolah, tapi keuangan keluarga tak menucukupi. Jangan bersedih bila ada saja komentar : “Miskin, kok mau sekolah tinggi!” Tentu saja nada ini akan membuat panas telinga, dan membuat kita bersedih hati. “Kenapa orang itu berucap demikian? Bantuin kita juga nggak, tapi kata-katanya sangat menghancurkan hati!”
Pada persoalan ini, kita dapat memetik hikmahnya. “Bila aku kaya, aku tak akan berbuat seperti apa yang telah menimpaku!”. Nah, intisarinya kita dapat memetik sebuah pembelajaran, bahwa alangkah tidak enaknya bila sudah tidak dibantu tapi malah dikata-katain lagi! Jadi, hal itu jangan membuat kita mengulangi sikap minus orang pada kita, bila kita menjadi orang yang berada.
Saat-saat kita masih dalam asuhan orangtua, seringkali kita dihadapkan pada situasi yang membuat hati memanas. Kadang orangtua tidak punya ilmu yang membuat kita nyaman. Maksud saya, orangtua seringkali membandingkan-bandingkan antara satu anak dengan anak yang lainnya. Padahal, itu adalah hal yang sangat mengganggu pikiran kita. “Kenapa sih, kamu tidak sepintar kakakmu?” Hal ini seringkali terjadi, bila orangtua punya alasan agar anak yang bodoh ini termotivasi untuk menjadi seperti kakaknya. Dia lupa, setiap anak punya hal istimewa yang tidak sama antara anak yang satu dengan yang lainnya, walaupun mereka bersaudara. Untuk hikmah ini, dapat kita ambil pembelajaran : “Bila aku punya anak, aku tak akan berbuat seperti apa yang di perbuat oleh orangtuaku!” Jadi, setelah kita merasakan ketidak nyamanan dengan sebuah persoalan, bukan berarti stop sampai disitu! Tapi, ambillah sebuah nilai plus didalamnya, agar di masa mendatang kita lebih punya ilmu dan wawasan untuk tidak mengulang kesalahan orang lain.
Saat kita sakit misalnya, kita sangat membutuhkan sentuhan hangat dari sekeliling kita. Kita tidak hanya memerlukan obat dan nasehat, tapi seringkali kita memerlukan sebuah pijitan atau sapaan yang menghangatkan hati. Kadang orang lain tak tahu, bagaimana menjenguk si sakit. Mereka hanya datang, menanyakan khabar dan membawakan kue. Padahal kita memerlukan lebih dari itu, yaitu sebuah sentuhan. Misalnya : Saat mereka datang, kita ingin rasanya di pijat kaki, karena kaki kita terasa kram semua. Atau kita juga ingin di pijat kepala karena kita merasa pusing. Bila seseorang yang merasa dekat pada kita, maka tentu saja dia akan tahu kebutuhan kita saat itu. Kedatangan mereka yang disertai sentuhan hangat, tentu akan mengurangi rasa sakit yang menimpa kita. Jadi ini juga bisa jadi pembelajaran, bila kita menjenguk teman yang sakit, jangan hanya datang untuk ber-say hello tapi, sentuhlah dia dengan tangan maupun dengan hati. Karena kita akan tahu, bila yang datang benar-benar murni perhatian sama kita atau hanya sekedar memenuhi absensi pertemanan. Iya nggak?!
Pernah nggak di bohongin orang lain? Pasti pernah khan?! Demikian juga saya. Saya pernah berdagang baju secara kredit untuk beberapa tahun. Pada saat berdagang itulah, akhirnya mataku terbuka lebar tentang orang-orang di sekelilingku. Banyak sekali, yang berpenampilan mewah dan up to date tapi…, untuk urusan bayar cicilan mereka selalu menghindariku! Tentu saja saya seringkali mangkel! Masa, seringkali saya yang malu bila berpapasan di jalan, karena mereka selalu menghindari bayar utangnya dan akhirnya sengaja melupakannya. Saya memang bertype pemalu dalam urusan tagihan utang. Bila mereka sudah tiga kali di tagih, maka terserah merekalah! Untuk persoalan ini, maka saya mengambil hikmahnya. Jangan suka mengikuti hawa nafsu dalam berbusana maupun mempercantik rumah, bila semuanya harus di penuhi dengan cicilan! Karena kemauan ingin di bilang “wah” akhirnya menjerumuskan mereka pada utang yang melilit. Hingga beristilah ambil utang untuk menutup utang yang lama. Atau gali lobang tutup lobang, gitu lho…
Sebenarnya sungguh banyak contoh yang lainnya, tapi cukuplah hanya itu yang dapat saya paparkan di sini. Agar setiap persoalan yang kita hadapi tetap dapat membuat kita tetap nyaman dan menambah wawasan kehidupan kita.
( Tulisan ini saya buat untuk pengingat diriku , yang seringkali melupakan hikmah yang seharusnya dapat di petik! )
Halimah Taslima
Forum Lingkar Pena ( FLP ) Cab. Sengata
halimahtaslima@gmail.com

