
Oleh Anisa
Bunyi getar hp di meja membangunkanku dari kantuk yang menggelanyut di mataku. Kuraih hpku dan kulihat sebuah nama tertera dalam sms masuk.
Ass. Anisa yang sholihah, kaifa khaluk? Alhamdulillah suratmu yang panjang banget kae wis tak tampa. Stl baca suratmu aku juga banyak berpikir&merenung tentang hidup yang kujalani. Ternyata qt gak boleh jadi makhluk yang merasa paling menderita di dunia. Hidup ini harus qt jalani dengan penuh rasa syukur&sabar. Itu saja. Sa, aku jadi pengen gawe cerita tentang hidupku tapi bingung juga harus mulai darimana. Tapi tau gak akhir-akhir iki kok jadi smangatku turun ya terutama dalam ibadah pie ki? Rasane wis butuh dicas dengan sesuatu yang menggugah jiwa. Ada resep ga?
Bunyi sms itu begitu meluluhlantakkan perasaanku. Sms itu bukan sekedar sms dari seorang teman, melainkan sms dari sahabat yang sudah seperti saudaraku sendiri. Sudah hampir 13 tahun kami bersahabat, mulai dari waktu masih kuliah sampai sekarang ketika kami sama-sama sudah berkeluarga. Dia, sahabat yang kupercaya. Saking percayanya aku berani mencurahkan segenap duka yang kurasakan. Sebuah duka yang selama ini hanya aku bagi dengan suamiku.
Memang aku tidak mengharapkan sebuah jawaban dari kisah hidup yang kukirimkan. Aku hanya butuh penyaluran. Aku butuh didengarkan. Kalau gak salah dalam bahasa psikologi namanya katarsis.
Bukannya tak ingin aku bertemu dengannya, berkunjung ke kota di mana dia tinggal, akan tetapi kesempatan itu belum ada. Jadilah kemarin itu surat yang menggantikan kehadiranku di sana. Dan ketika akan kubalas smsnya, aku speechless. Lidahku kelu, serasa ada kawat-kawat lembut yang membelenggunya. Aku bingung harus mulai membalas dari mana.
Apakah ada sebagian duka yang terangkat ketika aku menceritakannya? Jawabnya, iya. Ini terbukti dari binar yang perlahan datang kembali menggantikan redup mataku. Binar ceria yang ditangkap tidak hanya oleh suamiku tetapi juga oleh orang-orang disekelilingku.
Mungkin memang benar adanya apa yang dikatakan oleh teori psikologi, bahwa seringkali kita membutuhkan sebuah penyaluran untuk beban yang kita pendam.Dan kurasa tak salah jika aku memilih bercerita pada suamiku dan pada sahabatku tentang apa yang kurasakan. Dengan mengakui perasaan ini, perlahan beban pun akan terangkat.
Dan ternyata benar, sahabatku bisa menangkap apa yang kuceritakan dalam surat. Dia bisa menangkap bagaimana dukaku, termasuk perasaanku di saat itu. Bagaimana aku tidak merasa menderita, jika dalam waktu 10 bulan pernikahan kami aku mengalami 2 kali keguguran. Bahkan keguguran yang pertama terjadi saat kandunganku berumur 16 minggu. Yah, itulah perasaanku setidaknya sampai Desember 2007 kemarin.
Aku tahu ada yang salah dengan diriku. Aku tak kunjung bisa pasrah. Aku tak kunjung bisa bangkit kembali. Padahal suamiku sudah sedemikian mendukungku. Aku pun mencari dan terus mencari jalan supaya aku bisa bangkit. Kubaca buku, kuperbanyak silaturahmi, kembali mendengarkan taushiyah, dll.
Sebenarnya, suamiku juga banyak mendukung. Dia banyak mengajakku silaturahmi ke orang-orang yang jauh lebih tidak beruntung dari aku. Katanya, biar aku merasa bersyukur dan biar aku nggak merasa sedih lagi.
Aku memang merasa keimananku naik turun nggak karuan. Aku juga sempat merasakan semangatku beribadah menurun. Bahkan sempat beberapa hari nggak tilawah. Hanya sholat wajib yang kujalankan. Tapi alhamdulillah ada suami yang bisa sedikit banyak mengontrolku. Mengajakku tetap berdoa bersama mohon kesembuhan dari sakit dan duka ini. Dia terus mengajakku agar tetap bersyukur dan tidak pernah putus asa.
Dan ketika aku hendak membalas sms dari sahabatku di atas, aku berpikir. Apa yang sekarang kurasakan? Adakah aku masih merasa menjadi orang yang paling menderita sedunia? Hahaha. Harus kuakui, kadang aku masih merasa menderita, terutama ketika teman-teman dekatku hamil. Tapi itupun tidak lama, buru-buru aku ajak suamiku sholat dan berdoa sama Allah, supaya mengizinkanku hamil lagi. Biasanya, sesudah berdoa bersama dan suamiku memelukku erat, aku bisa kembali ceria. Yah setidaknya sudah ada kemajuan pada perbaikan ‘mental’ku.
Memang benar adanya bahwa hidup ini harus di jalani dengan penuh rasa syukur&sabar. Itulah ajaibnya seorang mukmin. Ya kan? Hanya saja memang aku masih tertatih dan terseok untuk bisa menuju ke arah sana. Kalau suamiku berkomentar, “yah lebih baik tertatih dan terseok tapi terus maju pantang mundur!”