readmore »»  

Sabar + Sadar = Lancar


Macet lagi, macet lagi!
Bagi sahabat yang tinggal di kota besar seperti Jakarta, macet adalah hal yang biasa. Bahkan di beberapa lokasi, kemacetan sudah menjadi pemandangan sehari-hari.
Sayangnya, kemacetan seperti di Jakarta juga sering terjadi di Tangerang. Jika dulu hanya melihat dari tayangan berita di televisi, kini aku sering mengalami sendiri. Seperti tadi pagi, sudah tiga kali dalam minggu ini aku terjebak dalam kemacetan. Entah apa yang terjadi di depan sana, lebih dari lima belas menit motorku nyaris tak bergerak. Maju tak bisa, mundur atau berputar arahpun sama saja.
“Ini pasti ulah sopir-sopir angkot lagi!”
Seorang pengendara sepeda motor di sampingku mendengus kesal. Aku menduga ia sudah terlambat masuk kerja.
Aku bergeming, tak berkomentar. Apa yang ia katakan bisa jadi benar, tapi bisa juga salah. Kemacetan semacam ini kadang memang disebabkan oleh ulah beberapa supir angkutan kota yang tidak bertanggung jawab. Berhenti, mangkal, dan berputar arah di sembarang tempat. Tapi itu bukan satu-satunya penyebab kemacetan, masih ada kemungkinan lain seperti para pengendara motor yang tidak disiplin. Memaksa menyelusup di sela-sela angkot atau mobil, juga bisa jadi penyebab dan memperparah kemacetan.
Apapun dan siapapun yang menjadi penyebab kemacetan, yang jelas banyak pihak yang kemudian dirugikan. Karenanya, berbagai upayapun terus dilakukan untuk mengurai dan mengurangi tingkat kemacetan. Diantaranya dengan membuka jalur baru, pemberlakuan sistem buka tutup hingga menambah jumlah petugas dari kepolisian di titik-titik yang rawan kemacetan. Tapi dari berbagai upaya yang telah dilakukan, kemacetan masih saja sering terjadi. Selain jumlah kendaraan yang terus meningkat, mental para pengguna jalan yang tidak disiplin, tidak patuh pada aturan menyebabkan kemacetan selalu sulit diatasi.
Kesabaran dan kesadaran berlalu lintas sangat diperlukan demi kelancaran, kenyamanan dan keselamatan di jalan.
Kemacetan bisa diatasi atau setidaknya dikurangi apabila setiap pengguna jalan sama-sama sabar dan sadar. Sabar mengantri, menunggu giliran dan rela mengalah demi kelancaran bersama. Sadar bahwa jalan yang kita lewati adalah milik umum, maka menghormati sesama pengguna jalan adalah sebuah kewajiban.
Setiap pengguna jalan ingin segera sampai di tempat tujuan dengan selamat dan tepat waktu. Tapi tidak setiap pengguna jalan mau mengantri, rela mengalah demi kelancaran, kenyamanan dan keselamatan bersama. Seolah tak ada yang lebih penting melebihi kepentingannya. Tak ada yang pantas didahulukan selain dirinya.
Jalan yang kita lewati memang bukan milik nenek moyang mereka, tapi bukan pula milik kakek moyang kita. Karenanya kita harus sadar bahwa setiap pengguna jalan memiliki hak dan kewajiban yang sama. Juga sadar bahwa peraturan lalu lintas dibuat untuk kelancaran, keselamatan, keamanan dan kenyamanan bersama, bukan sekedar hiasan, bukan pula untuk dilanggar.
Jika berbagai upaya telah pemerintah lakukan untuk mengatasi kemacetan namun belum menunjukan hasil yang memuaskan,mari kita budayakan sabar dan sadar berlalu lintas agar terwujud kelancaran, kenyamanan dan keselamatan di jalan.
Dan diumpamakan perjalanan, hidup ini juga kadang tersendat, terhenti sesaat oleh datangnya sebuah ujian atau cobaan. Banyak hal yang menjadi penyebabnya, namun intinya sama bahwa kita harus bisa melewatinya, mengatasinya. Dan agar hidup ini tetap berjalan dengan lancar, aman dan selamat, sabar dan sadar sangatlah diperlukan. Sabar atas ujian yang datang, dan sadar bahwa semua itu terjadi atas ijin dan kehendak Allah, dengan satu tujuan. Allah tak memberikan ujian diluar batas kemampuan. Sabar dalam berikhtiar dan sadar bahwa yang kita lakukan adalah sudah benar dan sesuai yang Allah perintahkan.
Jadi, mari kita upayakan untuk selalu sabar dan sadar dalam mengatasi berbagai persoalan.
readmore »»  

Belum Siap Pakai Jilbab?


Oleh Hen And
Di jaman yang sudah maju seperti ini, banyak busana yang bagus-bagus sesuai dengan trend di pasaran. Kita bisa dapatkan busana-busana itu di mall, boutique, bahkan di pasar tradisional sekalipun. Tapi apakah busana–busana itu sesuai dengan syariat Islam?
Pertanyaan inilah yang harus direnungkan oleh para muslimah, dan tidak cukup sebagai bahan 'renungan' saja, tapi kita harus melakukan sesuatu yang membawa kita kepada kebaikan. Sering terdengar celotehan dari banyak remaja muslim cewek yang berkata “aku belum siap pake jilbab nih.., mendingan jilbabin dulu hatinya biar tingkah lakunya sesuai dengan jilbab yang dipake, baru deh pake jilbab beneran!” astagfirullah…..
Kewajiban memakai Jilbab sudah jelas di dalam Al-Qur’an Surat An-Nur Ayat 31 :
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS Annuur: 31)
Pada ayat tersebut, Allah SWT sudah tegas menjelaskan kewajiban para muslimah untuk memakai jilbab. Tutup aurat sesuai dengan Syariat Islam !
Kenapa ya, ko banyak muslimah yang takut pake jilbab dengan alasan belum siap? mereka takut kalau dibilang kok sikapnya tidak mencerminakan seperti jilbab yang dipakainya? Kalau tidak siap, terus kapan mulai siapnya? kalau harus takut, kapan ada perubahan yang lebih baik untuk diri kita? sehingga kewajiban yang harus dilakukan jadi terhalangi gara-gara mikirin perkataan orang, rasa takut, dan ketidaksiapan. Ga usah mikirin perkataan orang.... kalau itu sebuah kewajiban yang harus ditunaikan! diniatkan saja untuk segera melakukannya, bismillah…! Kemudahan akan menyertai kita karena yang kita lakukan adalah hal yang benar dan wajib…!
Dengan jilbab… akan mengerem tingkah laku kita dari hal yang negative. Akan ada penyadaran diri pada kita untuk selalu bertingkah laku positif.. ”masa sih aku sudah pakejilbab tapi tingkah lakuku masih negative?”. Dengan jilbab, sebagai seorang muslimah telah menjaga kehormatan dirinya. Harusnya kita bangga sebagai muslimah, karena hanya Islamlah yang memuliakan perempuan. Kewajiban berjilbab bagi muslimah adalah aturan yang telah Allah SWT tetapkan dengan segala manfaat di dalamnya. Dengan jilbab yang syar'i sesungguhnya Allah SWT berkehendak dengan memuliakan manusia sebagai mahluk yang yang mulia. Sebaliknya, seorang wanita muslim dengan tidak berpenampilan mengikuti aturan-Nya, maka akibatnya kedudukan manusia terjatuh.
Seorang muslimah wajib mengetahui aturan berpakaian dan berpenampilan yang syar'i agar mendapatkan ridha Allah SWT, bukan sebaliknya melakukan tabarujj yang tidak disukai-Nya.
So masihkah belum siap untuk berjilbab sesuai Syariat Islam?
Tulisan ini memacu kita untuk melakukan hal yang baik, yang sudah Allah terapkan dalam aturan-Nya untuk kita sebagai muslimah. Mudah-mudahan menjadi motivasi untuk diriku sendiri dan para pembaca semua, supaya kita menjadi muslimah yang shalihah. Amiin.....
http://www.ummughiyas.blogspot.com/
readmore »»  