Lalu, gimana kalau sahabatku nun jauh di sana ingin membuat cerita tentang hidupnya?
Kalau masalah mulai darimana? Yah mulai saja menulis. Apa saja, nggak usah terlalu dipikir tekniknya. Kalau kita-kita yang baru pemula, yang penting adalah menulis dan menulis. Latihan terus menuangkan ide dan perasaan. Tuangkan semuanya seperti kata orang bijak, show it, don’t tell it (bener gak yaaaa…J)
Sebenarnya banyak banget manfaat dari menulis. Kalau boleh dibilang, menulis itu mencerdaskan kita. Menulis akan membuka wawasan kita dan menyehatkan batin kita. Apalagi kalau tulisan itu penuh hikmah dan bisa dimanfaatkan tidak hanya buat kita sendiri melainkan buat orang lain juga.
Jadi saranku, menulislah. Aku juga berusaha keras untuk menulis walau masih belum bisa konsisten. Aku masih adaptasi waktu dengan suami. Hehehe. Itu istilah yang diucapkan salah satu teman pengajianku, waktu dia melihat aku benar-benar mengurangi aktivitas sesudah menikah.
Trus yang terakhir, tentang semangat ibadah yang turun. Kayaknya memang kita harus punya lingkungan yang kondusif untuk keimanan kita. Sahabatku masih punya teman liqo, tapi aku? Aku memang belum ikut liqo lagi, tapi aku masih keep in contact dengan mereka semua. Bertemu dengan mereka? Duh, aku keluar rumah saja agak susah kalo nggak ke tempat kerja. Jadinya aku yang berusaha rutin menghubungi mereka, atau ngajak ketemuan saat makan siang di dekat tempat kerja. Minimal sms lah berkabar.
Tapi jangan salah, walaupun dalam hal kebaikan, kalau monoton dan nggak ada variasi, kita bisa jenuh juga. Mungkin sahabatku sedang mengalami kejenuhan ini. Kalau ditanya resepnya, apa ya?
Coba aku ingat-ingat dulu. Kalau semangat ibadahku menurun apa yang kulakukan? Pertama, aku akan bercerita ke suami. Lalu kedua, aku akan menuliskan perasaanku di catatan harianku. Kutulis sejelas-jelasnya tentang apa yang kurasakan. Lalu aku berusaha mencari jalan apa yang harus kulakukan. Aku tuliskan dicatatan harian itu apa saja yang terlintas di benakku.
Terkadang, aku butuh waktu untuk berhenti sehari dari rutinitas. Termasuk rutinitas ibadah. Aku bebaskan diriku sebebas-bebasnya. Ibadah mahdhoh tetap jalan. Tapi mungkin aku mengajak suami sholat jamaah diluar rumah. kalau bosan tilawah dirumah, aku akan mencari tempat lain. Seperti duduk diam di masjid yang nyaman dan tilawah sambil menunggu maghrib atau isya. Atau tilawah di taman yang penuh bunga sambil piknik dengan suami. Trus kalau bosan menghafal surat-surat pendek sendiri, aku sering ngajak suamiku menghafal bareng sambil santai.
Lalu, nggak pakai sayang pulsa, aku sering menghubungi teman-teman yang kuanggap selama ini konsisten dalam ibadah. Memang nggak banyak, tapi setidaknya berbicara dengan mereka dan meminta saran itu jauh lebih baik. Kadang kami nostalgia, mengingat dulu aku menghafal juz amma bertahun-tahun nggak kelar juga. Terus belajar bahasa Arab di mana-mana tapi pengetahuannya mentok nggak nambah-nambah.
Trus apa lagi ya?
Pergi pengajian ke masjid juga bisa menjadi salah satu solusi. Atau pengajian akbar sekalian. Bertemu dengan orang orang baru dan suasana baru kurasa juga bisa menggugah semangat lagi.
Kadang aku juga mengundang teman-teman untuk datang ke rumah, atau menyediakan rumah untuk acara ketemuan dan rapat. Walau pada akhirnya badanku terasa capek, tapi suasana yang terbangun akan membangkitkan semangatku lagi. Dan imbasnya juga sampai ke ibadah.
Trus bisa juga jalan-jalan ke toko buku. Kalau ada dana, aku akan membeli buku. Tapi kalau memang saat itu belum ada dananya, dengan melihat-lihat dan membaca buku yang tidak disampul plastik ternyata lumayan juga. Apalagi sekarang banyak toko buku yang menyediakan tempat duduk biar kita bisa membaca sambil duduk santai. Pulang-pulang jadi lega banget. Dan nggak Cuma lega, biasanya aku juga kemudian terinspirasi untuk menulis.
Dan masih banyak lagi deh.
Mungkin memang fitrohnya manusia yang cepat jenuh dengan hal yang bersifat rutin. Tapi bukan berarti kita merasa sah terjebak dalam kejenuhan itu. Kita kan bisa berusaha mencari celah-celah untuk keluar dari jebakan kejenuhan dan kembali semangat melakukan hal-hal yang positif.
Anisakuffa



0 komentar:
Posting Komentar