Pelajaran dari Ibu


Oleh Nooviyanti U
“Bu, tanggal 10, ya” ujarku hari itu setelah mencari-cari tanggal untuk pertemuan komunitas teman-teman yang suka menulis dan membaca. Ibu pun menyanggupi dengan senang hati tanpa ada keberatan sama sekali. Kami pun mulai membuat menu makanan dan apa saja yang harus dibeli dan dimasak. Aku mengusulkan makanan sederhana saja dan tidak berlebihan. Ibu pun menyetujuinya. Aku mendapat bagian untuk membeli kue di toko dan juga pabrik kue di dekat rumah. Membeli beberapa jenis camilan dan memesan kue favorit. Ibu sudah berbelanja dan siap memasak untuk tanggal 10.
Alhamdulillah, acara berlangsung lancar dengan satu komitmen untuk terus berkarya dan selalu menjalin silaturahim. Selepas teman-teman kembali ke rumahnya kami pun mulai membereskan kembali ruang tamu dan makanan yang tersisa.
Satu wajah lelah yang penuh senyum adalah ibu. Beliau dengan tulus, memfasilitasi pertemuan di hari itu. Ibu memasak, menyiapkan segala jenis yang diperlukan, memesan minuman, dan mengomandai khadimat di rumah. Semua bisa teratasi dengan sikap dan dukungan ibu atas kegiatan-kegiatanku. Ini bukanlah kali pertamanya ada acara di rumahku. Sudah beberapa momen diadakan acara di rumah yang sederhana ini. Dari dulu, rumah ini tak pernah sepi dari orang yang berkunjung. Tak jarang juga ada banyak acara yang diadakan. Dari mulai acara syukuran, akikahan, pengajian, buka puasa bersama, pertemuan penulis, arisan dan banyak lagi.
Ibu tak pernah merasa lelah ketika salah satu dari kami meminta tolong beliau ketika ada acara di rumah. Beliau malah sangat antusias dan memfaslitasi segala hal. Ketika ada kelebihan uang, ibu membeli karpet, tempat sop, beberapa lusin piring dalam beberapa kesempatan. Aku kadang bertanya buat apa barang-barang tersebut. Ibu pun menjawab, kalau ada acara di rumah, barang-barang tersebut bisa digunakan. Beliau pun juga bercerita kalau merasa dimuliakan sebagai tamu ketika mendatangi sebuah acara dan ingin melakukan hal itu juga.
Dari kecil ibu telah diajarkan oleh mbah putri untuk selalu memuliakan tamu dalam berbagai kesempatan. Selalu menyediakan suguhan ketika ada tamu. Entah itu secangkir teh atau segelas air putih. Tak jarang juga menyuruh ikut makan bersama kami, membelikan makanan atau memesan makanan via telepon apabila ada tamu mendadak. Seorang teman pernah sungkan untuk ke rumah ketika beberapa kesempatan dia selalu makan di rumah. Padahal, kami sama sekali tak bermaksud membuat dia malu. Yah, ibu tak akan pernah lupa menawarkan makanan. Tak jarang menyediakan langsung di meja atau memanggil tukang dagangan yang lewat rumah.
Pernah suatu kali ketika aku mengadakan pengajian untuk kelompok mentoring, ibu terlihat terburu-buru. Ketika aku tanya, beliau ingin membelikan kue untuk kami. Aku hanya tersenyum sambil mengatakan kalau aku sudah membeli kue dengan salah satu binaanku. Aku tak pernah meminta ibu berlaku demikian, tapi beliau tak pernah berhenti. Jadi, tak jarang ketika aku katakan kalau aku akan mengadakan acara atau pengajian kelompok, beliau akan membuat minuman, membeli kudapan di pasar dan menyiapkan tempat. Duh, ibu...
Salah satu pelajaran dari ibu yang akan aku pegang untuk selalu memuliakan tamu.

http://akunovi.multiply.com/
http://novikhansa.wordpress.com/
readmore »»  

All Time Confrontation


Oleh Anindya Sugiyarto
Pernahkah merasa berat ketika ingin menuju sebuah majelis ilmu? Entah itu merasa sibuk tiada waktu, tidak pede menjadi orang baik, atau tak ada dana untuk menuju kesana? Namun disisi yang lain merasa sangat butuh karena mungkin memang tuntutan profesi, memang takut kepada Allah, ingin menjadi baik dsb.
Ya memang itulah hawa nafsu dan hati nurani terus berperang dalam diri. Ketika kita bisa memenangkan opsi hati nurani maka beruntunglah kita. Namun ketika hawa nafsu yang kita menangkan maka seandainya itu adalah bentuk menghadiri sebuah majelis ilmu, maka setan akan meletakkan berbagai macam halangan untuk pertemuan berikutnya.
Dengan halangan yang sekecil-kecilnya, pada tingkatan yang parah, bahkan pada akhirnya tanpa halangan pun kita enggan hadir, karena yang terjadi sudah sampai kepada penolakan hadir.
Ya itulah “All Time Confrontation” (tempat Pertempuran yang kontinyu) Karena setiap manusia telah di berikan dua potensi fujur dan taqwa.
Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya”(As Syams 7-8).
Dan sebenarnya fujur itu menuju hawa nafsu sedangkan taqwa itulah hati nurani yang sebenarnya. Oleh karenanya setiap kefujuran akan membawa keburukan sedangkan ketakwaan akan membawa kebaikan.
Allah telah memberikan pertanda itu semua dalam firmanNya dalam surat Al Balad (90:10)
Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebaikan dan kejahatan)” “Dan Aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali(nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang”(QS Yusuf:53)
Dan kita tahu bahwa keberuntungan hanya berpihak pada kebaikan serta sebaliknya merugi merupakan hasil dari perbuatan yang buruk. Allah sendiri berfirman dalam Al Qur an surat As Syams (91:9-10) “sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya”.
Karena pertempuran itulah kita harus mensucikan jiwa, sehingga kita dapat membaca peta yang diberikan Allah yaitu Al Qur an dan Hadits(Sunnah Rasulullah). Sehingga kebahagiaan dunia akhiratlah yang kita dapat Insya Allah.
Kembali ke problema galau diatas, ketika diri-diri ini merasa berat menuju majelis ilmu anggaplah halangan-halangan yang kita rasakan hanyalah temporal dan kondisional, yang menguji diri kita, teguh atau tidak, maka jangan terpengaruh oleh alas an apapun, yang kecil atau yang besar. Kembalikan tujuan kita semula niat ikhlas karena Allah, di ikuti banyak berdoa kepada Allah, dan tsabat yaitu tidak mudah putus asa.
Tak banyak kata yang akan saya sampaikan cukuplah sabda Rasulullah saw, "Apabila kamu melewati taman-taman Surga, maka minumlah dengan puas." Para Sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, apa yang dimaksud taman-taman Surga itu?" Nabi saw menjawab, "Majelis-majelis taklim(ilmu)." (HR. Ath-Thabari).
Wallahu a’lam bishawwab..
Maraji’:
1. Al Qur an dan Terjemahnya
2. Kajian Tazkiyatun Nafs oleh ust Wachid Rahman
3. Pedoman Dauroh Al Quran
4. Notes Jangan pernah puas untuk Ilmu(dien)
readmore »»